Mahasiswi UM Purworejo Ubah Kulit Pisang Menjadi Cemilan Sehat

MUHAMMADIYAH.ID, PURWOREJO—Kulit pisang banyak dibuang, dianggap tidak berguna dan hanya sebagai makanan ternak, namun di tangan mahasiswa Agribisnis Universitas Muhammadiyah (UM) Purworejo disulap menjadi makanan cemilan sehat.

Berbekal kemampuan yang mereka miliki, Anisa Dewi Safitri (agribisnis),  Rani Indah Sari (agribisnis), Imas Patimah (agrbisnis) dan Murtirinatun (agribisnis), berhasil menyulap kulit pisang yang awalnya tidak bernilai menjadi cemilan sehat yang bisa menambah pundi ekonomi. Yang mereka beli label  MASKUPIS (Marshmellow Kulit Pisang) dibandrol dengan harga yang terjangkau, yakni Rp. 10.000/pouch.

Arta Kusumaningrum selaku dosen pendamping TIM Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) MASKUPIS mengaku bahwa produk ini  sangat kreatif karena mampu mengubah kulit pisang menjadi bahan makanan.

“Produk  Marshmellow kulit pisang ini sangat kreatif dan ekonomis karena bahan utamanya kulit pisang,  yang   bisanya hanya digunakan untuk  makan ternak ini dibuat sebagai bahan  makanan,” ungkapnya dalam keterangan pers pada, Rabu (18/6)

Dari produk tersebut TIM PKM berhasil mendapat pendanaan dari Riset Teknologi Pendidikan Tinggi (RISTEKDIKTI) pada tahu 2019.


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16938-detail-mahasiswi-um-purworejo-ubah-kulit-pisang-menjadi-cemilan-sehat.html

SD Muhammadiyah 1 Ketelan Siapkan Strategi E-Learning 4.0

MUHAMMADIYAH.ID, SOLO – SD Muhammadiyah 1 Ketelan menggelar workshop bertajuk “Peningkatan Mutu Pembelajaran dan E-Learning di era 4.0” pada Senin hingga Selasa 17-18 Juni 2019 di Aula sekolah. Kegiatan diikuti sebanyak 75 guru karyawan, driver dan tim dapur sekolah.

Kegiatan akan diisi oleh Jaka Prasetya, Lilik Haryono tim pengembang TIK dan Satlantas Polresta Surakarta Novilia.

Kepala Sekolah Sri Sayekti menyampaikan bahwa sekolah menyadari betul tentang pentingnya menyiapkan strategi untuk menghadapi era 4.0. Ia mengatakan bahwa sekolah memerlukan sebuah terobosan seperti optimalisasi e learning yang menyediakan layanan dan  memudahkan siswa untuk belajar dan memperkuat skill baik di level individu maupun secara kolektif.

“Kami tengah menyiapkan sebuah program yang bisa  mengintegrasikan, memadukan, menyelaraskan  program-program sekolah yang lain, sehingga visi misi tercapai serta budaya mutu sekolah tetap terjaga dengan baik,” katanya. (nisa)

Sumber: Jatmiko


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16937-detail-sd-muhammadiyah-1-ketelan-siapkan-strategi-elearning-40.html

Konsolidasikan Keuangan Mikro, BTM Pekalongan Dirikan Kantor Pusat

MUHAMMADIYAH.ID, PEKALONGAN -Setelah melakukan merger 12 Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM) di Kabupaten Pekalongan, akhirnya BTM Pekalongan mendirikan kantor pusat baru di kecamatan Kajen, Pekalongan Jawa Tengah, Senin (17/6).

Usai peresmian pembukaan kantor pusat BTM Pekalongan yang dibarengi dengan pengajian akbar dan silaturahmi Muhammadiyah Pekalongan bersama Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Ekonomi Anwar Abbas, Ahad (16/6), Ketua Induk BTM Achmad Suud menyatakan dengan didirikannya kantor pusat tersebut, konsolidasi dan integrasi jaringan BTM se-Pekalongan dipusatkan di kantor baru.

"Dengan gedung tiga lantai yang sangat luas, keberadaan kantor pusat BTM Pekalongan sekaligus sebagai kebanggaan bagi anggota BTM dan warga Muhammadiyah Pekalongan," ujar Suud.

Selain sebagai pusat pelayanan dalam transaksi keuangan, kantor BTM juga dimanfaatkan oleh anggota BTM dalam kegiatan pengembangan sumber daya manusia (SDM), seminar ekonomi syariah dan berbagai edukasi anggota dalam penguatan dan pengembangan BTM.

Melihat hal tersebut, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi dalam peresmian kantor pusat BTM Pekalongan menuturkan bahwa peran dan fungsi BTM Pekalongan banyak dirasakan banyak oleh masyarakat Pekalongan. Menurutnya, secara makro kinerja keuangan Kabupaten Pekalongan pada tahun 2018 menunjukkan bahwa Laju Percepatan Ekonomi sebesar 5,35% lebih tinggi dari capaian tahun 2017 yang 5,28%.

Asip Kholbihi menyakini keberadaan BTM di Pekalongan memiliki kontribusi terhadap pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) selama ini.

"Untuk itu kami akan selalu sinergi dengan BTM dalam membangun kabupaten Pekalongan," tegasnya.

Wujud Konkret Pilar Ketiga Muhammadiyah

Sementara itu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Ekonomi Anwar Abbas menilai Pengembangan BTM yang dilakukan oleh Muhammadiyah diseluruh Indonesia sebagai wujud konkret pengembangan pilar ketiga Muhammadiyah yaitu ekonomi.

"Terkait dengan hal itu Pimpinan Pusat Muhammadiyah akan mendukung penuh berbagai upaya yang dilakukan oleh Induk BTM dalam membangun jaringan BTM di seluruh tanah air," terang Anwar.

Untuk membumikan Gerakan Microfinance Muhammadiyah dalam mendirikan satu Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) satu BTM, Anwar Abbas akan mendukung diselenggarakannya gelaran nasional BTM yang diselenggarakan di Pekalongan Jawa Tengah yang akan dihadiri oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan PDM seluruh Indonesia.

Dengan gelaran tersebut, PWM dan PDM yang belum punya BTM akan belajar secara langsung bagaimana mendirikan BTM sebagai pusat keuangan Muhammadiyah.

Apalagi, kepercayaan terhadap BTM saat ini banyak diperoleh dari berbagai pihak seperti Kemenkop UKM, Kemenkeu, KNKS, Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersinergi dengan BTM dalam menjalan program pengembangan UMKM. Begitu juga dengan perbankan syariah dan asuransi syariah juga melakukan hal yang sama agar BTM kuat dalam menjalankan operasionalnya.

"Kita berharap agar BTM kedepan menjadi lembaga keuangan yang tangguh dan kuat dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional," tegas Anwar Abbas. (Afandi)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16936-detail-konsolidasikan-keuangan-mikro-btm-pekalongan-dirikan-kantor-pusat.html

Pesan Tegas Dr. Anwar Abbas, Agar Ekonomi Indonesia Tidak Dikuasai Asing dan Aseng

Salah satu titik lemah umat Islam adalah dalam bidang ekonomi. Kita mengeluh terus ekonomi kita dikuasai oleh asing dan aseng. Tapi kita tidak pernah serius untuk membenahi kelemahan dan ketertinggalan kita.

Dunia pendidikan kita banyak melahirkan lulusan tapi nyaris seluruhnya menjadi pencari kerja. Akhirnya mereka bekerja pada asing dan aseng. Sehingga ekonomi dan bisnis asing dan aseng bertambah besar. Sementara ekonomi kita naik sedikit karena kita hanya jadi jongos mereka.

Dr. Anwar Abbas, Ketua PP Muhammadiyah dan Sekjen MUI
Dr. Anwar Abbas, Ketua PP Muhammadiyah dan Sekjen MUI
(sumber foto: twitter)


Untuk itu dalam dunia pendidikan kita harus dibiakkan virus entrepreneur atau intrapreneur agar para lulusan kita itu menjadi orang-orang yang mandiri. Untuk itu saya punya saran supaya minimal satu kali sepekan yang berdagang di kantin dan di halaman sekolah kita itu bukan si abang-abang dan atau si mpok-mpok. Tapi anak-anak didik kita.

KH AR Fachruddin bilang, kalau engkau ingin anak-anak didikmu seperti yang engkau kehendaki maka biasakanlah mereka dengan apa yang engkau kehendaki dan inginkan tersebut.

Kalau kita ingin anak-anak didik kita menjadi lulusan yang maju ekonomi dan bisnisnya maka biasakanlah mereka dengan kehidupan ekonomi dan bisnis tersebut.

Kalau mereka ingin menjadi produsen dan distributor atau pedagang bantu mereka dalam mengembangkan bakatnya. Jika ini kita lakukan maka 20 atau 30 tahun yang akan datang struktur orang terkaya di negeri ini akan berubah.


Kalau hari ini dari 10 orang terkaya di negeri ini 9 orang non-Muslim. Padahal jumlah kita 90 persen. Sementara mereka hanya 10 persen. Akibatnya apa yang terjadi? Kata Jefry Winters dan Noam Chomsky yang akan menjadi penentu di suatu negeri itu bukan para politisi, cendekiawan, atau tentara dan polisi, tetapi orang yang menguasai sumber daya material di negara tersebut—di Amerika Serikat Yahudi dan di Indonesia China.

Kenapa mereka? Karena mereka-lah yang menguasai ekonomi dan politik. Kenapa mereka juga yang menguasai politik? Karena politik kita politik transaksional. Ingin jadi bupati, walikota, atau gubernur perlu duit.

Kita tidak punya duit akhirnya minta-minta sama pemilik kapital. Apa akibatnya? Kita akan menjadi tawanan dari pemilik kapital tersebut. Celakanya, karena ekonomi dan politik sudah dalam tangan dan genggaman mereka, ingat kata-kata Milton Friedman. Bila economic power dan political power sudah ada di satu tangan yaitu si pemilik kapital yang super besar maka dia akan melahirkan rezim yang tiranik atau dzalim.

Di mana hukum akan tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Dan itu sepertinya sudah tampak di negeri ini. Mengapa fenomena itu bisa terjadi? Karena firman Tuhan sudah terlanggar. Dia telah mengingatkan kita supaya menjauhi likayla dulatan baynal aghniya tapi kita tdk menghiraukannya. Oleh karena itu kalau ada hadits yang mengatakan uthlubul ilma walau bishshin tuntutlah ilmu meskipun ke negeri China maka kita tidak usah pergi belajar ke Beijing atau ke Hongkong. Kita belajar saja denga.China yang ada di negeri kita ini.


Kita pelajari apa yang mereka lakukan terhadap anak-anak mereka. Kok bisa suatu usaha yang mereka bangun panjang umurnya dan semakin maju dan maju? Kakeknya mati dilanjutkan oleh bapaknya. Bapaknya mati dilanjutkan oleh anaknya. Anaknya mati dilanjutkan oleh cucunya. Cucunya mati dilanjutkan oleh cicitnya.

Kalau bagi kita tidak. Mati bapaknya matilah usahanya karena anaknya jadi PNS dan jadi pejabat di pemerintahan. Berapa gaji mereka? Jenderal Rudini ketika jadi Menteri Dalam Negeri bilang kalau ada PNS anak buahnya yang punya rumah di Pondok Indah dan hidupnya hanya dari PNS maka pasti dia korupsi.

Inilah yang harus menjadi renungan kita. Jangan hanya ikut gendang yang ada tapi kita harus bisa melakukan terobosan. Kurikulum kita harus disempurnakan agar kita bisa punya SDM yang mampu mendorong umat Islam ini ke puncak kejayaannya kembali.

Dan salah satu upaya kita adalah dengan menutup titik lemah kita umat Islam yaitu dalam bidang ekonomi dan bisnis. Untuk itu kita harus serius mengurusi dan memajukan umat dalam masalah ini. (*)

Link Terkait: https://www.muhammadiyah.online/2019/06/pesan-tegas-dr-anwar-abbas-agar-ekonomi.html

Rektor UMY Sampaikan Gagasan Artificial Intelegence di Konferensi Universitas Se- Asia Pasifik

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Kemajuan teknologi saat ini memungkinkan penerapan Kecerdasan Buatan (artificial intelegence/AI) untuk digunakan dalam berbagai kegiatan sehari-hari, termasuk didalamnya aktivitas pendidikan di perguruan tinggi. Inovasi tersebut tentu akan semakin memudahkan tugas dosen dalam kelas, karena dengan AI yang memiliki kemampuan untuk mengelola kelas maka dosen akan memiliki waktu lebih untuk melakukan tugas lainnya seperti penelitian dan pengabdian.

Hal itu menjadi penyampaian Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Gunawan Budiyanto dalam Konferensi Universitas Se-Asia Pasifik, pada 23-25 Mei 2019. 

“Adanya artificial intelegence atau AI sekilas memang menjadi terobosan yang bermanfaat saat digunakan di perguruan tinggi, misalnya saat digunakan bagi dosen, namun bagi negara dengan komunitas yang masih memegang tehuh nilai sosial luhir. Hal ini menjadi isu tersendiri,” ujar Gunawan Budiyanto dalam keterangannya pada, Senin (27/5).

Dalam pertemuan ilmiah yang melibatkan 48 universitas dari Asia dan Pasifik ini mengangkat tema megenai kesiapan perguruan tinggi dalam menggunakan dan memanfaatkan kecerdasan buatan dalam proses belajar mengajar itu, UMY sebagai Board Member (anggota dewan) dari asosiasi ini diberi kepercayaan untuk menahkodai salah satu pemateri dari Honkong yang mebahas proses penggunaan instalasi robotic dalam pembelajaran STEM (science, technology, engineering & mathematic).

Dalam penyampainya itu, Gunawan mengatakan, berkat revolusi industri kini ada banyak negara yang sudah menggunakan mekanisme kecerdasan buatan dalam proses pembelajaran. Terutama dalam engineering dan kesehatan, AI ini akan sangat membantu dalam memperlancar dan memperjelas proses pratikum, perumusan tugas akhir, juga perencanaan lain. Sehingga suatu saat dosen dapat membagi waktunya separuh untuk penelitian mandiri dan separuh untuk mengajar, dan tidak perlu lagi dosen masuk setiap minggu karena AI bisa menjadi asisten dosen yang dapat mengambil alih tugas dalam kegiatan mengajar dalam kelas.

Gunawan menyebutkan bagi UMY kemajuan terknologi saat ini menjadi inspirasi bagaimana menggunakan AI dalam proses pembelajaran, namun bukan untuk menggantikan tugas dosen dalam kelas secara keseluruhan.

“Karena kita memahami bahwa proses pembelajaran tidak hanya sekedar transfer of knowledge tapi juga transfer of value dan pembangunan karakter sehingga tidak mungkin untuk menyerahkan seluruh proses belajar mengajar kepada asisten robot. Ini yang juga dirasakan oleh negara dengan komunitas nilai sosial yang masih kuat seperti Brunei Darusalam, Malaysia, Filipina dan Vietnam,” paparnya.

Sementara dalam keterangannya Gunawan menuturkan dari hasil diskusi pertemuan ilmiah Konferensi Universitas Se-Asia Afrika akhirnya mengarah pada bagaimana membuat teknologi ini lebih manusiawi dan tidak menggantikan, menggeser, atau memarjinalkan nilai kemanusiaan. Karena bagi UMY kemajuan teknologi harus menjadi perantara dalam membangun karakter dan mewariskan nilai yang luhur. (Andi)

Sumber: Humas UMY 


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16808-detail-rektor-umy-sampaikan-gagasan-artificial-intelegencedi-konferensi-universitas-se-asia-pasifik.html

Atasi Perubahan Iklim, Dosen UMY Inisiasi Eco Village

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL - Perubahan iklim yang terjadi dengan cepat memerlukan langkah nyata dari masyarakat. Berangkat dari inilah, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengadakan Program Pengembangan Eco Village di Desa Kuncen RT 1 RW 9, Cawas, Klaten.

Gatot Supangkat, dosen Fakultas Pertanian, sekaligus ketua LP3M UMY mengatakan, program eco village ini meliputi pengembangan bank dan sedekah sampah serta fasilitasi pembangunan alat pemanen air hujan.

“Melalui program Eco Village ini, kami berharap partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan, terutama perubahan iklim yang terjadi dengan cepat saat ini,” tambahnya dalam penutupan program pengabdian di Cawas, Klaten pada Senin (27/5).

Program pengabdian ini melibatkan dua dosen lain dari Teknik  Mesin dan Ilmu Komunikasi, Teddy Nurcahyadi dan Fajar Junaedi.

Pelibatan dosen dari berbagai prodi ini ditujukan agar program komprehensif.

Gatot juga menjelaskan bahwa program ini diharapkan menjangkau desa-desa lain dengan Desa Kuncen sebagai pilot project.


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16806-detail-atasi-perubahan-iklim-dosen-umy-inisiasi-eco-village.html

Pak AR Sang Penyejuk

Oleh Haedar Nashir

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Siapa kenal Pak AR? AR nama panggilan populer dari Abdul Rozak. Nama lengkapnya Abdur Rozak Fachruddin, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah hampir sepanjang era Orde Baru, dari tahun 1968 sampai 1990. Bagi anggota generasi lama Muhammadiyah dan umat Islam maupun masyarakat umum tentu sangat mengenal sosok satu ini. Kita tidak tahu memori anak-anak generasi milenial, semoga mereka mengenal Pak AR Fachruddin. Sosok bersahaja yang menampilkan aura keteladanan yang alami.

Adalah Syaifudin Simon, seorang penulis yang pernah kos di kediaman tokoh Muhammadiyah ini selama dua tahun (1978-1980), menulis buku tentang figur Pak AR Fachruddin yang menjadi idola ketakjubannya. Judul bukunya menarik sebagaimana dikutip langsung dalam judul tulisan ini, “Pak AR Sang Penyejuk”. Ketua PP Muhammadiyah ini lahir di Yogya tanggal 14 Februari 1916, wafat 17 Maret 1995 setelah memimpin organisasi Islam modern  terbesar selama sekitar 27 tahun. Ulama dan tokoh yang selain dikenal sederhana, yang juga menonjol ialah sikap dan pemikirannya yang santun dan moderat. Sikap tengahannya sangat mewarnai karakter dirinya, dengan tetap kokoh dalam prinsip tetapi luwes dan lembut dalam cara.

Kenapa menjadi Sang Penyejuk? Simon memberi kesaksian berikut ini, “Aku baru sadar, ternyata pengaruh Pak AR luar biasa. Kisah hidupnya yang mengesankan  —sederhana, ikhlas, santun, baik pada semua orang, dan humoris— benar-benar seperti air segar yang menyejukkan jiwa di tengah gersang keteladanan. Umat Islam, baik Muhammadiyah dan NU, ternyata sama-sama merindukan sosok teladan seperti Pak AR. Seorang ulama yang berdakwah tanpa pamrih, bercucur keringat untuk membimbing umat, dan memberikan keteladanan sikap hidup setiap saat.”.

Banyak sisi humanis maupun sikap dan pemikiran Pak AR, yang dinarasikan dengan menarik dalam buku karya Syaeifuddin Simon yang baru terbit ini. Buku hasil kumpulan tulisan yang dipublikasikan terutama melalui media sosial yang cukup lama. Simon yang pada awalnya tidak mengenal Pak AR di mana rumahnya menjadi tempat kos dia selama dua tahun, baru tahu kalau tokohnya itu ternyata orang ternama dan Ketua PP Muhammadiyah. Sosok tokoh yang menurut Ahmad Syafii Maarif disebut tawadhu’, ikhlas, sederhana, zuhud, dan wara’.

Dikisahkan pula bagaimana Pak AR memimpin Muhammadiyah dengan sejuk dan moderat tetapi tetap kokoh dengan prinsip di tengah rezim Orde Baru yang makin lama kian otoriter, termasuk saat-saat kritis sekitar kebijakan Azas Tunggal Pancasila. Buku ini khususnya bagi warga Muhammadiyah layak dibaca, menambah referensi buku-buku Pak AR yang ditulis Drs H Syukriyanto AR, M.Hum, yang juga putra Ketua PP Muhammadiyah yang populer tetapi rendah hati itu. Juga buku lain karya Prof Abdul Munir Mulkhan. Plus film dokumenter sederhana “Meniti 20 Hari” tentang sosok tokoh Muhammadiyah ini.

Penulis artikel ini mengenal Pak AR sejak tahun 1979 akhir ketika pertama merantau ke Yogya sampai akhir hayat beliau tahun 1995. Waktu itu penulis aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) wilayah DIY dan kemudian PP IPM serta di Badan Pendidikan Kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Peluang mengenal dan dekat dengan Pak AR maupun tokoh Muhammadiyah lain yang semuanya egaliter sangat terbuka. Pak AR memang bersahaja, rendah hati, dan ramah dengan siapapun. Kepada anak-anak muda biasa menyapa, kadang bercanda ringan. Ketika suatu ketika penulis  —waktu itu bersama Mas Ismail Siregar— mewawancari beliau di kediamannya, Pak AR bertanya santai sambil menyindir, ”wartawan apa hartawan?”. Wah, mana mungkin mahasiswa pejalan kaki seperti kami hartawan. Beliau sangat cair dan lemah lembut tetapi tetap berwibawa serta membuat kita segan dan takzim.

Beruntung penulis sempat mengenal Pak AR Fachruddin tokoh wibawa yang tulus dan bersahaja. Sebagaimana penulis sempat memgenal tokoh Muhammadiyah lainnya di era Pak AR seperti Buya Malik Ahmad, H Djarnawi Hadikusumo, Drs H Lukman Harun,  KH Djindar Tamimy, KH AHmad Azhar Basyir, dan lain-lain. Banyak kearifan dan mutiara-mutiara cerdas yang dapat dijadikan rujukan dalam kehidupan. Selama mengenal Ketua PP Muhammadiyah ini, kita belajar pentingnya hidup secara autentik. Hidup tanpa topeng dan ambisi berlebih melampau kemestian, tetapi tetap bersungguh-sungguh dengan pengkhidmatan yang tulus dan optimal.

Pada posisi ini pemimpin lahir bukan sebagai sosok-sosok instrumental yang gagah perkasa, yang membahana dan menggetarkan jagat raya. Tetapi sebagai figur  apa adanya,  namun sangat kuat selaku role-model  atau suri teladan. Sosok yang membumi, bukan figur di atas langit nan tak tersentuh. Bukan pula sosok penuh mitos dan kultus. Sebuah kehadiran figur yang bersahaja namun memberi inspirasi spiritual tinggi, mengalahkan sosok virtuoso atau keperkasaan Sang Rubah dalam idealisasi kepempinan ala Niccolo Machiavelli.

Apakah sosok Pak AR sebagai Sang Penyejuk masih dirindukan publik saat ini tatkala sebagian ruang sosial kita cenderung didominasi nuansa garang, galak, keras, dan digdaya? Tokoh yang dianggap heroik adalah mereka yang tampil  serba kritis-instrumental, oposan,  dan perkasa. Suatu suasana yang mungkin saja dipandang paradoks dan tidak akan populer, karena sifat sejuk dan moderat dikesankan lemah. Sikap seimbang meski kritis dan menjaga prinsip tetap dipandang lembek, sebab kalah hebat dari tampilan yang serba mengepalkan tangan ke khalayak publik. Meski boleh jadi arus besar masyarakat Indonesia masih tetap berwajah tengahan dan ramah, hanya saja mungkin kalah nyaring oleh suara-suara bising di tengah kegaduhan.

Mas Simon berbagi informasi bagaimana tanggapan publik atas tulisan-tulisannya tentang Pak AR Fachruddin. Tulisan-tulisan dia mengenai sosok PAK AR justru diminati khalayak dari banyak kalangan, bukan hanya dari Muhammadiyah. Ulil Abshar Abdala dari Nahdhatul Ulama termasuk yang meminati. Menurut wartawan Republika Mohammad Subarkah, bahwa tulisan Simon di Republika Online tentang Sang Panyejuk belum sampai hitungan jam dibaca sampai 300.000 orang. Publik rupanya mendambakan sosok-sosok pemimpin yang menyejukkan. Laksana oase di gurun sahara.

Menariknya, Simon mengekspresikan sosok KH AR Fachruddin seputar sikapnya yang menyejukkan dalam untaian narasi puisi. Berikut salah satu bait puisi Bung Simon tentang Pak AR Sang Penyejuk:

“Pak AR,

Kala terik mentari menyengat tubuh

Kau datang membawa cahaya teduh

Kau suguhkan tirta ‘tuk sejukkan jiwa

Manusia gersang yang terpagut nafsu amarah”.

Tulisan ini dimuat di Republika Selasa 13 Juni 2018.


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-14247-detail-pak-ar-sang-penyejuk.html

Hadapi Revolusi Industri, Pelajar Indonesia Perlu Memperkuat 4C

MUHAMMADIYAH.ID, GUNUNGKIDUL-- Menghadapi revolusi industri 4.0, pelajar Indonesia perlu memperkuat pilar ketiga tentang 4C, creativative, critical thinking, communication, collaboration, dan ditambah confident. Pilar ketiga ini bukan hanya disodorkan hanya sebatas pengetahuan, tetapi juga harus dikurikulumkan sehingga dampak terhadap perkembangan murid bisa langsung dirasakan.
 
Hal tersebut disampaikan oleh Didik Suhardi, Sekretaris Jendral (Sekjend) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) dalam Seminar Nasional "Arah Pendidikan Nasional Menghadapi Revolusi Industri 4.0" yang diselengarakan oleh Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah Al Mujahidin, Gunungkidul pada Sabtu (25/5).
 
"Pilar ketiga yang awalnya hanya 4C, oleh Pak Mentri kemudian ditambah 1C lagi yaitu Confident atau percaya diri. Percaya diri ini perlu sebagai bekal para murid nantinya dalam menghadapai revolusi industri 4.0, karena kedapan persaingan terjadi bukan hanya antar manusia tetapi juga kecerdasan buatan (artificial intelengent)," urainya.
 
Secara operasional, kreatif dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang mencerminkan fleksibilitas dan originalitas dalam berfikir.
 
Selanjutnya, berpikir kritis atau critical thingking ialah pembelajaran berbasis masalah ke penyelesaian masalah, melalui pembelajaran demikian peserta didik dikondisikan untuk dapat memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan rumit. Komunikasi, pada abad digital informasi tentu komunikasi ini memakai jaringan digital yang memungkinkan hilangnya sekat wilayah, sehingga wawasan peserta didik semakin luas.
 
Kemudian kolaborasi, pada revolusi industri kecenderungan manusia akan lebih condong kepada kecerdasan individu dan lebih mengkesampingkan kerja sama tim, kurang mampu mengendalikan emosi. Maka, kolaborasi merupakan soft skill yang mutlak dimiliki oleh peserta didik sehingga kemampuan intelektual mereka bisa diarahkan.
 
Selain itu, perbaikan pola didik kepada murid jugan harus memiliki pembaharuan. Tidak bisa semua cara didik lama diterapkan kepada generasi milenial sekarang ini. Karena memang generasi ini unik dan beda dengan generasi sebelumnya, maka pembaharuan menjadi poin penting dalam mencetak peserta didik yang unggul dann siap menghadapi tantangan revoluis industri 4.0.
 
"Sekolah swasta, termasuk didalamnya milik Muhammadiyah lebih banyak memiliki kesempatan dalam melakukan metode pembaharuan ini," ungkapnya.
 
Fenomena bertambahnya kuantitas sekolah, baik yang dimiliki oleh swasta maupun negeri saat ini tidak sebanding lurus dengan peningkatan kualitas dan mutu dari sekolah-sekolaj tersebut. Hal ini menjadikan dua fakta yang berbeda, disatu sisi membangkan dan disisi lainnya menjadi pekerjaan rumah untuk segera dituntaskan, yaitu terkait peningkatan mutu dan kualitas sekolah.
 
Didik Suhardi menyarankan kepada penyelengara pendidikan untuk memiliki maping segala potensi yang dimiliki oleh wilayah garapnya. Hal ini penting sebagai tolok ukur dalam membangun atau mendirikan lembaga pendidikan baru. Ia juga berterimakasih kepada Muhammadiyah yang telah sejak lama memiliki perhatian serius terhadap pendidikan yang ada di Indonesia. Menurutnya, kehadiran Muhammadiyah sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang hadir jauh sebelum kemerdekaan telah banyak memiliki andil dalam pengentasan masalah pendidikan.
 
Sementara, Agus Suryono, Kepala sekolah SMP Muhammadiyah Al Mujahidin dalam sambutannya berharap, diusianya yang ke enam tahun, SMP Muhammadiyah Al Mujahidin mampu mencetak kader yang unggul. Serta mampu memberi manfaat kepada agama, bangsa dan negara.
 
"Kami berharap lulusan dari sini mampu menjadikan Indonesia sebagai negara yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur,"  tutupnya. (a'n

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16793-detail-hadapi-revolusi-industri-pelajar-indonesia-perlu-memperkuat-4c.html

Hadirnya UMKU Merupakan Bagian dari Muhammadiyah Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

MUHAMMADIYAH.ID, KUDUS- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir hadiri peletakan batu pertama pembangunan Conventian Hall Center Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) sekaligus launcing perubahan status dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) menjadi Universitas berdasarkan SK Presiden Nomor 879/KPT/I/2018 pada Ahad (26/5).

Hadirnya lembaga pendidikan Muhammadiyah, khususnya UMKU merupakan bagian dari kontribusi Muhammadiyah mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Mencerdaskan kehidupan bangsa tidak cukup dengan berkumpul-kumpul secara massa, mencerdaskan kehidupan bangsa harus dengan membangun center of excellence,” ucap Haedar.

Haedar menjelaskan bahw Muhammadiyah membangun pusat-pusat keunggulan berangkat dari pandangan keagamaan Islam yang berkemajuan.

“Agama di Indonesia bukan lah beban, bukan masalah, dan juga bukan sumber masalah, tetapi agama menjadi sumber inspirasi kemajuan bangsa, dan Muhammadiyah mempelopori itu,” jelas Haedar.

Jika ada pandangan-pandangan negatif tentang agama, seperti agama sebagai sumber terorisme, radikalisme, bagi Haedar  ini telah mengalami bias dari dua hal, yakni pandangan luar tentang agama yang masih negatif, dan juga ada unsur-unsur di kalangan umat beragama yang pemahamannya masih terbatas,  lalu dengan agama yang terbatas itu lahirlah pandangan-pandangan dan sikap ekstrimitas, dan radikalisme.

“Ekstrimisme dan radikalisme itu bukan hanya ada di agama, tetapi juga ada di ideologi, dan bahkan ada juga dalam konteks kebangsaan yang disebut ultranasionalisme,” imbuh Haedar.

Sehingga, Muhammadiyah ingin melawan itu dengan sikap moderasi.

“Bahwa energi negatif itu harus dibilas dengan energi positif,” pungkas Haedar.

Hadir dalam acara tersebut Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Bupati Kudus, HM Tamzil, dan juga Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Tafsir.


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16795-detail-hadirnya-umku-merupakan-bagian-dari-muhammadiyah-mencerdaskan-kehidupan-bangsa.html

Memahami Proses Turunnya Al Qur'an

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA-- Bulan ramadhan menjadi bulan yang dinanti-nanti kedatangannya oleh umat Muslim. Menjadi bulan yang diberkahi, di dalamnya banyak terjadi peristiwa-peristiwa besar bagi umat Muslim, termasuk salah satu diantaranya adalah peristiwa diturunkannya al Qur'an.

"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al Qur'an sebagain petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang batil." (al Baqarah : 185), turunnya al Qur'an pada bulan ramadhan juga diperkuat ayat-ayat lain. Seperti al Qadar ayat 1, yang didalamnya menyebut malam lailatul qadar dimana malam tersebut hanya ada pada bulan ramadhan. ad Dukhan ayat 3, terindikiasi dengan menyebut malam yang diberkahi.

Namun pada zahir ayat-ayat tersebut bertentangan dengan kejadian nyata dalam kehidupan Rasulullah, yang dalam nyatanya al Qur'an diturunkan kepadanya selama 23 tahun dan dalam kejadian-kejadian tertentu. Menyikapi hal ini, ulama berpegang pada dua pendapat pokok dan satu pendapat hasil dari ijtihad sebagaian mufasir.

Pendapat pertama adalah al Qur'an diturunkan secara keseluruhan pada malam lailatul qadar dari lauh al-Mahfudz ke langit dunia (Bait al-'Izzah). Kemudian Malaikat Jibril menurunkannya kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur kurang lebih selama 23 tahun, 13 tahun di Makkah dan 10 tahun  di Madinah sesuai dengan kejadia-kejadian yang mengiringinya mulai sejak diutus dampai Beliau wafat.

Pendapat pertama ini berpegangan pada hadist yang diriwayatkan oleh Hakim dan Baihaqi. "Qur'an diturunkan pada malam lailatul qadar pada bulan Ramadhan ke langit dunia sekaligus; lalu ia diturunkan secara berangsur-angsur."

Pendapat kedua adalah ketiga ayat yang disebutkan di atas ialah permulaan turunnya al Qur'an kepada Rasulullah. Permulaan turunnya adalah pada malam lailatul qadar di bulan ramadhan, yang merupakan malam yang diberkahi. Kemudian turunnya berlanjut sesudah itu secara bertahap sesuai dengan kejadian dan peristiwa-peristiwa selama kurang lebih 23 tahun.

Hal ini merujuk pada surat al Anfal ayat 41, yang menerangkan tentang turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad pada hari bertemunya dua pasukan. Yang arah dari ayat ini adalah kepada perang Badar. Pendapat kedua ini juga berpegang dengan Hadist yang diriwayatkan oleh 'Aisyah tentang mimpi yang benar dan proses turunnya perintah atau wahyu pertama untuk membaca  (Iqra') ketika Rasulullah berTahannus di Gua Hira.

Selanjutnya, pendapat ketiga adalah al Qur'an diturunkan ke langit dunia selama dua puluh tiga malam lailatul qadar. Yang pada setiap malamnya selama malam-malam lailatul qadar ada yang ditentukan Allah SWT untuk diturunkan pada setiap tahunnya. Kemudian dari jumlah yang diturunkan tersebut diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah sampai wafatnya.

Mayoritas ulama berpendapat tidak ada pertentangan ayat berkenaan dengan turunnya al Qur'an dengan kejadian nyata dalam kehidupan Rasulullah. Karena yang pertama, al Qur'an memang diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam lalilatul qadar atau malam yang diberkahi. Kedua, kemudian diturunkan dari langit dunia secara berangsur-angsur. (a’n)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16788-detail-memahami-proses-turunnya-al-quran.html