Pak AR Sang Penyejuk

Oleh Haedar Nashir

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Siapa kenal Pak AR? AR nama panggilan populer dari Abdul Rozak. Nama lengkapnya Abdur Rozak Fachruddin, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah hampir sepanjang era Orde Baru, dari tahun 1968 sampai 1990. Bagi anggota generasi lama Muhammadiyah dan umat Islam maupun masyarakat umum tentu sangat mengenal sosok satu ini. Kita tidak tahu memori anak-anak generasi milenial, semoga mereka mengenal Pak AR Fachruddin. Sosok bersahaja yang menampilkan aura keteladanan yang alami.

Adalah Syaifudin Simon, seorang penulis yang pernah kos di kediaman tokoh Muhammadiyah ini selama dua tahun (1978-1980), menulis buku tentang figur Pak AR Fachruddin yang menjadi idola ketakjubannya. Judul bukunya menarik sebagaimana dikutip langsung dalam judul tulisan ini, “Pak AR Sang Penyejuk”. Ketua PP Muhammadiyah ini lahir di Yogya tanggal 14 Februari 1916, wafat 17 Maret 1995 setelah memimpin organisasi Islam modern  terbesar selama sekitar 27 tahun. Ulama dan tokoh yang selain dikenal sederhana, yang juga menonjol ialah sikap dan pemikirannya yang santun dan moderat. Sikap tengahannya sangat mewarnai karakter dirinya, dengan tetap kokoh dalam prinsip tetapi luwes dan lembut dalam cara.

Kenapa menjadi Sang Penyejuk? Simon memberi kesaksian berikut ini, “Aku baru sadar, ternyata pengaruh Pak AR luar biasa. Kisah hidupnya yang mengesankan  —sederhana, ikhlas, santun, baik pada semua orang, dan humoris— benar-benar seperti air segar yang menyejukkan jiwa di tengah gersang keteladanan. Umat Islam, baik Muhammadiyah dan NU, ternyata sama-sama merindukan sosok teladan seperti Pak AR. Seorang ulama yang berdakwah tanpa pamrih, bercucur keringat untuk membimbing umat, dan memberikan keteladanan sikap hidup setiap saat.”.

Banyak sisi humanis maupun sikap dan pemikiran Pak AR, yang dinarasikan dengan menarik dalam buku karya Syaeifuddin Simon yang baru terbit ini. Buku hasil kumpulan tulisan yang dipublikasikan terutama melalui media sosial yang cukup lama. Simon yang pada awalnya tidak mengenal Pak AR di mana rumahnya menjadi tempat kos dia selama dua tahun, baru tahu kalau tokohnya itu ternyata orang ternama dan Ketua PP Muhammadiyah. Sosok tokoh yang menurut Ahmad Syafii Maarif disebut tawadhu’, ikhlas, sederhana, zuhud, dan wara’.

Dikisahkan pula bagaimana Pak AR memimpin Muhammadiyah dengan sejuk dan moderat tetapi tetap kokoh dengan prinsip di tengah rezim Orde Baru yang makin lama kian otoriter, termasuk saat-saat kritis sekitar kebijakan Azas Tunggal Pancasila. Buku ini khususnya bagi warga Muhammadiyah layak dibaca, menambah referensi buku-buku Pak AR yang ditulis Drs H Syukriyanto AR, M.Hum, yang juga putra Ketua PP Muhammadiyah yang populer tetapi rendah hati itu. Juga buku lain karya Prof Abdul Munir Mulkhan. Plus film dokumenter sederhana “Meniti 20 Hari” tentang sosok tokoh Muhammadiyah ini.

Penulis artikel ini mengenal Pak AR sejak tahun 1979 akhir ketika pertama merantau ke Yogya sampai akhir hayat beliau tahun 1995. Waktu itu penulis aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) wilayah DIY dan kemudian PP IPM serta di Badan Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Peluang mengenal dan dekat dengan Pak AR maupun tokoh Muhammadiyah lain yang semuanya egaliter sangat terbuka. Pak AR memang bersahaja, rendah hati, dan ramah dengan siapapun. Kepada anak-anak muda biasa menyapa, kadang bercanda ringan. Ketika suatu ketika penulis  —waktu itu bersama Mas Ismail Siregar— mewawancari beliau di kediamannya, Pak AR bertanya santai sambil menyindir, ”wartawan apa hartawan?”. Wah, mana mungkin mahasiswa pejalan kaki seperti kami hartawan. Beliau sangat cair dan lemah lembut tetapi tetap berwibawa serta membuat kita segan dan takzim.

Beruntung penulis sempat mengenal Pak AR Fachruddin tokoh wibawa yang tulus dan bersahaja. Sebagaimana penulis sempat memgenal tokoh Muhammadiyah lainnya di era Pak AR seperti Buya Malik Ahmad, H Djarnawi Hadikusumo, Drs H Lukman Harun,  KH Djindar Tamimy, KH AHmad Azhar Basyir, dan lain-lain. Banyak kearifan dan mutiara-mutiara cerdas yang dapat dijadikan rujukan dalam kehidupan. Selama mengenal Ketua PP Muhammadiyah ini, kita belajar pentingnya hidup secara autentik. Hidup tanpa topeng dan ambisi berlebih melampau kemestian, tetapi tetap bersungguh-sungguh dengan pengkhidmatan yang tulus dan optimal.

Pada posisi ini pemimpin lahir bukan sebagai sosok-sosok instrumental yang gagah perkasa, yang membahana dan menggetarkan jagat raya. Tetapi sebagai figur  apa adanya,  namun sangat kuat selaku role-model  atau suri teladan. Sosok yang membumi, bukan figur di atas langit nan tak tersentuh. Bukan pula sosok penuh mitos dan kultus. Sebuah kehadiran figur yang bersahaja namun memberi inspirasi spiritual tinggi, mengalahkan sosok virtuoso atau keperkasaan Sang Rubah dalam idealisasi kepempinan ala Niccolo Machiavelli.

Apakah sosok Pak AR sebagai Sang Penyejuk masih dirindukan publik saat ini tatkala sebagian ruang sosial kita cenderung didominasi nuansa garang, galak, keras, dan digdaya? Tokoh yang dianggap heroik adalah mereka yang tampil  serba kritis-instrumental, oposan,  dan perkasa. Suatu suasana yang mungkin saja dipandang paradoks dan tidak akan populer, karena sifat sejuk dan moderat dikesankan lemah. Sikap seimbang meski kritis dan menjaga prinsip tetap dipandang lembek, sebab kalah hebat dari tampilan yang serba mengepalkan tangan ke khalayak publik. Meski boleh jadi arus besar masyarakat Indonesia masih tetap berwajah tengahan dan ramah, hanya saja mungkin kalah nyaring oleh suara-suara bising di tengah kegaduhan.

Mas Simon berbagi informasi bagaimana tanggapan publik atas tulisan-tulisannya tentang Pak AR Fachruddin. Tulisan-tulisan dia mengenai sosok PAK AR justru diminati khalayak dari banyak kalangan, bukan hanya dari Muhammadiyah. Ulil Abshar Abdala dari Nahdhatul Ulama termasuk yang meminati. Menurut wartawan Republika Mohammad Subarkah, bahwa tulisan Simon di Republika Online tentang Sang Panyejuk belum sampai hitungan jam dibaca sampai 300.000 orang. Publik rupanya mendambakan sosok-sosok pemimpin yang menyejukkan. Laksana oase di gurun sahara.

Menariknya, Simon mengekspresikan sosok KH AR Fachruddin seputar sikapnya yang menyejukkan dalam untaian narasi puisi. Berikut salah satu bait puisi Bung Simon tentang Pak AR Sang Penyejuk:

“Pak AR,

Kala terik mentari menyengat tubuh

Kau datang membawa cahaya teduh

Kau suguhkan tirta ‘tuk sejukkan jiwa

Manusia gersang yang terpagut nafsu amarah”.

Tulisan ini dimuat di Republika Selasa 13 Juni 2018.


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-14247-detail-pak-ar-sang-penyejuk.html

Aksi Profetis Kiai Dahlan Hasilkan Banyak Kebaikan

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL -- Muhammadiyah lahir bersama spirit penyadaran perubahan nasib, hak sehat, hak cerdas, dan hak memperoleh pendidikan. Sehingga sedari awal usianya, Muhammadiyah menjalin kolaborasi atau taawun dengan berbagai pihak, termasuk dengan kelompok yang berlatarbelakang agama berbeda, Belanda misalnya.

Hal tersebut dipaparkan oleh Abdul Munir Mulkhan, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta pada acara "Seminar Kebangsaan dan Kemuhammadiyahan" pada Kamis (4/4) di Ruang Rapat Pascasarjana UMY.

Menurutnya, semua gerakan sosial yang dilakukan Muhammadiyah bukan untuk mengislamkan semua orang atau memuhammadiyahkan semua muslimin.

"Semua kegiatan dilakukan semata demi pemuliaan martabat manusia, untuk kepentingan kemanusiaan," katanya.

Munir menambahkan, semua hal tersebut adalah buah dari penanaman modal dasar yakni inti teologi Al-Ma'un yang selalu mengajarkan untuk memperjuangkan kepentingan kemanusiaan.

"Semua karena aksi profetis Kiai Dahlan ketika mendirikan Muhammadiyah, sehingga banyak lahir kebaikan. Sekarang, setelah melewati satu abad, semoga organisasi kita tidak kehilangan jangkar pemihakan rakyat kecil, sibuk pada aura kekuasaan atau fasilitas amal usahanya," harap Munir. (nisa)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16286-detail-aksi-profetis-kiai-dahlan-hasilkan-banyak-kebaikan.html

KH. Sudja, Pelopor Spirit Kerja Kemanusiaan

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL --Tokoh-tokoh yang menjadi pejuang Muhammadiyah generasi awal yakni lahir dari trah KH. Hasyim, yakni H. Zaini, Ki Bagus Hadikusumo, KH Fakhruddin dan KH. Sudja. Ke-empat tokoh tersebut menjadi generasi pertama yang ikut berjuang bersama KH. Ahmad Dahlan.

"KH Dahlan, dengan ajaran teologi Al-Ma'un yang diajarkan kepada para muridnya, mampu melahirkan sosok pemikir dan pemimpi yang melampaui batas, salah satunya KH. Sudja", kata Mukti Fajar, cicit dari KH. Sudja dalam acara seminar  "KH. Sudja dan Pemihakan Kaum Mustadh'afin"  pada Kamis (4/4) di Ruang Seminar Pascasarjana UMY.

Mukti menceritakan bahwa KH. Sudja memang bukan sosok orator yang suka tampil di muka umum, namun KH. Sudja lebih suka bergulat di belakang layar menjadi pemikir dan konseptor. KH. Sudja adalah seorang sosok yang memiliki mimpi yang sangat tinggi. Impian tentang mendirikan rumah sakit berawal dari ajaran KH. Dahlan tentang teologi Al-Ma'un.

"Inti sari dari pembelajaran tentang surat Al-Ma'un mendorong KH. Sudja memiliki  impian yang sangat besar yakni ingin mendirikan hospital (rumah sakit), armenhuis (rumah miskin) dan wesshuis (rumah yatim). Walaupun mimpinya tersebut ditertawakan oleh banyak orang karena dianggap tidak masuk akal, namun pada 1938, ia berhasil menginisiasi pendirian PKU hingga sekarang Muhammadiyah memiliki 105 rumah sakit," paparnya.

Malik menambahkan, kerasnya KH. Dahlan mendorong para murid untuk mampu mengamalkan apa yang sudah diajarkan, sangat berpengaruh dalam melahirkan pemikir dan sosok pejuang Muhammadiyah.

"Sikap dan pikiran KH. Dahlan sangat luar biasa melahirkan banyak buah pikiran kemanusiaan, bagaimana menegakkan kebaikan di atas alasan kemanusiaan, tidak terhalang perbedaan agama atau apapun. Semoga kita bisa meniru spirit kerja kemanusiaan yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita," ujarnya. (nisa)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16285-detail-kh-sudja-pelopor-spirit-kerja-kemanusiaan.html

Dubes Indonesia untuk Turki Paparkan Keteladanan KH Ahmad Dahlan

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL -- Sedari lahir, Muhammadiyah telah terbiasa memperjuangkan yang terbaik dan melakukan upaya-upaya pencerahan. Melalui KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah hadir menjadi organisasi tajdid yang berkemajuan.
 
Hal tersebut disampaikan oleh Lalu Muhammad Iqbal, Dubes RI untuk Turki yang juga merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Iqbal mengatakan, banyak sekali contoh yang bisa diteladani dari sosok KH. Ahmad Dahlan. Baik meneladaninya dari kacamata pemimpin, ulama, maupun sebagai pelajar.
 
"KH. Ahmad Dahlan tidak hanya muslim yang alim, tapi juga saleh. Dan luar biasanya beliau mampu mentransformasi kesalehan individu ke dalam kesalehan sosial, yakni melalui Muhammadiyah dengan mewujudkan berbagai macam AUM yang berguna untuk masyarakat," kata Iqbal saat menyampaikan pidato milad ke-38 UMY pada Kamis (28/3) di Ruang Sidang AR Fachrudin B.
 
Ia melanjutkan, selain itu, sisi teladan lain yakni saat KH. Dahlan masih seorang pelajar. 
 
"Kita tahu bagaimana saat masih menjadi pelajar, beliau dua kali pergi ke timur tengah untuk menuntut ilmu, lalu dengan pantang menyerah mencoba untuk melahirkan sesuatu yang baru, yakni Muhammadiyah. Itu bukan perjuangan yang mudah, tapi KH Ahmad Dahlan berhasil membawa kita pada pemikiran baru yakni Muhammadiyah, yang kita jaga hingga sekarang," ungkapnya.
 
Iqbal menyampaikan bahwa, betapa KH Ahmad Dahlan telah berhasil menunjukkan kepada kita semua tentang keberhasilan seorang pelajar.
 
"Tanda orang pernah belajar adalah bukan ijazah, tapi tanda hakiki bahwa seseorang pernah belajar adalah merasa tercerahkan. Hal ini sangat tercermin dari pribadi KH Ahmad Dahlan, beliau belajar lalu berusaha untuk mencerahkan yang lain, kita semua.  Semoga kita bisa menjadi pembelajar yang baik sepanjang hayat," ucapnya. (nisa)

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16237-detail-dubes-indonesia-untuk-turki-paparkan-keteladanan-kh-ahmad-dahlan.html

Syamsuhadi Irsyad, Rektor UM Purwokerto Tutup Usia

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Sosok karismatik dan sederhana, serta pengabdi di dunia pendidikan Muhammadiyah telah tutup usia. Jasanya membentang tidak akan lekang dalam ingatan. Syamsuhadi Irsyad yang akrab di sapa Pak Syamsu, Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) tersebut tutup usia dalam umur 80 tahun di Ruang ICU RS Margono Soekarjo, Puwokerto pada Kamis (28/3) sekitar pukul 08.30 WIB.

Pria kelahiran Sleman, 21 Januari 1940 ini dikenal sebagai sosok pengayom bagi orang disekitarnya, terlebih civitas akademika UMP, banyak yang menganggap dirinya sebagai bapak, lantaran pribadinya yang penuh inspirasi dan bijaksana. Ditangannya, UMP disulap menjadi Universitas unggulan yang mampu bersaing dengan universitas-universitas besar disekelilingnya.

Selain kiprahnya di Muhammadiyah, Pak Syamsu sang abdi pendidikan Muhammadiyah ini juga aktif di Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Selain itu, beliau juga sempat menjabat sebagai Wakil Ketua Mahkamah Agung RI Bidang Non-Yudisial, Ketua Muda Mahkamah Agung RI Urusan Lingkungan Peradilan Agama, Hakim Agung pada Mahkamah Agung RI, Direktur Pembinaan Badan Peradilan Agama Departemen Agama RI, Ketua Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Jawa Barat di Bandung, dan Ketua PTA DKI Jakarta.

Dalam bidang pendidikan, Pak Syamsu menempuh studi Strata Satu Syariah Jurusan Hadis di Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, tahun 1973, kemudian melanjutkannya pada studi S-1 Hukum Jurusan Keperdataan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), 1989-1992.

Selanjutnya, Program master Ilmu hukum berhasil diraihnya di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), 1994-1998, sedangkan program Doktoral Ilmu Hukum di Universitas Indonesia (UI). Ilmu Hukum lah yang mengantarkannya memasuki dunia birokrasi di lingkungan kerja Pengadilan Agama.

Jalan panjang yang dilalui Pak Syamsu mengantarnya terpilih sampai tiga kali untuk posisi jabatan rektor UMP. Syamuhadi Irsyad membawa kemajuan yang signifikan bagi UMP. Bapak bagi segenap civitas akademika UMP ini pada pidato pelantikan pada tahun 2015 lalu berikrar bahwa, dengan ridho Allah SWT setiap langkah yang dilakukan merupakan iktiar dan pelepasan dari kehendak keduniaan, demi cita-cita pencerahan untuk Indonesia yang berkemajuan.

Kini, jasad mu terpisah namun jasa mu tetap utuh dan menyatu dengan semua pejuang yang menyambung cita-cita besar mu. Pak Syamsu, teknokrat karismatik, ahli hukum dan sang abdi didik Muhammadiyah. (a'n)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16234-detail-syamsuhadi-irsyad-rektor-um-purwokerto-tutup-usia.html

Wartawan Itu Adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah

Haedar Nashir, adalah sosok yang tidak asing bagi Republik ini, terutama di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. Beliau adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2020 menggantikan Prof. Din Syamsuddin yang menjabat Ketua Umum Muhammadiyah sebelumnya.

Sebelum beliau menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sosok ideolog Muhammadiyah ini, mengawali karir dan perjalanan hidupnya dengan mengambil pilihan profesi sebagai wartawan Majalah Suara Muhammadiyah.

Profesi sebagai wartawan, beliau jalani sejak menempuh pendidikan tinggi S1 dan S2 di Yogyakarta. Bahkan, walaupun kini beliau sudah berada pada puncak kepemimpinan di organisasi Muhammadiyah, profesi sebagai seorang penulis, tidak begitu saja hilang dari dalam tradisi kehidupan Haedar.

Banyak karya-karya tulis Haedar yang terus hadir dalam berbagai bentuk seperti buku, artikel, kolom dan lainnya, yang kini telah menjadi konsumsi publik. Bahkan hingga saat ini, Haedar masih menekuni dunia jurnalis dengan menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Suara Muhammadiyah.

Dua gambar ini, menunjukkan 2 aktivitas orang yang sama dalam waktu dan status yang berbeda.

Gambar pertama, merupakan bukti saat Haedar Nashir berprofesi sebagai seorang wartawan majalah Suara Muhammadiyah, ketika melakukan wawancara dengan seorang peneliti asal Jepang, Mitsuo Nakamura di Gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta.

Sementara foto Kedua adalah, saat Haedar Nashir menjadi keynote speak selaku ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat peluncuran buku Karya Mitsuo Nakamura di Gedung PP Muhammadiyah Jakarta.
Catatan:
Mari berbangga dan berlangganan majalah resmi Persyarikatan, Yaitu Majalah Suara Muhammadiyah.

*Selamat Milad 104 Th Majalah Suara Muhammadiyah ” Inspirasi Literasi Islam Berkemajuan”*

*Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2019*


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/02/10/wartawan-itu-adalah-ketua-umum-pp-muhammadiyah/

Ishaq Saleh, Tokoh Muhammadiyah Kalbar Tutup Usia

PONTIANAK, Suara Muhammadiyah – Innalilahi wainnailaihi rajiun, kabar duka datang dari keluarga besar Muhammadiyah Kalimantan Barat. Salah satu tokoh Muhammadiyah Kalbar, Ishaq Saleh meninggal dunia.

Ayahanda dari Sekjen Kemenkes RI Oscar Primadi tersebut berpulang ke Rahmatullah sekitar pukul 17.10 WIB di Rumah Sakit Soedarso, Jum’at (8/2).

Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalbar, Ahmad Zaini, mengungkapkan bahwa Almarhum merupakan kader yang selalu berkhidmat bagi persyarikatan. Beliau pernah menjadi Ketua DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kalbar dan Pemuda Muhammadiyah Kalbar.

Kemudian masih dalam lingkup persyarikatan almarhum pernah di Majelis PKU, Sekretaris PWM Kalbar, Wakil Ketua PWM Kalbar, penasehat Muhammadiyah Kalbar hingga Ketua Forum Komunikasi Alumni (Fokal) IMM Kalbar.

“Almarhum banyak meninggalkan buah karya, diantaranya perintisan dan pengembangan beberapa sekolah Muhammadiyah di Pontianak, mempelopori berdirinya Universitas Muhammadiyah Pontianak dan Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan (STIK) Muhammadiyah Pontianak,” ungkap Ahmad.

Selain itu Almarhum juga sempat menjadi anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat beberapa periode, Anggota DPR RI dari Fraksi PAN, dan Anggota DPD RI. Selamat jalan Bapak Ishaq Saleh, Allahumma ighfirlahu wa irhamhu. (riz)


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/02/09/ishaq-saleh-tokoh-muhammadiyah-kalbar-tutup-usia/

Ketum Aisyiyah: Fatmawati, Sosok Perempuan Muslim Berkemajuan yang Berbakti untuk Bangsa

MUHAMMADIYAH. ID, JAKARTA- Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Noordjannah Djohantini menghadiri dan memberikan sambutan dalam peringatan Mengenang Hari Ulang Tahun (HUT) Ibu Negara Pertama RI, Fatmawati Soekarno yang ke-96, di Grand Ballroom the Tribrata, Jakarta, Selasa (5/2).
 
Pada acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Fatmawati tersebut, Noordjannah menyampaikan bahwa sosok ibu Fatmawati menunjukkan ketokohan seorang perempuan muslimah berkemajuan yang berbakti untuk bangsanya.
 
“Bahwa perempuan dan laki-laki setara dalam membangun bangsa dan negara dapat kita lihat salah satu contohnya adalah sosok ibu Fatmawati,” ujar Noordjannah.
 
Noordjannah juga menyampaikan untuk mengenang dan meneruskan kisah perjuangan Fatmawati, pada acara ini Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah  mempersembahkan buku berjudul Muslimah Berkemajuan (Sepenggal Riwayat Fatmawati dan ‘Aisyiyah – Muhammadiyah). Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah memberikan penghormatan dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Fatmawati, Ibu Negara Republik Indonesia yang telah banyak berjasa kepada umat Islam dan juga bagi semua golongan dengan latar belakang agama, etnis, dan budaya yang berbeda-beda.
 
 “Fatmawati adalah Ibu Negara dan Ibu Bangsa yang lahir dari keluarga Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang lekat warna keislaman dan keindonesiaannya yang berkemajuan," tuturnya. 
 
Turut hadir dalam memperingati HUT Ibu Fatmawati yang Ke-96, adalah para ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah; Presiden RI Ke-5 Megawati Soekarnoputri; Ibu Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla; Mendikbud, Muhadjir Effendy; Pimpinan/Kepala Kementerian/Lembaga Negara.
 
Sumber: (Suri)

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15946-detail-ketum-aisyiyah-fatmawati-sosok-perempuan-muslim-berkemajuan-yang-berbakti-untuk-bangsa.html

Noordjannah : Fatmawati, Sosok Perempuan Muslim Berkemajuan yang Berbakti untuk Bangsa

Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Noordjannah Djohantini menghadiri dan memberikan sambutan dalam peringatan Mengenang Hari Ulang Tahun (HUT) Ibu Negara Pertama RI, Fatmawati Soekarno yang ke-96, di Grand Ballroom the Tribrata, Jakarta, Selasa (5/2).
 
Pada acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Fatmawati tersebut, Noordjannah menyampaikan bahwa sosok ibu Fatmawati menunjukan ketokohan seorang perempuan muslimah berkemajuan yang berbakti untuk bangsanya. “Bahwa perempuan dan laki-laki setara dalam membangun bangsa dan negara dapat kita lihat salah satu contohnya adalah sosok ibu Fatmawati,” ujar Noordjannah.
 
  
 
 
Noordjannah juga menyampaikan untuk mengenang dan meneruskan kisah perjuangan Fatmawati, pada acara ini Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah  mempersembahkan buku berjudul Muslimah Berkemajuan (Sepenggal Riwayat Fatmawati dan ‘Aisyiyah – Muhammadiyah). Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah memberikan penghormatan dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Fatmawati, Ibu Negara Republik Indonesia yang telah banyak berjasa kepada umat Islam dan juga bagi semua golongan dengan latar belakang agama, etnis, dan budaya yang berbeda-beda. “Fatmawati adalah Ibu Negara dan Ibu Bangsa yang lahir dari keluarga Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang lekat warna keislaman dan keindonesiaannya yang berkemajuan.”
 
Sosok Fatmawati yang lahir di Bengkulu pada 5 Februari 1923 dan meninggal pada 14 Mei 1980 ini, juga dikenal sebagai aktivis 'Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah. Kecintaannya pada organisasi perempuan muslim berkemajuan ini bahkan ditunjukan saat menjahit dua kain katun halus yang menjadi bendera Pusaka Indonesia yang dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pada saat itu Fatmawati menjahit sambil menyanyi kumandang Nasyiah.
 
 
 
Turut hadir dalam memperingati HUT Ibu Fatmawati yang Ke-96, adalah para ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah; Presiden RI Ke-5 Megawati Soekarnoputri; Ibu Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla; Mendikbud, Muhadjir Effendy; Pimpinan/Kepala Kementerian/Lembaga Negara. (Suri)

Link Terkait: http://www.aisyiyah.or.id/id/berita/noordjannah-fatmawati-sosok-perempuan-muslim-berkemajuan-yang-berbakti-untuk-bangsa.html