Memahami Proses Turunnya Al Qur'an

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA-- Bulan ramadhan menjadi bulan yang dinanti-nanti kedatangannya oleh umat Muslim. Menjadi bulan yang diberkahi, di dalamnya banyak terjadi peristiwa-peristiwa besar bagi umat Muslim, termasuk salah satu diantaranya adalah peristiwa diturunkannya al Qur'an.

"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al Qur'an sebagain petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang batil." (al Baqarah : 185), turunnya al Qur'an pada bulan ramadhan juga diperkuat ayat-ayat lain. Seperti al Qadar ayat 1, yang didalamnya menyebut malam lailatul qadar dimana malam tersebut hanya ada pada bulan ramadhan. ad Dukhan ayat 3, terindikiasi dengan menyebut malam yang diberkahi.

Namun pada zahir ayat-ayat tersebut bertentangan dengan kejadian nyata dalam kehidupan Rasulullah, yang dalam nyatanya al Qur'an diturunkan kepadanya selama 23 tahun dan dalam kejadian-kejadian tertentu. Menyikapi hal ini, ulama berpegang pada dua pendapat pokok dan satu pendapat hasil dari ijtihad sebagaian mufasir.

Pendapat pertama adalah al Qur'an diturunkan secara keseluruhan pada malam lailatul qadar dari lauh al-Mahfudz ke langit dunia (Bait al-'Izzah). Kemudian Malaikat Jibril menurunkannya kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur kurang lebih selama 23 tahun, 13 tahun di Makkah dan 10 tahun  di Madinah sesuai dengan kejadia-kejadian yang mengiringinya mulai sejak diutus dampai Beliau wafat.

Pendapat pertama ini berpegangan pada hadist yang diriwayatkan oleh Hakim dan Baihaqi. "Qur'an diturunkan pada malam lailatul qadar pada bulan Ramadhan ke langit dunia sekaligus; lalu ia diturunkan secara berangsur-angsur."

Pendapat kedua adalah ketiga ayat yang disebutkan di atas ialah permulaan turunnya al Qur'an kepada Rasulullah. Permulaan turunnya adalah pada malam lailatul qadar di bulan ramadhan, yang merupakan malam yang diberkahi. Kemudian turunnya berlanjut sesudah itu secara bertahap sesuai dengan kejadian dan peristiwa-peristiwa selama kurang lebih 23 tahun.

Hal ini merujuk pada surat al Anfal ayat 41, yang menerangkan tentang turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad pada hari bertemunya dua pasukan. Yang arah dari ayat ini adalah kepada perang Badar. Pendapat kedua ini juga berpegang dengan Hadist yang diriwayatkan oleh 'Aisyah tentang mimpi yang benar dan proses turunnya perintah atau wahyu pertama untuk membaca  (Iqra') ketika Rasulullah berTahannus di Gua Hira.

Selanjutnya, pendapat ketiga adalah al Qur'an diturunkan ke langit dunia selama dua puluh tiga malam lailatul qadar. Yang pada setiap malamnya selama malam-malam lailatul qadar ada yang ditentukan Allah SWT untuk diturunkan pada setiap tahunnya. Kemudian dari jumlah yang diturunkan tersebut diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah sampai wafatnya.

Mayoritas ulama berpendapat tidak ada pertentangan ayat berkenaan dengan turunnya al Qur'an dengan kejadian nyata dalam kehidupan Rasulullah. Karena yang pertama, al Qur'an memang diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam lalilatul qadar atau malam yang diberkahi. Kedua, kemudian diturunkan dari langit dunia secara berangsur-angsur. (a’n)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16788-detail-memahami-proses-turunnya-al-quran.html

Rekontekstualisasi Spirit Al-Ma’un Kekinian

BANTUL, Suara Muhammadiyah – Misi utama dari Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) adalah rekontekstualisasi spirit Al-Maun dengan konteks-konteks kekinian. Sama halnya ketika dulu KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yang merupakan hasil dari pembacaan nalar kritis dari pembacaan normatif Al-Quran (teks) dengan realitas sosial.

Itulah yang disampaikan Ketua MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr M Nurul Yamin, MSi dalam Pengajian PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu 11 Mei 2019.

Menurut Yamin surat Al-Maun menjadi landasan bagi gerakan sosial Muhammadiyah yang memberikan inspirasi untuk melahirkan sebuah kesadaran kolektif. Kesadaran atas realitas sosial yang timpang khususnya dalam distribusi pangan yang berkeadilan.

Yamin mengungkapkan terkait keadilan pangan dalam ayat surat Al-Maun wa laa yahudhu alaa thoaamil miskiin berbicara tentang memberi makan orang miskin. “Kalau kita coba kaitkan dengan konteks sekarang ada prediksi tahun 2025 Indonesia akan mengalami krisi pangan,” tandasnya.

“Jadi surat Al-Maun bukan hanya bicara penyantunan terhadap anak yatim dan orang miskin tetapi berbicara tentang distribusi pangan,” imbuh Yamin.

Oleh karena itu yang coba dikembangkan oleh MPM yaitu menyusun langkah blueprint bagaimana budaya petani yang lemah ke petani yang kuat. “Ada dua strategi disitu, pada tahap pertama adalah penguatan kapasitas, dan tahap kedua adalah akses pasar,” tuturnya.

Selain itu, yang dilakukan MPM adalah pemberdayaan dengan membangun budaya inklusi difabel, pendampingan komunitas pemulung, dakwah pemberdayaan di daerah 3T (terdepan, terpencil, terluar) seperti Suku Kokoda di Papua, Suku Dayak Baturajang Berau di Kalimantan, Desa Tliu Amanuban Timur di NTT, serta pemberdayaan Buruh dan Nelayan.

“Best practice yang dilakukan oleh MPM intinya bukan sekedar aktivitasnya, tetap ada nilai perubahan yang terkandung dalam aktivitas yang dilakukannya,” pungkasnya. (Riz)


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/05/12/rekontekstualisasi-spirit-al-maun-kekinian/

Pelantikan PW IPM DIY Gelorakan Spirit Kemandirian dan Anti Korupsi

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL - Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PW IPM DIY) periode 2018-2020 resmi dilantik di Pendopo Parasamya Kompleks Pemerintah Kabupaten Bantul pada Kamis, (21/2).

Pelantikan 45 personalia PW IPM mengusung tema "Rekonstruksi Gerakan sebagai Manifestasi Spirit Kemandirian Pelajar" dan dihadiri 120 tamu undangan dari unsur IPM, ortom Muhammadiyah, organisasi kepemudaan, serta pelajar se-DI Yogyakarta.

Hadir dalam acara tersebut Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas, Ketua Umum PP IPM Hafizh Syafaaturrahman, Sekretaris PWM DIY Sukiman, dan Kabag Administrasi Pemerintah Kabupaten Bantul Sukamto

Ketua PW IPM DIY periode 2018-2020 Ahmad Hawari Jundullah berharap potensi pelajar bisa dikumpulkan menjadi spirit kemandirian yang digaungkan hingga dua tahun ke depan.

"PW IPM DIY memiliki agenda aksi Griya Komunitas. Ada satu bidang baru, yaitu bidang Pengembangan Kreativitas dan Kewirausahaan, kita berharap banyak juga disitu," kata Jundul, sapaan akrabnya.

Sementara Ketua Umum PP IPM Hafizh Syafa'aturrahman berperan sudah saatnya IPM juga masuk ke sekolah (umum), taman pelajar, dan daerah-daerah.

“Kalau kita selalu terkungkung pada sekolah Muhammadiyah, maka pelajar di luar itu siapa yang bertanggungjawab?" tanya Hafizh seraya memotivasi PW IPM DIY untuk memperluas jangkauan dakwahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Busyro turut memberikan pesan-pesan yang kuat untuk memotivasi pelajar agar semakin mandiri sehingga terhindar dari godaan-godaan politik yang menjerumuskan pada perilaku koruptif.

Dengan masa bakti yang cenderung singkat, yaitu dua tahun, PW IPM DIY yang melingkupi ranah dakwah, keilmuan, serta minat-bakat didorong untuk dapat segera merealisasikan program, gerakan, dan agenda aksi tanpa terlalu banyak berkutat pada sosialisasi program. Hal ini perlu dilakukan demi keorganisasian PW IPM DIY yang efektif dan efisien.

Sumber: Nabhan


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16038-detail-pelantikan-pw-ipm-diy-gelorakan-spirit-kemandirian-dan-anti-korupsi.html

Muhammadiyah sebagai Tempat Berkhidmat Atas Dasar Kesukarelaan

MUHAMMADIYAH.ID, BENGKULU- Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ajak anggota, pimpinan dan siapa pun yan berkhidmat di Muhammadiyah untuk meneraca seberapa jauh kontribusi dalam menjalankan program dan kegiatan yang diamanatkan kepadanya.
 
Ajakan tersebut disampaikan Haedar dalam sambutan iftitah sidang pertama Tanwir Muhammadiyah 2019 pada Jum’at (15/2) di Kampus Universitas Muhammadiyah Bengkulu.
 
Hal ini perlu diserukan, mengingat dihadapakan pada tantangan yang akan dihadapi Muhammadiyah semakin kompleks. Sehingga, menggarap amal usaha, program dan kegiatan unggulan merupakan mandat yang harus dengan serius dituntaskan. 
“Karenanya, merupakan saat yang tepat pada kesempatan tanwir ini kita meneraca amanat yang singgah di pundak masing-masing untuk dengan serius dituntaskan," ucap Haedar.
 
Muhammadiyah sebagai tempat berkhidmat atas dasar kesukarelaan yang tidak ada paksaan. Akan tetapi, sebagai pimpinan ataupun kader tetap harus memiliki komitmen dalam setiap menjalankan amanat yang diembannya. 
 
Merujuk pada putusan Muktamar 2015, terhitung secara makro terdapat sebanyak 6 program umum dan 21 program perbidang yang mesti dilaksanakan secara tuntas. 
 
Tingginya frekuensi program yang harus dituntaskan di sisa kurang lebih satu setengah tahun pada periode ini. Maka, diperlukan melakukan akselerasi sebagai wujud keseriusan pertanggungjawaban pada organisasi.
 
Bukan hanya soal tantangan zaman, ajakan ini menurut Haedar merupakan perintah suci yang terdapat dalam al Qur’an.
 
“Silahkan kita merujuk pada surat Al Israa ayat 13-14, disana selain perintah untuk meneraca amal perbuatan kita,” tambah Haedar.
 
Maka, Muhammadiyah ingin menjadikan Islam teraktualisai dalam wujud Beragama yang Mencerahkan. Langkah pencerahan dimulai dari usaha mengelorakan kembali gerakan pencerahan di internal persyarikatan, kemudian untuk kebersamaan menyebarluaskan dan mengaktualisasikannya keluar di lingkungan umat islam, bangsa, dan kemanusiaan universal.

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16002-detail-muhammadiyah-sebagai-tempat-berkhidmat-atas-dasar-kesukarelaan.html

Haedar Nashir : Budayakan Merenung Untuk Hindari Tersulut Kepentingan

Dalam beberapa bulan terakhir perhatian masyarakat Indonesia benar-benar disibukkan oleh beragam isu politik. Banyak dari public yang kemudian menjadi terkotak-kotak berdasarkan kelompok mana yang mereka dukung. Kondisi tersebut kemudian menimbulkan banyak ketegangan yang timbul dalam keseharian mereka dan tidak jarang membesar menjadi konflik.

Keadaan tersebut oleh Dr. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum PP Muhammadiyah dikatakan menjadi tanda bahwa masyarakat memerlukan pencerahan agar meraka dapat ‘melihat’ dengan lebih baik. Hal tersebut disampaikan dalam Seminar Pra-Tanwir Muhammadiyah yang mengangkat tema Beragama yang Mencerahkan Dalam Perspektif Politik Kebangsaan pada hari Senin (11/2) di Ruang Sidang Gedung AR Fachruddin A Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Haedar menyampaikan bahwa sebagai sebuah agama, Islam hadir sebagai pencerahan yang dicerminkan melalui ayat pertama yang diturunkan dalam wahyu kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wassalam. “Iqra’, ayat tersebut turun ketika Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wassalam sedang risau terhadap kondisi masyarakat Arab saat itu. Keadaan masyarakat Arab saat itu dapat dideskripsikan dengan kata dzulumat yang diartikan sebagai kegelapan baik dalam kultural hingga struktural. Ayat iqra’ ini kemudian muncul sebagai tanwir, pencerah, yang memberikan cara untuk keluar dari kegelapan tersebut,” ujarnya.

Haedar menjelaskan bahwa ayat tersebut memiliki inti untuk menegakkan ilmu dan akal pikiran. “Dari pemaknaan tersebut kemudian memunculkan berbagai konsep seperti tafakkur, tadabbur dan lainnya. Pemaknaan dan penerapan dari iqra’ tersebut yang kemudian saya rasa sangat berkurang di masyarakat kita saat ini,” jelasnya.

“Bahkan sekarang ayat-ayat seringkali hanya dikutip untuk kepentingan tertentu atau bahkan digunakan untuk menyulut kemarahan, kebencian dan pertikaian. Bukan hanya pada isu sosial politik tapi juga pada aspek kehidupan kita sebagai orang beragama, kita jadi intoleran terhadap perbedaan misalnya. Padahal ketika Islam dimaknai secara kontemplatif, agama ini menuntun kita untuk menjadi pribadi yang berpikir. Ini yang ingin kita lakukan, mengembalikan Islam pada nilainya yang luhur dan fundamental,” papar Haedar.

Dalam kehidupan orang yang beragama, hal yang paling dibenci oleh tuhan adalah inkonsistensi. “Dalam surat Ash-Shaff ayat 3 Allah memperingatkan bahwa hal yang paling dibenci adalah orang yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, artinya ketika anda mengaku seorang Muslim, konsistenlah. Pahami agama anda melalui perenungan yang dalam, dan bukan hanya terbawa sumbu pendek yang mudah disulut untuk kepentingan tertentu,” jelas Haedar. (raditia)


Link Terkait: http://www.umy.ac.id/haedar-nashir-budayakan-merenung-untuk-hindari-tersulut-kepentingan.html

Kader Muhammadiyah Harus Produksi Konten Baik

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Perkembangan teknologi informasi hampir tidak bisa di bendung karena ia terus berkembang, terlebih dalam era Post-Truth dimana- mana informasi banyak hoax atau dis-informasi. Untuk menghindari adanya hal ini kader-kader Muhammadiyah harus gencar memproduksi konten baik di media sosial.

Hal itu disampaikan oleh Pegiat Media yang sekaligus Anggota MPM PP Muhammadiyah, Budhi Hermanto dalam Diskusi Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, pada (8/2/2019) di Aula Gedoeng Moehammdijah, Jl. KH Ahmad Dahlan Yogyakarta yang membahas materi ‘Kuasa Media era Post Truth: Modus dan Model Penindasan terhadap kamu Marginal’.

“Dalam era post truth dimana banyak masyarakat banyak yang mencari adanya pembenaran, membuat adanya disinformasi. Di sinilah kader-kader Muhammadiyah hadir dan memproduksi konten kebaikan di media,” ungkapnya.

Pola komunikasi terus mengalami perubahan dari media konvensional yang mulai terdisrupsi dengan kehadiran media digital dan didukung ragam platform media sosial sebagai kanal komunikasi baru. Hal ini harus di manfaatkan betul oleh kader Muhammadiyah.

“Misalnya, kader Muhammadiyah harus membuat platform hasil pertanian organik melalui aplikasi sebagai pemberdayaan bagi petani,” ungkapnya.

Pegiat Media yang aktif di Perkumpulan Masyarakat Peduli media itu menyarankan agar anak-anak muda khususnya kader Muhammadiyah untuk terlibat aktif dan mengkampanyekan literasi digital karena media yang saat ini ada tak cukup banyak yang mengedukasi publik.

Sesi terakhir diskusi Budhi menyarankan agar anak-anak muda kader Muhammadiyah mengimbangi media sosial yang mana dihadapkan dalam era post truth. Pertama, harus mempunyai literasi yang  baik dan kurangi bermain media sosial. Kedua, bagikan konten-konten baik di media sosial dan mengajak kebaikan.  (Andi)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15955-detail-kader-muhammadiyah-harus-produksi-konten-baik-.html

Haedar Sebutkan Tiga Hal yang Hilang Dalam Beragama

MUHAMMADIYAH. ID, JAKARTA- Umat Islam saat ini menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengalami paradoks. Sosok yang dinilai paling agamis terkadang dalam bergama tidaklah mencerahkan. 
 
"Kenapa orang beragama hatinya masih sakit? Jawabannya ada pada kolbu dan nurani masing-masing," ucap Haedar dalam pengajian bulanan PP Muhammadiyah pada Jumat (8/2) di Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng, Jakarta Pusat. 
 
Haedar juga menuturkan, orang-orang yang sempit dalam beragama salah satu faktornya yakni karena jarang iqro (membaca).
 
"Jangan-jangan kita sempit beragama karena memang tidak punya tradisi iqra (membaca) dalam bergama,"imbuh Haedar. 
 
Haedar menyebutkan, dalam beragama saat ini, ada tiga hal yang hilang di tubuh umat Islam. Yakni, sikap adil, ihsan, dan kasih sayang. 
 
Makna bersikap adil yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya, bahkan pada orang yang dibenci pun harus tetap adil, untuk sampai kesitu perlu penghayatan.
 
"Sementara ihsan ialah perbuatan yang melampaui, kalau ada yang berbuat buruk pada kita, kita diam saja, dan bahkan membalasnya dengan kebaikan, itu lah ihsan," ucap Haedar. 
 
Dan yang terakhir kasih sayang. Haedar menyebutkan sekarang ini umat Islam nyaris menjadi anak yatim ditengah budaya politik yang sedang garang.
 
"Kekecewaan yang mendalam dan hati yang terlalu mengguncang hingga melihat kebaikan orang lain menjadi ancaman. Maka ciptakan lah suasana yang jeda dan istirahat," ucap Haedar.
 
"Kemampuan kita untuk konsentrasi dalam kehidupan beragama juga perlu mencerminkan nalar," pungkas Haedar.

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15954-detail-haedar-sebutkan-tiga-hal-yang-hilang-dalam-beragama.html

Haedar: Keberagamaan Harus Membuahkan Kebajikan Perilaku

MUHAMMADIYAH.IDMALANG — Islam sebagai agama dakwah bukan hanya mengurusi syariat, lebih dalam dari itu. Aktivitas ke-Islam harus menghujam dalam kesadaran imani yang membuahkan kebajikan perilaku. 

Ungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang didaulat sebagai keynote speaker dalam Sarasehan Kebangsaan pra-Tanwir yang digelar pada Rabu (7/2), di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

“Jika ingin Islam itu mewujud dalam tindakan nyata yang mencerahkan diri dan lingkungannya maka penting adanya proses spiritualisasi ihsan dalam beragama.” kata Haedar

Beragama dan dakwah merupakan dua aspek yang saling terkait baik antar keduanya maupun dengan agama itu sendiri. Beragama menyangkut praktik hidup pemeleuk agama yang jiwa, pikiran, sikap, dan tindakannya berlandaskan agama. Dengan beragama manusia itu beriman sekaligus berilmu dan beramal kebaikan sesuai dengan nilai-nilai dasar dari agama itu sendiri.

“Dengan demikian beragama merupakan kata kerja dari setiap orang yang memeluk agama, yang dalam terminologi Islam sepadan dengan mengamalkan agama secara totalitas atau kaffah.” Urainya.

Keislaman bukan berhenti dalam atribut pakaian serba putih yang tampak disakralkan dari luar, ritual-ritual ibadah seremonial, kefasihan berdalil kitab suci, serta sederat formalitas syariat luar. Islam justru harus dijadikan model perilaku aktual (mode for action) yang serba bajik sebagaimana rujukan Akhlaq Nabi dan para sajabat mulia yang membuktikan kata sejalan tindakan. Itulah akhlak uswah hasanah.

Dalam konteks menggelorakan “Beragama yang Mencerahkan” seganap pimpinan penting menyuarakan sekaligus mempraktikan pesan-pesan keislaman yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan.

Islam harus membentuk perangai umatnya agar lurus dan lapang hati dalam menghadapi keadaan. Perangai tersebut juga berlaku dalam konteks dakwah dan menyikapi orang lain yang berbeda keyakinan sekalipun, sungguh terhormat manakala lurus dan lembut hati. Kelembuthatian jika tetap dilandasi kekuatan prinsip atas keyakinan Islam tidak akan menjadikan diri rendah atau kalah di hadapan orang lain.

Dalam gerakan dakwah pencerahan, Muhammadiyah memaknai dan mengaktualisasikan jihad sebagai ikhtiar mengerahkan segala kemampuan (badlul-juhdi) untuk mewujudkan kehidupan seluruh umat manusia yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat. Jihad dalam pandangan Muhammadiyah bukanlah perjuangan dengan kekerasan, konflik, dan permusuhan. 

“Dakwah yang serba menghardik, memvonis, lebih-lebih yang memusuhi dan takfiri bukanlah dakwah yang mencerahkan. Berdakwahlah sebagaimana Nabi menyeru untuk menyempurnakan akhlaq manusia disertai uswah hasnah serta menjadikan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin dalam kehidupan semesta.” Pungkas Haedar. (Aan)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15944-detail-haedar-keberagamaan-harus-membuahkan-kebajikan-perilaku.html

Ta’awun

Assalaamu’alaikum Wr Wb

إِنَّ اْلحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِناَ. مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضَلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَا دِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. الَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ نَبِيِّناَ مُحَمَّد وَ عَلىَ اٰلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ فَياَعِبَادَ اللهِ. أُصِيْكُمْ وَإَيّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ

 

Hadirin Yang Berbahagia

Allah SwT berfirman:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٢

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (Al-Maidah: 2).

Dalam ayat tersebut terdapat kata “al-birru” dan “at-Taqwa” yang memiliki hubungan yang sangat erat. Karena masing-masing menjadi bagian dari yang lainnya. Secara sederhana, makna dari kata al-Birru adalah kebaikan. Maksud dari kebaikan dalam hal ini adalah kebaikan yang menyeluruh, mencakup segala macam dan ragam.

Imam Ibnu al-Qayyim mendefinisikan bahwa al-Birru adalah satu kata bagi seluruh jenis kebaikan dan kesempurnaan yang dituntut dari seorang hamba. Lawan katanya ialah al-istmu (dosa) yang mempunyai makna satu ungkapan yang mencakup segala bentuk kejelekan dan aib yang menjadi sebab seorang hamba sangat dicela apabila melakukannya. (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim)

Tidak jauh berbeda, syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa al-Birru adalah sebuah nama yang mencakup segala yang Allah Subḥanahu wa Ta’ala cintai dan ridhai, berupa perbuatan-perbuatan yang dhahir maupun batin, yang berhubungan dengan hak Allah Subḥanahu wa Ta’ala atau hak sesama manusia

Tolong menolong dalam bahasa Arabnya adalah Ta’awun. Sedangkan menurut istilah, pengertian Ta’awun adalah sifat tolong menolong diantara sesama manusia dalam hal kebaikan dan takwa. Dalam ajaran Islam, tolong menolong merupakan kewajiban setiap muslim. Sudah semestinya konsep tolong menolong ini dikemas sesuai dengan syariat Islam, dalam artian tolong menolong hanya diperbolehkan dalam kebaikan dan takwa, dan tidak diperbolehkan tolong menolong dalam hal dosa atau permusuhan.

Dari kesimpulan ayat diatas bahwasanya manusia adalah makhluk lemah tak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa bantuan pihak lain. Agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya manusia perlu mengadakan kerjasama, tolong-menolong, dan bantu-membantu dalam berbagai hal. Dapat kita ketahui bahwa Islam sangat menjunjung tinggi tolong menolong. Tolong menolong telah menjadi sebuah keharusan, karena apapun yang kita kerjakan tentu membutuhkan pertolongan dari orang lain.

Maka dalam suatu hadis telah disebutkan, bahwa antara mukmin yang satu dengan yang lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling memperkuat antara sebagian dengan yang lainnya. Tidak setiap bentuk tolong –menolong itu baik, melainkan ada juga yang tidak baik. Tolong menolong yang baik apabila mengarah pada kebaikan sesuai petunjuk agama.

Adapun tolong-menolong yang menyangkut masalah dosa dan permusuhan termasuk perkara yang dilarang agama. Pun begitu juga dengan ta’awun,tolong menolong adalah suatu sistem yang benar-benar memperindah Islam. Manusia satu dengan yang lainnya pastilah saling membutuhkan. tidak ada seorang manusia pun di muka bumi ini yang tidak membutuhkan pertolongan dari yang lain.

Hadirin Yang Berbahagia

Sangat penting jika kita mepenerpkan sifat ta’awun dalam dimensi kehidupan sehari-hari seperti sekarang ini. Karena seperti realitanya sangat sedikit sekali orang yang enggan menerapkan sifat ta’awun dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sebagai umat yang beragama Islam, seyogianya kita wajib menerapkan sifat ta’awun ini dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini khatib akan paparkan beberapa diantaranya;

Pertama, mengajak dalam ketaqwaan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’ālā. Ta’awun (tolong menolong) yang dianjurkan adalah ta’awun (tolong menolong) dalam mengajak saudara sesama muslim untuk bertaqwa kepada Allah Swt, mengajak bersama-sama menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Kedua, loyal terhadap sesama kaum muslimin. Loyalitas dalam pemikiran berarti selalu ber-husnudzan atau berprasangka baik kepada sesama muslim. Tidak mengira atau menuduh seorang muslim lain dengansangkaan buruk. Loyal terhadap perkataan, memiliki arti saling menasihati dalam kebaikan. Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman:

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ٧١

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah: 71)

Loyal secara perbuatan terhadap sesama muslim adalah melakukan tindakan amar ma’ruf nahi munkar dan mengajak saudara sesama muslim untuk melakukannya.

Ketiga, saling melindungi dan bersatu diantara kaum muslimin. Kokohnya agama Islam layaknya sebuah bangunan, yang di dalamnya semua umat muslim harus bersatu dalam menegakkan kebenaran dan ketaqwaan. Jika umat muslim yang memang mengaku sebagai Islam tidak mampu menjaga kekokohan agamanya, maka hancurlah agama tersebut. Maka dari itu, saling melindungi diantara sesama umat muslim sangat dianjurkan sebagai bentuk ta’awun. Demikian. Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang selalu melakukan hal tersebut. Amin-amin ya rabbal ‘alamiin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فىِ اْلقُرأنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الاٰيَاتِ وَالذِّكْرَ اْلحَكِيْمِ، وَ تَقَبَّلَ مِنيِّ وَ مِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الَسمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

KHUTBAH II

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ . ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ . ﻭَﺍﻟﺼَّﻼَﺓُ ﻭَﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ . ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : } ﻭَﺗَﺰَﻭَّﺩُﻭﺍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟﺰَّﺍﺩِ ﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ {

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ، ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ .

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻛَﻤَﺎ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴْﺪٌ ﻣَﺠِﻴْﺪٌ . ﻭَﺑَﺎﺭِﻙْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻛَﻤَﺎ ﺑَﺎﺭَﻛْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴْﺪٌ ﻣَﺠِﻴْﺪٌ .

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْﻟَﻨَﺎ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻨَﺎ ﻭَ ﺫُﻧُﻮْﺏَ ﻭَﺍﻟِﺪَﻳْﻨَﺎ ﻭَﺍﺭْﺣَﻤْﻬُﻤَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺭَﺑَّﻴَﺎﻧَﺎ ﺻِﻐَﺎﺭًﺍ

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻠْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤَﺎﺕِ، ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺍْﻷَﺣْﻴَﺎﺀِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍْﻷَﻣْﻮَﺍﺕِ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺳَﻤِﻴْﻊٌ ﻗَﺮِﻳْﺐٌ ﻣُﺠِﻴْﺐُ ﺍﻟﺪّﻋَﻮَﺍﺕِ .

ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﻟِﺈِﺧْﻮَﺍﻧِﻨَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺳَﺒَﻘُﻮﻧَﺎ ﺑِﺎﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥِ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺠْﻌَﻞْ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮﺑِﻨَﺎ ﻏِﻠّﺎً ﻟِّﻠَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧَّﻚَ ﺭَﺅُﻭﻑٌ ﺭَّﺣِﻴﻢٌ

ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻇَﻠَﻤْﻨَﺎ ﺃَﻧﻔُﺴَﻨَﺎ ﻭَﺇِﻥ ﻟَّﻢْ ﺗَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﺗَﺮْﺣَﻤْﻨَﺎ ﻟَﻨَﻜُﻮﻧَﻦَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮِﻳﻦَ

ﺭَﺑَﻨَﺎ ﺀَﺍﺗِﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻓِﻲ ﺍْﻷَﺧِﺮَﺓِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨّﺎﺭِ . ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ .

ﻭَﺻَﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳَﻠﻢ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤﺪ ﺗﺴﻠﻴﻤًﺎ ﻛَﺜﻴْﺮًﺍ ﻭﺁﺧﺮ ﺩَﻋْﻮَﺍﻧَﺎ ﻟﻠﻪ


Arya Bimantara R


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/02/07/taawun/

Penguatan Keluarga sebagai Fondasi Agenda Strategis 'Aisyiyah

Dalam pokok pikiran ‘Aisyiyah abad kedua disebutkan bahwa memasuki abad kedua, ‘Aisyjyah meniscayakan dirinya untuk melakukan langkah-langkah gerakan dalam bentuk agenda-agenda strategis untuk mewujudkan visi Islam yang berkemajuan. Gerakan pencerahan, dan perempuan berkemajuan sebagai bagian penting dari aktualisasi misi dakwah dan tajdid menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya membawa rahmat bagi semesta alam .

Salah satu agenda strategis 'Aisyiyah memasuki abad kedua adalah penguatan keluarga. Penguatan keluarga menjadi salah satu fondasi dalam membuat berbagai program dalam berbagai bidang dan majelis. Tak terkecuali MKS (Majelis Kesejahteraan Sosial), Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK), dan Majelis Kesehatan.

Dalam MEK Latifah Iskandar menyebutkan bahwa urgensi bidang ekonomi diangkat menjadi fokus yang digarap ‘Aisyiyah adalah karena pada dasarnya prin- sip dakwah Aisyiyah adalah pemberdayaan, termasuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Hal ini penting supaya kondisi ekonomi masyarakat Indonesia tidak tertinggal, jauh dari kemiskinan, dan tidak ketergantungan pada produk import.

 Untuk menanggulanginya, pemberdayaan ekonomi pun dilakukan dengan basis penguatan keluarga. Pemberdayaan ekonomi berbasis keluarga dilakukan melalui kelompok BUEKA (Bina Usaha Ekonomi Keluarga Aisyiyah) yang terdiri dari kelompok BUEKA produksi, distribusi, dan pra koperasi. Latifah menjelaskan untuk menguatkan BUEKA, Majelis  Ekonomí dan Ketenagakerjaan membuat Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah (SWA) dan mendidik para kader untuk menjadi pengusaha handal. Selain keberadaan SWA, tersedia pula KUKA (Klinik Konsultasi Usaha Aisyiyah) yang menjadi konsultan dan pendamping jika pengusaha. “KUKA menjadi konsultan bagi para pengusaha jika mengalami kendala dalam bisnisnya. Apabila dalam menjalankan usaha mengalami kendala perlu pendampingan dan konsultasi akan  difasilitasi oleh KUKA yang datang kepada para anggota,” ujar Latifah.

 

Selain program berbasis penguatan keluarga, program lain yang digarap oleh 'Aisyiyah adalah penguatan koperasi  supaya menjadi tempat kerja yang profesional. Selain itu di bidang ketahanan, Latifah menambahkan akan memulainya dengan meminta para anggota dan kader untuk memanfaat lahan dan kampanye mengkonsumsi makanan-makanan non import. "Semua program di Majelis Ekonomi tentunya menyasar anggota-anggota Aisyiyah, diprioritaskan anggota yang masih muda dan menjadi pelaku usaha."

Latifah menambahkan bahwa dalam pelaksanaan program-program tersebut terkendala dua masalah utama yakni sumber daya manusia dan ketersediaan dana. la men- jelaskan sudah semestinya program-program itu memerlukan pendamping yang memiliki kapasitas, perlu dilatih, dan diberi fasilitas yang memudahkan untuk bisa mobile di lapangan.

Latifah membenarkan bahwa memang pemerintah juga memiliki andil dengan menggaji para pendamping ini. Sayangnya jumlah dana yang dikucurkan oleh pemerintah sendiri jauh dari kata cukup. Untuk menanggulanginya MEK bekerja sama dengan LAZIS dan beberapa CSR perusahaan untuk tetap mengembangkan potensi-potensi para pendamping untuk melakukan usaha maksimal di lapangan.

Bidang Kesejahteraan sosial

Salah satu bidang yang menjadi fokus 'Aisyiyah adalah bidang kesejahteraan sosial yang diampu oleh Majelis Kesejahteraan Sosial. Dituturkan oleh Shoimah Kastolani, tugas utama yang sedang digalakkan oleh MKS adalah pemahaman sosial protection pada para pengurus .Terutama perlindungan sosial terhadap anak yatim. Shoimah menjelaskan bahwa banyak pengurus ‘Aisyiyah sendiri yang memaknai anak yatim secara sempit hanya sebagai anak yang kehilangan orang tuannya. “Padahal yatim itu kan munfarid yang bermakna sendiri, yang terpinggirkan,”ujarnya.

Shoimah menjelaskan, memulai abad kedua 'Aisyiyalh, penguatan keluarga merupakan strategi atas visi perempuan berkemajuan. Imbauan-imbauan seperti program family time yang menjadi kegiatan sangat strategis. Bukan kuantitas jambertemu melainkan waktu yang berkualitas untuk berkumpul. Shoimah menambahkan bahwa zaman sekarang,segala persoalan keluara tidak diputuskan begitu saja. Bahkan anak pun harus dilibatkan untuk bermusyawarah,bukan didoktrin begitu saja. “Quality time itu ya bisa kapan saja. fleksibel. Bisa subuh atau saat makan malam. Ada satu hari makan Bersama sekali saja sudah hebat sekali. Atau bekerja sama misalnya bebersih rumah atau kebun”, ungkapnya. Program-program MKS di abad kedua juga menyasar tiga target utama. Pertama adalah anak-anak. Shoimah menjelaskan bahwa banyak kekerasan, terutama kekerasan seksual, yang menimpa anak-anak menjadi salah satu faktor pemicu perhatian 'Aisyiyah pada problem  ini.

Shoimah menjelaskan, jika dirunut ke belakang maka problematika yang dihadapi oleh anak perempuan saat ini adalah ancaman nikah muda demi alasan meringankan ekonomi keluarga. Shoimah menyebutkan Indonesia sendiri masih masuk dalam peringkat ke-dua se-Asia Tengara dalam urusan pernikahan anak. "Di Indonesia sendiri ada Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah. Yang tertinggi itu Kalimantan Selatan," ujar Shoimah. Persoalan ekonomi bukan menjadi satu-satunya alasan mengapa perkawinan anak terjadi. Faktor lain adalah adanya budaya, misalnya budaya kawin lari yang ada di Suku Sasak Lombok.

Menghadapi risiko ini, salah satu agenda yang dilakukan 'Aisyiyah adalah keberadaan program GACA (Gera- kan' Aisyiyah Cinta Anak). Gerakan ini, menurut Shoimah menjadi perpanjangan tangan dalam misi peralihan perkawinan anak. "Kita harus memberikan pemahaman tentang pernikahan harus dilakukan saat sudah dewasa dengan baik, agama, dan sosial ekono- minya Aktivis 'Aisyiyah juga sudah semestinya membaur bekerja sama dengan para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemegang saham lokal agar aspirasinya mendapat dukun gan dari banyak pihak dan sepenuhnya tidak dinyanyikan pihak luar membantu terlaksananya visi tersebut.

untuk mengatasi kekerasan seksual yang terjadi pada anak-anak, ‘Asyiyah menekankan pentingnya pengawasan orang tua terhadap anak, karena tak sedikit kasus kekerasan pada anak justru dilakukan oleh orang-orang terdekat. "Ibu jangan menyerahkan anak kepada orang lain. Tetap harus mengawasi. Salah satu caranya adalah dengan menumbuhkan rasa saling menguatkan di antara keluarga,"ungkap Shoimah.

Menurut Shoimah, ketika terjadi kekerasan seksual kepada anak-anak, maka orang-orang Majelis Kesejahteraan Sosial 'Aisyiah akan siap untuk mendampingi. Apabila anak perlu mendapatkan bantuan advokasi hukum, maka ia akan dibantu oleh PUSBAKUM yang dibentuk oleh Majelis Hukum dan HAM. "Nah jika keluarga juga perlu disentuh aspek keagamaannya juga, itu tugas dari BIKSA (Biro Konsultasi Keluarga Aisyiyah”.

 

 Sasaran Makesos lain selain anak-anak adalah lansia Menurut Shoimah, lansia menurut definisi WHO adalah seseorang yang berusia di atas 85 tahun. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sendiri membiasakan tidak adanya panti jompo karena kader-kadernya ditanamkan keyakinan bahwa berbakti pada orang tua adalah salah satu upaya memperoleh surga. Untuk mengatasi ini, maka 'Aisyiyah mengembangkan program lansia daycare dan pesantren lansia. Lansia daycare sendiri tempat di mana anak bisa menitipkan orang tuanya, baik setiap hari maupun bebera hari dalam seminggu, namun tiap hari pula lansia akan pulang kembali ke rumah. Hal ini dilakukan supaya orang tua tetap merasa dibutuhkan dan tidak dibuang.

Pesantren lansia adalah tempat orang-orang lansia diberikan bekal seperti materi penguatan akidah hingga materi-materi kesehatan fisik, psikologis, dan mental. Menjadi orang tua itu kembali menjadi labil. "Sudah merupakan ketentuan dari Allah di surah Ar-Rum ayat 54 bahwa manusia dilahirkan dari lemah, kuat, dan lemah lagi. Bisa juga sikap dan pola pikiran sehingga labil seperti remaja juga. Mereka harus dikuatkan emosinya supaya merasa tetap punya harga diri dan merasa dibutuhkan,”tegasnya.

Selain Anak Dan lansia, Yang menjadi fokus perhatian ‘Aisyiyah adalah kaum difabel. Shoimah sendiri mengakui bahwa kaum difabel belum banyak mendapatkan perhatian dari Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Panti difabel Muhammadiyah sendiri hanya ada di lima wilayah yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Riau, Sumatera Utara, dan Bengkulu.

Salah satu hal yang dirasa berat oleh banyak pengurus 'Aisyiyah adalah perlunya pendamping khusus untuk  difabel. Shoimah menambahkan, Makesos sendiri men- gakalinya dengan membuat sebuah terobosan baru yakni membuat panti difabel di mana dalam panti tersebut menerima misalnya 40 orang yang normal dan 5 orang difabel. Anak-anak yang biasa justru Menjadi pendamping Anak-anak difabel.

 

Selain anak dan lansia, yang menjadi fokus perhatian ‘Aisyiyah adalah kaum difabel.

 

Bidang Kesehatan

Dalam majelis kesehatan, isu kesehatan reproduksi sendiri menjadi fokus yang digarap ‘Aisyiyah di abad kedua ini.  Menurut Tri Hastuti, beberapa faktor pemicu antara lain tingginya angka kematian ibu,akses perempuan terhadap informasi dan layanan kesehatan reproduksi yang sangat minim. “Selain itu biasanya sudah ada kebijakan tetapi pelaksanannya belum,” ujar Tri.

Tri menambahkan bahwa setidaknya agenda strategis dibagí menjadi dua agenda yakni edukasi dan agenda avokasi. Edukasi mengenai kesehatan reproduksi biasanya dilakukan kepada komunitas karena tak Sedikit akses informasi yang diterima oleh komunitas. Cara kerjanya salah satunya dengan  merepresentasikan ulang ayat-ayat dalam al -Qur'an dan kaitannya dengan isu reproduksi dan kesejahteraan peranperempuan dan laki-laki dalam tugas reproduksi. Misalnya ketika Perempuan sedang melakukan peran reproduksi seperti hamil, maka suami perlu mengambil peran dengan menafkahi istri sepenuhnya. Sedangkan ketika ibu sedang menjalankan peran menyusui, maka suami bisa membantu dengan memberikan gizi yang baik pada Ibu dan anaknya atau melakukan pijat oksitosin. Supaya tidak terjadi beban ganda pada perempuan yang sudah mendapat tugas reproduksi.

Agenda advokasi, menurut Tri Hastuti, dilakukan dengan cara menggagarkan dana desa hingga hingga APBD untuk memperbaiki layanan kesehatan ini harusnya ada diadakan mulai dari tingkat fasilitas di tingkat pertama. Fasilitas kesehatan ini bisa berupa konseling kehamilan, senam hamil, konseling menyusui, konseling gizi.

 

Dalam melakukan edukasi dan advokasi kesehatan reproduksi, setidaknya ada dua tantangan yang dihadapi oleh ‘Aisyiyah Tri Hastuti menyebutkan bahwa tantangan pertama adalah isu kesehatan reproduksi yang masih menjadi isu pinggiran baik di tingkat desa hingga nasional. Isu ini dianggap tidak penting baik oleh masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pemerintah. Tantangan kedua adalah sulitnya membangun wacana kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam kesehatan reproduksi. Selama ini karena perempuan yang memiliki rahim maka dianggap peran reproduksi mutlak diemban oleh perempuan. "Oleh karena itu laki-laki dianggap tidak ada memiliki kewajiban. Dan mengubah wacana ini sulit karena sudah menjadi budaya yang mengakar”, pungkas Tri hastuti.(d)


Link Terkait: http://suaraaisyiyah.aisyiyah.or.id/id/berita/penguatan-keluarga-sebagai-fondasi-agenda-strategis-aisyiyah.html