Bangkitkan Kesadaran Masyarakat Akan Bencana, UMY Gelar Charity Concert

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Bukan hanya sekadar perayaan Milad, di usianya yang ke 38 tahun, Universitas Muhamamdiyah Yogyakarta (UMY) ambil peran terkait penyadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap bencana, dikemas dalam acara Charity Concert yang digelar pada (14/3) di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

Seperti yang disampaikan oleh Phutut Ardianto, kepala Divisi Charity Concert, acara yang dibuka untuk umum ini memiliki misi penyadaran masyarakat terhadap bencana yang sering melanda Indonesia.

“Latarbelakang Charity Concert ini adalah ingin mengajak masyarakat yang datang di TBY nanti sadar akan bencana. karena dalam beberapa waktu ini kan banyak sekali bencana yang melanda Indonesia,” ungkapnya.

Rangkaian acara milad yang dikemas dalam Charity Concert ternyata banyak menyedot animo masyarakat, seperti yang dikatakan oleh Fariz All Fadad, Ketua Panitia Milad UMY ke-38, pembukaan pendaftaran peserta untuk memiliki kursi baru dibuka dua hari sebanyak 80 % kursi telah habis terjual.

“Kita sempat menutup pendaftaraan beberapa waktu, karena kita sampai kesulitan menampung pendaftar,” katanya.

Hal ini menjadi indikasi bahwa, acara seperti ini memang dibutuhkan. Bukan hanya bagi masyarakat umum, tetapi juga kalangan civitas akademika kampus. Selain tempat untuk menyalurkan donasi, acara seperti ini juga efektif sebagai sarana peunjang kretifitas mahasiswa.

Sementara itu, Gunawan Budianto, Rektor UMY menyambut gembira atas terlaksananya resepsi milad UMY ke 38. Menurutnya, kesuksesan UMY yang bisa bertahan selama ini ditengah persaingan dengan kampus-kamps besar lainnya adalah berkat rahmat Allah Tuhan Yang Maha Esa. Serta, bukti nyata dedikasi para civitas akademik dan elemen lain yang berkhidmat di UMY.

“Acara ini juga sebagai bukti bahwa UMY bukan hanya konsen di bidang akademik, melainkan UMY adalah lembaga pendidikan yang lengkap disegala aspeknya,” jelasnya.

Dalam acara ini Gunawan juga sempat menyanyikan lagu yang ditenarkan oleh band lengendaris ‘God Bless’ dan penyanyi solo Nicky Astria yang berjudul Pangung Sandiwara. Lewat lagu yang dibawakan, Gunawan mengajak yang hadir untuk turut berperan aktif dalam bersosial masyarakat.

“Namun peran tersebut tidak boleh dilakukan dengan kepura-puraan,” tutur Gunawan.

Acara ini juga dimeriahkan oleh berbagai jenis Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni yang ada di UMY. Selain itu, sebagai bukti kepedulian UMY terhadap bencana yang terus melanda Indonesia. UMY diwakili Rektor melaunching Relawan Bencana UMY, yang beranggota mahasiswa UMY. Serta, sebagai bentuk kepedulian kepada penyitas. UMY memberikan donasi kepada mahasiswanya sebesar Rp 3.4 miliar, yang berasal dari Palu, Lombok, Donggala dan Sigli.

Nantinya bantuan tersebut dialokasikan untuk pembiayaan pendidikan dan kehidupan sehari-hari selama menempuh pendidikan di UMY. Dalam rangkaian yang sama juga ada penyerahan dana kepada Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shodakoh Muhammadiyah (LazisMu), diwakili Hilman Latief, Ketua Badan Pengurus LazisMu PP. (a'n)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16162-detail-bangkitkan-kesadaran-masyarakat-akan-bencana-umy-gelar-charity-concert.html

Kader IMM Jangan Gagap Kompetisi di Era Revolusi Industri

MUHAMMADIYAH.ID, MATARAM — Ketua Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM), Najih Prasetyo mengimbau kader muda Muhammadiyah tidak gagap dalam kompetisi di era revolusi 4.0.

Hal tersebut disampaikan padaRabu(13/3), disela acara pelantikan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM Nusa Tenggara Barat (NTB). Menurutnya, baik kualitas ataupun kuantitas kader muda Muhammadiyah yang berkecimpung dalam teknologi informasi (TI).

“Saya justru melihat anak anak muda Muhammadiyah sudah kalah. Ini yang harus kita kejar bersama bagaimana mengejar dan adaptasi dengan revolusi industri 4.0 mendatang,” ungkap Najih.

Mantan DPD IMM Jawa Timur ini menjelaskan, ada tiga poin yang harus dikuasi oleh para kader Muda Muhammadiyah untuk mengarungi kompetisi pada abad ini. Pertama, penguasaan dalam bidang TI.

“Sebab  jujur, coba jawab, berapa kader IMM dan Muhammadiyah yang pahamnya isu isu teknologi,” tegasnya.

Hal ini juga sebagai kritik terhadap lembaga milik Muhammadiyah yang telah menyusun konsep dalam jangka waktu yang lama untuk fundrising, tapi dengan hasil yang belum maksimal. Ia membandingkan dengan aksi anak muda yang memanfaatkan media sosialnya bisa mengumpulkan dana dengan jumlah yang melimpah dalam waktu yang relatif singkat.

Kedua, kader muda Muhammadiyah harus cakap dalam kewirausahaan. Terkait ini, ia menyoroti proses pengkaderan. Menurutnya, pengkaderan di Muhammadiyah sifatnya hanya formalitas dan dijadikan sebagai event tahunan.

“Kaderisasi tidak berbasis kebutuhan riil. Itu yang membuat kita tertinggal dalam kondisi dan persaingan ekonomi. Sehingga sendi yang harus diperbaiki menurut saya, selain persoalan entrepreneurship, juga bagaimana mengeluarkan energi kita untuk membuka lahan ekonomi baru,” terangnya.

Selanjutnya, poin ketiga yang harus dimiliki oleh kader muda Muhammadiyah adalah rasa empati pada momen penting. Dalam momen eforia politik seperti saat ini, Najih berpesan untuk para kader muda Muhammadiyah agar lebih pro aktif. Peran pro aktif tersebut dimaksudjkan untuk menangkal arus informasi hoak yang semakin marak meyebar di tengah masyarakat. (a'n)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16154-detail-kader-imm-jangan-gagap-kompetisi-di-era-revolusi-industri.html

Pemuda Muhammadiyah Bengkulu Rancang Program Strategis

MUHAMMADIYAH.ID, BENGKULU — Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Bengkulu melantik Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyahse- Kabupaten Bengkulu Utara pada Senin (11/3) di Balai Pertemuan Ratu Samban, sekaligus mengelar acara Seminar Nasional.

Evi Kusnandar, Ketua PDPM Kabupaten Bengkulu mengatakan, acara yang diselenggarakan ini merupakan langkah kaderisasi serta me-refresh kepemimpinan dalam tubuh organisasi PCPM se-Kabupaten Bengkulu.

Dalam rangkaiannya, pelantikan ini juga diadakan seminar yang mengangkat tema ‘Memposisikan Pancasila Dalam Konteks Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan’. Pembahasan ini perlu diangkat, menurutnya isu tentang radikalisasi dan pelabelan Islam sebagai agama yang pro dengan isu ini perlu diluruskan.

“Dengan kita mengadakan seminar nasional ini dengan mendatangkan langsung Staf Khusus Presiden RI Ibu Siti Ruhaini dan kedua narasumber lainnya agar dapat sama-sama memberikan arahan dan menyamakan persepsi tentang Pancasila, dan agama Islam,” ungkapnya.

Ia berharap dengan dilantiknya pimpinan baru ini bisa semakin memajukan Muhammadiyah di daerahnya, Kabupaten Bengkulu Utara.

“Harapannya dengan dilantik 19 PCPM ini, dapat melakukan kegiatan pengajian rutin, merekrut kader agar pemuda muhammadiyah di Bengkulu Utara massanya lebih banyak, dan dapat bersama-sama memberikan sesuatu ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.

Turut hadir di acara ini, Siti Ruhaini Dzuhayatin, serta Staf Ahli Gubernur Bengkulu Muslih Z, Staf Ahli Bupati Bengkulu Utara Kiman Nazardi, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Sunanto.


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16152-detail-pemuda-muhammadiyah-bengkulu-rancang-program-strategis.html

PTM Harus Tetap Menjaga Etos Muhammadiyah untuk Bangsa

MUHAMMADIYAH.ID, PALEMBANG — Jasa Muhammadiyah dalam mengintegrasikan wilayah laut dengan daratan Indonesia diwakili oleh para kadernya. Salah satunya adalah Ir Juanda, Guru Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah Menteng. Fakta sejarah tersebut menjadi tongkat estafet yang terus bersambung bagi kader Muhammadiyah, kini dan yang akan datang.

Hal tersebut disampaikan oleh Muhadjir Efendi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbuk) Republik Indonesia (RI) dalam kegiatan silaturahmi warga Persyarikatan Muhammadiyah Sumatera Selatan pada Senin (4/3) di Universitas Muhammadiyah (UM)  Palembang.

“Saya contohkan Insinyur Juanda adalah penggagas perastuan wialayah NKRI. Pada tahun 1957, Waktu itu ada namanya Deklarasi Djuanda yang bertujuan unutuk mengintegralkan seluruh wilayah lautan maupun daratan Indonesia,” kata Muhadjir melalui keterangan pers yang diterima Muhammadiyah.id pada (8/3).

Mantan rektor UM Malang periode 2000-2016 ini menguraikan, jalur lintas laut yang dahulu semua kapal dari negera luar bisa bebas berlayar diatasnya tanpa izin ke Indonesia. Kemudian pada tahun 1984, gagasan Juanda tentang daratan dan lautan merupakan bentuk integral bagi wilayah suatau negara, diratifikasi menjadi konvensi hukum internasional. Karena gagasan tersebut, kini menjadi pedoman aturan bagi lalu lintas laut.

“Kini, yang melintasi laut Jawa harus izin dulu ke Indonesia,” tambah Muhadjir.

Belajar dari seajarah, Muhammadiyah melalui Perguruan Tingginya harus tetap menjaga momentum dan menjaga etos Muhammadiyah untuk bangsa. Maka dengan adanya PTM harus bisa memberi dampak postif terhadap lingkungan sekitarnya, melalui pemanfaatan kemampuan sumber daya manusia dan sumber daya lain. Untuk mewujudkan kemajuan.

“Jaga terus momentum ini dan selalu jaga silaturahmi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kemajuan, Universitas Muhammadiyah Palembang mulai menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu sekolah-sekolah dan amal usaha Muhammadiyah, karena akan membuat semakin maju dan sukses” ujarnya.

Ia juga berpesan agar menjadi kader yang memiliki loyalitas dan karakter dalam berMuhammadiyah. Yang tidak mudah goyah karena jabatan atau iming-iming yang sifatnya hanya keduniaan semata. Ia mengutip kisah Ir Juanda yang menolak tawaran menjadi dosen di Kampus Intitute Teknologi Bandung (ITB) dan memilih menjadi guru di SMA Muhammadiyah.

“Ir. Djuanda yang merupakan tokoh Muhammadiyah maka Indonesia menjadi negara yang utuh seperti sekarang menjadi NKRI, dan Ir. Juanda pernah ditawari menjadi dosen di ITB, tetapi lebh memilih menjadi guru di SMA Muhammadiyah Menteng,” pungkas Muhadjir. (a'n)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16123-detail-ptm-harus-tetap-menjaga-etos-muhammadiyah-untuk-bangsa.html

Muhammadiyah Besar Bukan Sekadar Nama dan Catatan

MUHAMMMADIYAH.ID, SURABAYA – Muhammadiyah itu bukan sekadar besar secara nama dan catatan, tetapi besar dari fase ke fase sampai kini memasuki usia ke- 106 tahun, dan Muhammadiyah tetap konkret. Terlebih juga diikuti oleh gerakan perempuannya ‘Aisyiyah yang sudah memasuki 100 tahun lebih.

Hal itu disampaikan oleh Malik Fajar, Dewan Pertimbangan Presiden RI dalam Diskusi dan Sharing Pengembangan Perguruan Tinggi Muhammaidiyah Se-Jawa Timur, pada (6/3/2019) di Gedung At-Tauhid Universitas Surabaya.

“Kebesaran Muhammadiyah itu karena adanya sebuah kemajuan, prestasi, mutu dan kualitas yang menggairahkan, sekaligus member kekuatan pengembangan. Bukan bermaksud sombong, tetapi agar gairah memajukan itu timbul,” paparnya di depan pimpinan dan dosen perguruan tingi Muhammadiyah se-Surabaya.

Menurut Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu, kemajuan Muhammadiyah di Jawa Timur sekarang ini sudah besar dan menggairahkan.

“Ciri khas Muhammadiyah dari perjalanan waktu ke waktu bukan berada di pinggiran dan suasana yang sedih tetapi gembira, menyenangkan, mengasyikan sekaligus mencerdaskan. Nah sekolah Muhammadiyah harus di bawa ke situ,” ujarnya.

Malik Fajar memperjelas, bahwa yang mengangkat Muhammadiyah menjadi besar adalah pergerakan dengan pikiran-pikiran besar dan pandangan-pandangan besar.

“Untuk itu, Muhammadiyah mendidik dan mengajak mahasiswa lewat perguruan tingginya menatap masa depan yang lebih besar, karena mereka generasi yang akan datang,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu pula Malik Fajar berpesan agar para dosen pengajar di Perguruan Tinggi Muhammadiyah memberi suasana lahir dan batin dalam suasana pemikiran besar kepada para mahasiswanya.

“Kelemahan dunia sekarang ini termasuk para dosen adalah mengalami ganguan terutama handphone, jadi dosen kurang dalam ber-iqro’ (membaca buku), “sebutnya.

Atas dasar itu Malik mengingatkan agar Perguruan Tinggi Muhammadiyah lebih banyak menghidupkan ruang-ruang kepustakaan di kampusnya.

“Kemajuan kampus bukan karena gedungnya menjulang tinggi tetapi karena spirit akademik dengan suasana lahir dan batin kehidupan orang-orang berilmunya memancarkan. Dan itu di peroleh dari tradisi para pengajarnya yang menghidupkan ‘iqro’,“ jelas Malik. (Andi)

 


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16122-detail-muhammadiyah-besar-bukan-sekadar-nama-dan-catatan.html

Aisyiyah Gagas Kerjasama dalam Bidang Pendidikan dan Kesehatan dengan Lebanese Muslim Association

MUHAMMADIYAH.ID, AUSTRALIA - Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah melakukan kunjungan ke Lebanese Muslim Association (LMA) dalam kunjungan kerja di Australia.

Pada kunjungan tersebut rombongan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah diterima langsung oleh Sheikh Dr  Yahya Safi Imam yang merupakan ketua LMA beserta tim.

Dalam diskusi yang digelar di pertemuan tersebut, ‘Aisyiyah dan LMA mendiskusikan beberapa kerjasama yang bisa terjalin antara kedua organisasi.

Disampaikan Siti Noordjannah Djohantini, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah bahwa ‘Aisyiyah dan LMA membicarakan kerjasama dalam hal dakwah pendidikan serta kesehatan.

“Kedua hal ini sangat besar menjadi peluang kerjasama antara kedua belah pihak, karena baik ‘Aisyiyah dan LMA memiliki fokus yang sama untuk pengembangan pendidikan serta kesehatan,” ujar Noordjannah.

Detil mengenai kerjasama yang terjalin menurut Noordjannah akan dibicarakan kembali dalam waktu dekat ini.

Sumber: aisyiyah.or.id (Suri)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16113-detail-aisyiyah-gagas-kerjasama-dalam-bidang-pendidikan-dan-kesehatan-dengan-lebanese-muslim-association.html

Pengaruh Dimensi Bedukmutu terhadap Loyalitas Pembeli yang Dimediasi oleh Kepuasaan Pembeli
(Sebuah Poster Tesis)


Link Terkait: http://bedukmutu.com/arsip/poster_tesis.pdf

Kampus Muhammadiyah Harus Dimaksimalkan sebagai Kanal Penyalur Informasi yang Wasathiyah dan Berkemajuan

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL-- Hadir di Malam Refleksi Milad Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ke 38 Tahun pada Kamis (28/2), Abdul Mu'ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengajak bersyukur dan kembali merefleksikan nilai historis munculnya Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Keberadaan AUM yang tetap bisa eksis dan bisa memberi manfaat kepada umat sampai saat ini merupakan berkat karunia Allah SWT, maka setiap gerak yang memiliki orientasi berkemajuan yang dilakukan AUM terutama bidang pendidikan harus tetap memiliki dasar nilai illahiyah serta tidak lupa alur historisnya.

"Secara historis fungsi AUM di bidang pendidikan setidaknya ada tiga, pertama sebagai lembaga pendidikan, lembaga dakwah, dan tempat beramal,” ungkap Mu'ti.

Sehingga, dalam menghadapi kemajuan zaman berbasis teknologi, AUM tetap punya jati diri. Pentingnya memiliki jati diri di era revolusi industri 4.0 supaya AUM bisa memiliki nilai tersendiri, bukan terbawa arus yang serba permukaan. Pemanfaatan media sosial bagi kehidupan civitas akademik harusnya tidak serta merta merubah akar rujuk sumber keilmuan intelektual Muhammadiyah.

"Akademisi Muslim, terlebih Muhammadiyah yang dirujuk harusnya bukan dari literasi di media yang anonim pembuat dan operatornya,” tambahnya.

Pengetahuan yang hanya dibatas permukaan menyebabkan umat menjadi mudah diarahkan atau disetir pihak yang tidak memiliki kredibilitas. Yang kemudian menimbulkan kegaduhan di internal umat Islam maupun antar umat beragama. Maka, tantangan keilmuan di era 4.0 lebih kompleks, mengingat saingan kecerdasan bukan hanya dari manusia. Tapi juga dari kercerdasan buatan (artivisial intelengt).

Hal tersebut dibuktikan dengan umat Islam sekarang lebih memilih merujuk kepada ustadz popular dari pada ke ustadz/ulama yang telah memiliki kredibilitas. Berangkat dari fakta tersebut, perguruan tinggi khususnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) memiliki tuntutan untuk merebut wacana popular yang menjangkiti umat saat ini.

"Hadirnya kampus sebagai lembaga dakwah, harus dimaksimalkan sebagai kanal penyalur informasi yang wasathiyah dan berkemajuan. Disertai dengan rujukan keilmuan yang runtut dan terukur, sehingga umat tercerahkan,” pungkas Mu'ti. (a'n)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16090-detail-kampus-muhammadiyah-harus-dimaksimalkan-sebagai-kanal-penyalur-informasi-yang-wasathiyah-dan-berkemajuan.html

Gerebek Pasar, Cara Lazismu Lamongan Kampanyekan Bayar Zakat 4T

MUHAMMADIYAH.ID, LAMONGAN – Cara Lembaga Amil Zakat Infaq Shodaqoh Muhammadiyah (Lazismu)  Lamongan dalam mengkampanyekan pemahaman zakat kepada masyarakat terbilang unik dan kreatif.  Melalui acara yang bertajuk Gerebek Pasar pada  di Pasar baru Lamongan,  LazisMu Lamongan ingin masyarakat memahami pentingnya membayar zakat tepat waktu,  tepat jumlah, tepat guna dan tepat sasaran. 

Irvan Shaifullah Manager Eksekutif Lazismu Lamongan mengatakan bahwa alasan diadakan Gerebek Pasar ini salah satunya adalah memberikan pemahaman pembayaran zakat yang harus ditunaikan. "Terutama kepada para pedagang dipasar,  dan pengunjung, masyarakat juga bisa langsung berkonsultasi terkait hitung hitungan zakat yang harus ditunaikan, banyak yang tanya juga," ungkapnya

Irvan melanjutkan program ini adalah program rutinan Lazismu Lamongan setiap bulan dan akan terus dilaksanakan di berbagai tempat, khususnya di pasar pasar.  "Alhamdulillah kita mulai bulan februari ini,  dan Alhamdulillah tanggapan masyarakat tadi sangat baik, tugas kita mengingatkan,  selebihnya Allah yang mengetuk hati donatur kita," sambungnya. 

Kedepan rencananya akan LazisMu Lamongan buat sekalian dengan warung dhuafa dan layanan kesehatan keliling bersama komunitas dan Ortom.

Sementara itu,  salah satu pedagang aziz mengatakan berterimk kasih atas inisiatif dari Lazismu Lamongan mengingatkan para pedagang untuk berzakat.  "Kadang kadang karena saking sibuk nya bekerja, kami jadi banyak lupa,  dan Alhamdulillah terimakasih kami sampaikan kepada Lazismu Lamongan," pungkasnya. (Syifa)

Sumber : Irvan Shaifullah   

 


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16086-detail-gerebek-pasar--cara-lazismu-lamongan-kampanyekan-bayar-zakat-4t.html

UM Palembang Tingkatkan Peran Mahasiswa di Masyarakat

MUHAMMADIYAH.ID, PALEMBANG — Penyerahan kembali mahasiswa ke kampus oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, setelah berakhirnya masa bakti Kuliah Kerja Nyata (KKN) angkatan 51 Universitas Muhammadiyah (UM) Palembang tahun 2019 diterima oleh Wakil Rektor II, Fatimah di halaman Fakultas Hukum UM Palembang pada (28/2).

Ahmad Zulinto, mewakili Walikota Palembang dalam sambutannya mengungkapkan apresiasi yang mendalam atas yang telah dilakukan oleh mahasiswa UM Palembang selama masa bakti KKN yang dilakukan di daerahnya.

“Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palembang harus berbangga karena sudah banyak mencetak orang besar seperti Wakil Walikota Palembang Fitrianti Agustinda, yang juga merupakan alumni Fakultas Hukum UM Palembang,” urainya.

Ahmad Zulianto berharap, kreatifitas mahasiswa UM Palembang terus diasah dan dikembangan untuk kemanfaatan di masayrakat, serta bisa membantu pemerintah membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

Menanggapi yang disampaikan Ahmad Zulianto, Fatimah menghaturkan terima kasih kepada Pemkot yang telah banyak membantu dalam rangkaian tugas pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswanya.

“Kami juga menghimbau mahasiswa KKN UMPalembang untuk segera menyelesaikan studinya usai melaksanakan KKN ini, demi mencapai target kelulusan studinya,” tambahnya.

Ditempat yang berbeda, acara serupa juga diselengarakan di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel). Merki Bakri, Staf Ahli Bupati Banyuasin mengucapkan selamat kepada mahasiswa KKN angkatan 2019 yang telah menyelasikan tugas pengabdian masyarakat di daerahnya.

Sebagai Kabupaten muda di Sumsel, Banyuasin masih membutuhkan masukan dari sudut pandang akademis demi kemajuan Kabupaten ini. Dipilihnya Banyuasin sebagai lokasi KKN, Merki Bakri berharap hal itu bisa disambung dengan penelitian atau riset yang memiliki dampak pada kemajuan daerahnya. Hal ini disadari akan berhasil jika terjalin kerjasama antara pemerintah Kabupaten Banyuasin dan UM Palembang, dari itu pihaknya berharap di periode mendatang Banyuasin bisa menjadi tempat KKN kembali.

“Kami berharap peran UMPalembang dapat terus pemerintah kabupaten Banyuasin rasakan, dalam rangka mendukung visi “BANGKIT” di kabupaten Banyuasin dan kami selalu siap untuk kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan KKN periode mendatang” ungkapnya.

Untuk kota Pelmbang sendiri sebanyak 423 mahasiswa tersebar di 6 Kecamatan yakni, Alang-Alang Lebar, Gandus, Ilir Timur I, Ilir Timur III, Kalidoni dan Sematang Borang, di 28 kelurahan dengan 56 posko dan dibimbing oleh 10 orang Dosen Pembimbing Lapangan.

Sementara, di Kabupaten Banyuasin sebanyak 505 mahasiswa tersebar di dua kecamatan. Yakni kecamatan Banyuasin I, dan kecamatan Rambutan di 22 desa dan kelurahan dengan 44 posko dan dibimbing oleh 11 orang Dosen Pembimbing Lapangan.


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16079-detail-um-palembang-tingkatkan-peran-mahasiswa-di-masyarakat.html