Menengok Program Importir Bawang Putih yang Wajib Tanam Komoditasnya


KOMPAS.com
- Untuk mengejar target swasembada bawang putih pada 2021, pemerintah pun terus berupaya memperluas areal tanam komoditas tersebut. Importir bawang putih juga diwajibkan memproduksi 5 persen dari total penganjuran rekomendasi impornya.

Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi mengatakan, penanaman bawang putih oleh importir maupun APBN dilaksanakan di lokasi baru. Kegiatan ini dinamakan perluasan areal tanam baru (PATB).

"PATB penting sekali karena kunci swasembada adalah ekstensifikasi tanam dan peningkatan produktivitas panen," tegas Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi saat membuka pertemuan Evaluasi Wajib Tanam RIPH 2018 dan Sosialisasi Petunjuk Teknis Penanaman Bawang Putih di Yogyakarta, Jumat (22/2/2019) seperti dalam keterangan tertulisnya.

Hasilnya sejak diluncurkan program wajib tanam 2017 lalu hingga awal 2019, sudah tertanam 5.500 hektar (ha) bawang putih oleh importir.

Baca jugaWajib Tanam Bawang Putih Belum Tuntas, Kementan Tagih Komitmen Importir

Karenanya, Suwandi mengingatkan agar Dinas Pertanian turut membantu para importir yang masuk ke wilayahnya. Ia meminta dinas jangan mempersulit, tetapi harus membantu mereka.

Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi saat melakukan program swasembada bawang putih.Dok. Humas Kementrian Pertanian Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi saat melakukan program swasembada bawang putih.

Caranya adalah dengan melakukan pengecekan lapangan dan pengontrolan oleh penyuluhnya untuk mendampingi dengan baik.

"Tolong dibantu agar jangan sampai menurunkan semangat petani dan importir. Aturan Petunjuk Teknis juga harus memperhatikan kondisi lapangan dan tidak menyulitkan di tingkat pelaksana sampai pengawas," imbuh dia.

Hal senada itu disampaikan Valentino. Perwakilan importir bawang putih yang merealisasikan wajib tanamnya di Jawa Tengah ini meminta supaya kendala-kendala di lapangan menjadi perhatian pemerintah.

"Investasi kami untuk tanam bawang putih sudah miliaran. Kami juga diminta menyerap hasilnya untuk dijadikan benih. Kalau kami harus menanggung sarana dan infrastruktur perbenihan, tentu sangat memberatkan," ungkapnya di acara tersebut.

Untuk itu, ia meminta pemerintah membangun gudang benih, karena rumah-rumah petani sudah tidak mampu menampung produksi yang ada.

Dukungan satgas Polri

Sementara itu, Inspektorat Jenderal Kementan dan Satgas Pangan Polri, Kombes Pol Helfy Assegaf menyatakan, pihaknya siap berkomitmen mendukung pelaksanaan PATB. Ia pun berjanji bahwa kepolisian akan menindak pelanggar standar operasional (SOP).

Meski begitu, Helfy Assegaf menegaskan bahwa Satgas Pangan tetap mengedepankan preventif dan preemtif kepada petani dan importir. Tujuannya supaya tidak menimbulkan konflik sosial.

"Penegakan hukum diambil sebagai langkah terakhir. Kami sudah mengidentifikasi berbagai modus operandi penyimpangan pelaksanaan program ini. Kami berharap kedepannya bisa lebih baik lagi," kata Helfy yang juga menghadiri acara tersebut.

Baca jugaTerbukti Langgar Aturan, Kementan Ancam 21 Importir Bawang Putih

Sependapat dengan Helfy, Inspektur Jenderal Kementan, Justan Ridwan mengingatkan pihak-pihak yang bermitra untuk menjaga etika dalam menjalankan wajib tanamnya.

Faktor resiko yang diakibatkan gagal panen, gagal tanam, gagal pasar, bahkan gagal koordinasi perlu dijadikan pertimbangan dalam penyusunan aturan.

"Orientasi ke output yaitu tanamnya, jangan mempersulit," tegasnya.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Muh. Ismail Wahab menyatakan optimis program wajib tanam akan berjalan baik. Asalkan prinsipnya tidak mempersulit importir karena semangatnya ingin program ini berhasil.

"Selama komunikasi lancar, wajib tanam ini tidak ada yang terasa berat," ungkapnya di acara tersebut.


Link Terkait: https://ekonomi.kompas.com/read/2019/02/22/221059626/menengok-program-importir-bawang-putih-yang-wajib-tanam-komoditasnya

Pelantikan PW IPM DIY Gelorakan Spirit Kemandirian dan Anti Korupsi

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL - Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PW IPM DIY) periode 2018-2020 resmi dilantik di Pendopo Parasamya Kompleks Pemerintah Kabupaten Bantul pada Kamis, (21/2).

Pelantikan 45 personalia PW IPM mengusung tema "Rekonstruksi Gerakan sebagai Manifestasi Spirit Kemandirian Pelajar" dan dihadiri 120 tamu undangan dari unsur IPM, ortom Muhammadiyah, organisasi kepemudaan, serta pelajar se-DI Yogyakarta.

Hadir dalam acara tersebut Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas, Ketua Umum PP IPM Hafizh Syafaaturrahman, Sekretaris PWM DIY Sukiman, dan Kabag Administrasi Pemerintah Kabupaten Bantul Sukamto

Ketua PW IPM DIY periode 2018-2020 Ahmad Hawari Jundullah berharap potensi pelajar bisa dikumpulkan menjadi spirit kemandirian yang digaungkan hingga dua tahun ke depan.

"PW IPM DIY memiliki agenda aksi Griya Komunitas. Ada satu bidang baru, yaitu bidang Pengembangan Kreativitas dan Kewirausahaan, kita berharap banyak juga disitu," kata Jundul, sapaan akrabnya.

Sementara Ketua Umum PP IPM Hafizh Syafa'aturrahman berperan sudah saatnya IPM juga masuk ke sekolah (umum), taman pelajar, dan daerah-daerah.

“Kalau kita selalu terkungkung pada sekolah Muhammadiyah, maka pelajar di luar itu siapa yang bertanggungjawab?" tanya Hafizh seraya memotivasi PW IPM DIY untuk memperluas jangkauan dakwahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Busyro turut memberikan pesan-pesan yang kuat untuk memotivasi pelajar agar semakin mandiri sehingga terhindar dari godaan-godaan politik yang menjerumuskan pada perilaku koruptif.

Dengan masa bakti yang cenderung singkat, yaitu dua tahun, PW IPM DIY yang melingkupi ranah dakwah, keilmuan, serta minat-bakat didorong untuk dapat segera merealisasikan program, gerakan, dan agenda aksi tanpa terlalu banyak berkutat pada sosialisasi program. Hal ini perlu dilakukan demi keorganisasian PW IPM DIY yang efektif dan efisien.

Sumber: Nabhan


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16038-detail-pelantikan-pw-ipm-diy-gelorakan-spirit-kemandirian-dan-anti-korupsi.html

Majelis Dikti PP Muhammadiyah Raih Sertifikasi Internasional

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA -- Kantor Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Muhammadiyah mendapatkan sertifikasi International Organization for Standardization (ISO) 9001:2015 yang dikeluarkan oleh Tuv Rheinland. Sertifikat diserahkan pada Rabu (13/2) di Aula Lantai 2 Gedung Muhammadiyah.
 
Hasil audit menyatakan bahwa kantor Majelis Diktilitbang telah memenuhi persyaratan SNI ISO 9001:2015, yakni tentang pemeliharaan sistem manajemen mutu. 
 
Sekretaris Jenderal Diktilitbang Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, mengatakan bahwa proses audit kantor tak ubahnya muhasabah diri. Kegiatan audit ibarat cermin yang direfleksikan kepada diri sendiri, muhasabah sangat penting agar dapat objektif melihat sekaligus menilai celah-celah kekurangan dari diri pribadi.
 
“Kita sebagai majelis yang menaungi ratusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) selalu memberikan masukan, kritik, sekaligus saran untuk terus meningkatkan kualitas PTMA, tapi hari ini giliran cermin tersebut yang diarahkan kepada kita, semoga ke depan kita lebih baik lagi terutama dari segi administrasi dan kualitas pelayanan,” ujarnya. 
 
Sayuti melanjutkan bahwa sebagai majelis pertama di Muhammadiyah yang berhasil mendapatkan Sertifikasi ISO, dia berharap spirit tersebut menular di lingkungan Muhammadiyah dan khususnya PTMA, karena sebagai organisasi kemasyarakatan yang sudah berusia lebih dari satu abad, peningkatan kualitas mutlak dilakukan.
 
Kemudian Kepala Kantor Diktilitbang Muhammadiyah, Sunaryo MD menilai terbitnya sertifikat ini bukan sebagai ajang untuk menepuk dada, melainkan sebuah wujud apresiasi untuk terus meningkatkan pelayanan secara prima.
 
“Meskipun ukuran kantor majelis relatif kecil dengan tanggung jawab yang tidak main-main, melayani 171 PTMA, spirit peningkatan yang terukur dan terstandar mesti diberlakukan dan hari ini alhamdulillah apa yang dikerjakan lumayan berhasil, semoga terus konsisten dan semakin berkualitas,” ujarnya.
 
Sebagai informasi, skema audit sertifikasi dilakukan dua kali selama dua hari, yakni pada 12-13 Februari 2019. Hari pertama kantor majelis diaudit oleh satu auditor dengan audit plan mencakup Management Process, quality management process, sarana-prasarana, dan ketenagaan. Hari kedua, audit dilaksanakan oleh dua auditor dengan unit audit keuangan, proses persuratan, proses penerbitan SK-statuta, dan proses layanan kantor. Semua proses pelaksanaan audit dilakukan dengan metode interview. (nisa)
 
Sumber: diktilitbangmuhammadiyah.org

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15997-detail-majelis-dikti-pp-muhammadiyah-raih-sertifikasi-internasional.html

Muhammadiyah sebagai Tempat Berkhidmat Atas Dasar Kesukarelaan

MUHAMMADIYAH.ID, BENGKULU- Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ajak anggota, pimpinan dan siapa pun yan berkhidmat di Muhammadiyah untuk meneraca seberapa jauh kontribusi dalam menjalankan program dan kegiatan yang diamanatkan kepadanya.
 
Ajakan tersebut disampaikan Haedar dalam sambutan iftitah sidang pertama Tanwir Muhammadiyah 2019 pada Jum’at (15/2) di Kampus Universitas Muhammadiyah Bengkulu.
 
Hal ini perlu diserukan, mengingat dihadapakan pada tantangan yang akan dihadapi Muhammadiyah semakin kompleks. Sehingga, menggarap amal usaha, program dan kegiatan unggulan merupakan mandat yang harus dengan serius dituntaskan. 
“Karenanya, merupakan saat yang tepat pada kesempatan tanwir ini kita meneraca amanat yang singgah di pundak masing-masing untuk dengan serius dituntaskan," ucap Haedar.
 
Muhammadiyah sebagai tempat berkhidmat atas dasar kesukarelaan yang tidak ada paksaan. Akan tetapi, sebagai pimpinan ataupun kader tetap harus memiliki komitmen dalam setiap menjalankan amanat yang diembannya. 
 
Merujuk pada putusan Muktamar 2015, terhitung secara makro terdapat sebanyak 6 program umum dan 21 program perbidang yang mesti dilaksanakan secara tuntas. 
 
Tingginya frekuensi program yang harus dituntaskan di sisa kurang lebih satu setengah tahun pada periode ini. Maka, diperlukan melakukan akselerasi sebagai wujud keseriusan pertanggungjawaban pada organisasi.
 
Bukan hanya soal tantangan zaman, ajakan ini menurut Haedar merupakan perintah suci yang terdapat dalam al Qur’an.
 
“Silahkan kita merujuk pada surat Al Israa ayat 13-14, disana selain perintah untuk meneraca amal perbuatan kita,” tambah Haedar.
 
Maka, Muhammadiyah ingin menjadikan Islam teraktualisai dalam wujud Beragama yang Mencerahkan. Langkah pencerahan dimulai dari usaha mengelorakan kembali gerakan pencerahan di internal persyarikatan, kemudian untuk kebersamaan menyebarluaskan dan mengaktualisasikannya keluar di lingkungan umat islam, bangsa, dan kemanusiaan universal.

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16002-detail-muhammadiyah-sebagai-tempat-berkhidmat-atas-dasar-kesukarelaan.html

ATM Beras Lazismu Hadir di Tanwir Muhammadiyah Bengkulu

MUHAMMADIYAH.ID, BENGKULU-- Kini Anjungan Tunai Mandiri (ATM) bukan hanya digunakan tarik tunai uang, tapi juga beras. Tarik tunai beras tersebut direplikasi oleh Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shodaqoh Muhammadiyah (Lazismu). Terobosan tersebut guna mempermudah mustahiq dalam memperoleh distribusi zakat.
 
Manajer Program Lazismu Pusat, Falhan Nian Akbar saat ditemui tim Muhammadiyah.id pada Sabtu (16/2) mengatakan, program tersebut sudah berjalan sejak lama, akan tetapi secara simbolis penyerahan ATM Beras kepada Kantor Wilayah LazisMu Bengkulu baru dilakukan pada tanggal 14 Februari 2019 bersamaan dengan acara Tanwir di Bengkulu.
 
"Program secara umum sebenarnya sama secara nasional, akan tetapi untuk lebih rinci kita serahkan kepada Wilayah masing-masing, karena setiap wilayah tidak bisa disamakan menginggat tiap wilayah punya kecenderungan berbeda," kata Falhan.
 
Untuk penempatan mesin ATM Beras akan ditempatkan di kantor Wilayah Lazismu. Kemudian setiap mustahiq akan diberikan kartu yang akan bisa dipakai untuk tarik tunai yang bisa digunakan sesuai jatah yang telah ditetapkan oleh Lazismu tiap wilayah.
 
"Mengingat mesin tidak bisa menampung beras terlalu besar, maka pengambilan beras oleh mustahiq dibatas tiap bulan sekali. Jika jatah bulan ini sudah diambil, maka beras bisa didapat kembali pada bulan depan," tambahnya.
 
Sedangkan untuk stok beras sendiri, Lazismu mendapatkan dari Muzakki yang secara langsung berinfak beras atau pun muzakki yang berinfak uang yang kemudian kita belikan beras kepada petani.
 
Diharapkan dari ATM beras ini bisa memudahkan Mustahiq yang menerima bantuan dan Muzakki yang memberikan beras secara langsung. Selain itu replikasi ATM yang dilakukan Lazismu guna menangapi kemajuan zaman teknologi yang semakin cangih. (aan

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16006-detail-atm-beras-lazismu-hadir-di-tanwir-muhammadiyah-bengkulu.html

Berkolaborasi untuk Umat dan Bangsa, Muhammadiyah Bangun Kerjasama dengan PT Pos Indonesia

MUHAMMADIYAH.ID, BENGKULU – Muhammadiyah bersama PT Pos Indonesia melakukan Memorandum of Understanding (MoU) logistik paket, keuangan, dan perangko. Dalam kesempatan ini, Muhammadiyah diwakili Ketua PP Muhamamdiyah Anwar Abbas dan Direktur Jaringan dan Layanan PT Pos Indonesia Ihwan Sutardiyanta menandatangani MoU tersebut disela-sela sidang tanwir Muhammadiyah. 
 
PT Pos Indonesia mengaku terhormat dapat hadir dalam forum Tanwir Muhammadiyah dan melakukan kerjasama.
 
 “Kami merasa terasa terhormat ada di forum tanwir Muhammadiyah, terima kasih kesempatan telah diberikan kepada kami karena bisa berkolaborasi untuk bangsa dan negara. Muhammadiyah dan pos usianya sudah cukup tua, mudah-mudahan kita bisa bersinergi dan kedepan bisa kita tambah service-service yang sangat mu,” jelas Ihwan Sutardiyanta Direktur Jaringan dan Layanan PT Pos Indonesia. 
 
Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas mengatakan PP Muhammadiyah dan PT Pos Indonesia bekerja sama dalam tiga bidang.
 
“Kami bekerjasama dalam tiga bidang, pertama pengiriman logistic paket, yang kedua layanan keuangan,” kata dia. 
 
“Dan yang ketiga kalau seandainya Muhammadiyah mau mendirikan amal usaha di unit pos itu boleh,” imbuhnya.
 
Acara penandatanganan mou kemudian dilanjutkan dengan penyerahan plakat dari kedua belah pihak. Kedepannya diharapkan Muhammadiyah dan PT Pos Indonesia dapat bekerjasama dengan baik untuk kemaslahatan umat dan bangsa. (Syifa)

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16005-detail-berkolaborasi-untuk-umat-dan-bangsa-muhammadiyah-bangun-kerjasama-dengan-pt-pos-indonesia-.html

Tempuh Jarak Ratusan Kilo, Aisyiyah Mukomuko Pamerkan Produk Unggulan di Tanwir Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.ID, BENGKULU –  Tanwir adalah salah satu agenda besar dalam organisasi Muhammadiyah. Maka wajarlah bila banyak warga Muhammadiyah yang ingin ikut serta menjadi penggembira dalam penyelenggaraan tanwir ini. 
 
Tidak hanya menjadi penggembira tanwir, banyak warga Muhammadiyah juga yang mengincar kegiatan serba-serbi tanwir lainnya. Seperti seminar, talkshow, pameran dan bazar yang diselenggarakan panitia. 
 
Salah satu peserta stand di bazar tanwir Muhammadiyah dari Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Mukomuko rela menempuh jarak yang cukup jauh yakni selama delapan jam agar bisa mengenalkan produk-produk usaha mereka dari salah satu kabupaten di Bengkulu Utara.
 
“Kami menempuh jarak yang cukup jauh yakni 300km, biasanya kalau naik damri 12 jam, kalau naik travel 8 jam, kalau mobil pribadi bisa 7 jam. Kami sangat antusias untuk mengikuti kegiatan tanwir Muhammadiyah di Bengkulu ini,” kata Siti Chomsatun, Ketua PDA Mukomuko saat diwawancarai redaksi Muhammadiyah.id didepan stand makanan miliknya, Sabtu (16/2). 
 
Ia mengatakan bahwa ‘Aisyiyah yang dipelosok sana ujung Bengkulu masih berupaya untuk terus melakukan syiar dan dakwah juga dengan membangun kekuatan ekonomi masyarakatnya. 
 
“PDA Mukomuko menerima pembinaan dari Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Bengkulu dan kami bagikan juga ilmunya ke Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) dan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) di daerah kami,” ujar Siti.

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16004-detail-tempuh-jarak-ratusan-kilo-aisyiyah-mukomuko-pamerkan-produk-unggulan-di-tanwir-muhammadiyah-.html

Presiden Jokowi Buka Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu

BENGKULU, Suara Muhammadiyah-Presiden Republik Indonesia Joko Widodo membuka Tanwir Muhammadiyah di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, pada Jumat, 15 Februari 2019. Tiba dari Jakarta, Presiden Jokowi langsung menuju Gedung Daerah Balai Raya Semarak atau Rumah Dinas Gubernur Bengkulu, tempat berlangsungnya pembukaan Sidang Tanwir Muhammdiyah yang kedua, periode 2015-2020.

Dalam sambutannya, Presiden menyebut jasa besar Muhammadiyah bagi bangsa Indonesia. Menurutnya, Muhammadiyah telah berkonstribusi dalam berbagai bidang. Muhammadiyah juga telah melahirkan banyak tokoh yang menjadi pahlawan nasional. Melalui Amal Usahanya, Muhammadiyah telah berjasa besar membantu tugas negara.

Selain Ibu Negara pertama, Fatmawati Soekarno, yang merupakan tokoh Muhammadiyah, Jokowi menyebut Ibu Negara Iriana Jokowi juga pernah berkuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Bahkan, cucu pertama Presiden Jokowi, Jan Etes juga dilahirkan di RS PKU Muhammadiyah Solo.

Kehadiran Presiden Jokowi didampingi sejumlah menteri kabinet kerja. Hadir dalam kesempatan itu antara lain Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Wakapolri Komjen Dono Sukmanto, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Mendikbud Muhadjir Effendy, Head Political Affairs Department Roel van der Veen, Menkominfo Rudiantara, Menag Lukman Hakim Saifuddin, dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyebut bahwa pemilihan Bengkulu sebagai lokasi Sidang Tanwir Muhammadiyah ke-2 kali ini punya alasan yang kuat. Tak lepas dari banyaknya tokoh Muhammadiyah dan tokoh bangsa yang lahir di Bengkulu.

“Hasan Din adalah konsul Muhammadiyah, dia juga pengusaha ternama dan ayah dari Ibu Negara, Ibu Fatmwati. Dan di Bengulu juga seorang Soekarno beberapa tahun di sini pernah menjadi Ketua Majelis Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah. Juga ada tokoh Tionghoa Muslim Karim Oey yang juga pengusaha besar dan perintis bahkan pendiri persatuan Islam Tionghoa Indonesia, juga tokoh Muhammadiyah,” urai Haedar. Melalui Tanwir ini, Muhammadiyah ingin mengenang jejak dan menyambung mata rantai sejarah.

Sidang Tanwir sendiri merupakan forum musyawarah tertinggi Muhammadiyah setingkat di bawah muktamar. Dalam forum kali ini akan dibahas tentang berbagai persoalan keorganisasian, keumatan, dan kebangsaan. Tidak hanya mengundang Presiden Jokowi, Tanwir kali ini juga mengundang Prabowo Subianto sebagai tokoh nasional. Kedua sosok yang maju sebagai calon presiden ini diberikan panggung untuk menyampaikan gagasannya. (ribas)


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/02/15/presiden-jokowi-buka-tanwir-muhammadiyah-di-bengkulu/

3 Konsep Wirausahawan Muslim di Era Digital

KOMPAS.com - Salah satu pendiri British Academy of Quranic Studies Guest of Sharia Law, Oxford University, Mr.Sharif Banna memberikan kuliah umum dengan tema “Moslem Entrepreneur in The Digital Era”, pada Kamis (3/5/2018) di Gedung Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia (UI).

Dikutip dari laman resmi humas UI, Sharif Banna mengutarakan bahwa ada 3 konsep yang harus dipahami ketika seorang muslim ingin memulai usaha. Ketiga konsep tersebut adalah muslim dan Islam, kekayaan dan wirausaha, dan era digital.

1. Menurutnya, Islam tidak melarang umatnya untuk mengumpulkan harta dari kegiatan jual beli atau berdagang. Bahkan Rasulullah dan istrinya Khadijah, adalah seorang  pedagang yang sukses pada masanya.

Diharapkan dengan harta yang dikumpulkannya, seorang muslim dapat bermanfaat bagi lebih banyak orang selain dirinya dan keluarganya. Dengan begitu, seorang muslim diharapkan dapat menjadi muslim yang kuat dunia akhirat.

2. Namun, seorang pedagang muslim tidak boleh hanya memikirkan keuntungan/profit dalam menjalankan usahanya. Pengusaha muslim juga harus memperhatikan 3 hal ini dalam berdagang, yaitu kehalalan, thayyib, dan barakah.

Halal adalah sebuah konsep dalam Islam dimana semua bahan baku yang dipergunakan dalam pembuatan barang didapatkan dari sumber-sumber baik yang diizinkan oleh agama Islam.

Thayyib mengandung arti baik, etis, dan manusiawi.

Misalkan saja, seorang pengusaha muslim melakukan usaha jual beli daging sapi. Pedagang tersebut tidak hanya harus memperhatikan kualitas daging yang dijual, namun juga harus memperhatikan bagaimana daging tersebut didapatkan. Apakah sapi yang dipotong diperlakukan dengan baik sebelumnya, apakah dipotong dengan cara yang sesuai syariat Islam, dan sebagainya.

Kenapa seorang pengusaha Islam harus memperhatikan hal-hal etikal seperti itu? Karena seorang pengusaha Islam tidak hanya memikirkan keuntungan, tapi juga barakah. Barakah adalah sebuah konsep kebermanfaatan dan pahala/ganjaran baik dari Tuhan dalam Islam.

3. Seorang pengusaha muslim juga harus mempunyai kualitas-kualitas lain dalam dirinya, yaitu takwa, amanah, tidak berpikir jangka pendek, dan memikirkan bagaimana produk yang dijual dapat bermanfaat bagi orang banyak, bukan hanya sekedar melakukan pemasaran.

4. Hal lain yang harus disadari oleh pengusaha muslim adalah peluang yang tercipta oleh era digital saat ini. Era digital menciptakan peluang pasar yang terbuka lebar, sehingga seorang pengusaha muslim dapat memperluas jalur distribusi dagangannya ke banyak negara, tidak terbatas pada satu lokasi saja.


Link Terkait: https://edukasi.kompas.com/read/2018/05/25/19171541/3-konsep-wirausahawan-muslim-di-era-digital

Literasi Pencerahan, Lawan Informasi Membodohkan

MUHAMMADIYAH. ID, BENGKULU- Media sosial yang sangat bebas memungkinkan  setiap orang bisa memproduksi informasi apa saja, kapan saja. Kalau pada media arus utama kontrol dilakukan oleh redaksi dan seperangkat undang-undang yang mengaturnya, media sosial hampir tidak ada. 
 
Setiap orang bisa membuat konten apa pun yang diinginkan. Di media sosial fakta dikalahkan opini,  yang salah bisa jadi seolah benar, sehingga tidak jarang membuat para pembuat kebijakan maupun politisi menjadikan media sosial sebagai alat agitasi dan propaganda. 
 
Demikian pandangan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah,  Haedar Nashir yang disampaikan dalam Forum Dialog dan Literasi Media Sosial, Seminar Pra Tanwir Muhammadiyah pada Kamis (14/2) di Bengkulu, yang dihadiri Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara, dan jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dadang Kahmad, Yunahar Ilyas, Taufiqurahman, dan Dahlan Rais. 
 
Pada kesempatan tersebut juga diluncurkan buku Fikih Informasi yang dirumuskan Majelis Tarjih dan Tajdid bersama Majelis Pustaka dan Informasi, yang diterbitkan Majalah Suara Muhammadiyah.
 
Lebih lanjut Haedar Nashir menyampaikan perlunya menggelorakan Literasi Pencerahan sebagai pengamalan ayat pertama yang diturunkan Allah SWT, yaitu Iqra.
 
“Maka di forum tanwir ini kita juga akan menggunakan diksi "Literasi Pencerahan". Diksi ini harus digelorakan, sebab cerah itu bagus dan Islam itu mencerahkan. Ayat pertama yg diturunkan Allah itu sangat mencerahkan”, tegasnya. 
 
Oleh karena itu, menurut Haedar, Muhammadiyah harus bekerjasama dengan pemerintah melakukan gerakan literasi yang berkeadaban, menyehatkan, melawan informasi yang membodohkan. 
 
“Kita lawan hasrat-hasrat alamiah dan primitif seperti kebencian, amarah. Naluri-naluri seperti ini ketika menemukan ruang maka seperti benih yang menyebar. Keburukan-keburukan itu lama kemalaan akan seolah menjadi benar”, peringatnya. 
 
Mengajarkan cerdas dan kritis menjadi ciri ulil albab, yaitu  orang yang memperoleh petunjuk dan cerdas pemikirannya. Pada oarng yang mendapat petunjuk memiliki kemampuan mengolah dan menseleksi untuk mendiskusikan teks tanpa harus langsung mengeluarkan atau menyebarkan. Generasi milenial harus dibiasakan otaknya memamah informasi. “Kalau otak kita terbiasa mengolah maka akan menjadi cerdas”, demikian Haedar Nashir.
 
Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara menyambut gembira dirumuskannya Fikih Informasi. Ia berharap buku Fikih Informasi tidak hanya untuk kalangan warga Muhammadiyah, harus disosialisakan kepada masyarakat luas. Muhammadiyah harus menjadi lokomatif menarik gerbong masyarakat untuk melek informasi yang sehat.
 
“Buku Fikih Informasi Muhammadiyah sangat membantu saya untuk bicara kemana-mana. Saya berharap Muhammadiyah dapat menarik gerbong masyarakat untuk lebih melek informasi yang sehat. Saya sangat berterimakasih,” sambutnya. 
 
Masyarakat milenial kini belajar agama tidak dari ustad tapi dari medsos. Pengajian orang tua itu tidak diisi orang muda. Karena mereka tidak tertarik.
 
Anak muda itu lebih tertarik secara virtual. Majelis tabligh tidak lagi datang ke daerah-daerah, tapi produksi dakwah secara digital. Audiensinya bisa berjuta-juta. 
 
Sementara itu pembicara lain, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang membidangi Pustaka dan Informasi, Prof. Dr. Dadang Kahmad menyampaikan Fikih Informasi dibahas dalam Fokus Grup Diskusi tahun 2016 diawali oleh Majelis Pustaka dan Informasi dan Majelis Tarjih dan Tajdid di Universitas Prof Dr. Hamka di Jakarta. Dengan adanya Fikih Informasi, Muhammadiyah memberikan panduan kepada masyarakat agar dapat menggunakan media sosial dengan lebih baik.
 
 
“Dakwah yang efektif ke depan itu melalui digital. Ini tantangan bagi Muhammadiyah. Kita harus memproduksi konten-konten ke medsos yang bisa diakses oleh anak-anak muda”, katanya. 
 
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid, Prof Dr. Syamsul Anwar, menyampaikan perumusan Fikih Informasi ini merupakan jawaban terhadap perlunya tuntunan hidup di era informasi yang semua berubah dengan cepat karena derasnya aliran informasi. 
 
Dalam pandangan Muhammadiyah, Fikih bukan hanya sekadar menetapkan hukum halal dan haram. Fikih memberikan landasan hukum sebagai tuntunan dalam menghadapi kehidupan sesuai tantangan zaman.
 
“Maka kita membuat tuntunan agama di bidang informasi. Masyarakat hidup di tengah dunia maya, maka Muhammadiyah harus hadir memberikan tuntunan. Muhammadiyah berpartisipasi membangun masyarakat maju dan berkeadaban," jelasnya. 
 
Tanwir Muhammadiyah merupakan musyawarah nasional tertinggi dibawah Muktamar yang diikuti Pimpinan Wilayah Muhammadiyah se Indonesia, pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, dan pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah.
 
Diselenggarakan untuk membahas masalah keagamaan dan kebangsaan. Tema Tanwir di Bengkulu yang diselenggarakan dari tanggal 15-17 Februari ini membahas tema Beragama Mencerahkan.
 
Direncanakan Tanwir akan dibuka oleh Presiden RI. H. Ir. Joko Widodo, 15 Februari pukul 09.00 WIB, di Gedung Kantor Gubernur Provinsi Bengkulu. 
 

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15989-detail-literasi-pencerahan-lawan-informasi-membodohkan.html

Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Wujudkan Kampus Reputasi Internasional

MUHAMMADIYAH.ID, Jakarta -- Visi Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta (ITB-AD) untuk menjadi perguruan tinggi yang bereputasi Internasional dibuktikan salah satunya melalui Program Sit In mahasiswa. Baru-baru ini, ITB-AD pun memberangkatkan tiga mahasiswanya ke Rajamangala University of Technology Trunghtep, Bangkok, Thailand pada Kamis (07/2) .
 
“Program Sit In mahasiswa di kampus-kampus luar negeri ini akan menjadi program unggulan kami ke depan. Ini juga sejalan dengan semangat kami yang menginginkan kampus ITB-AD menjadi kampus yang memiliki reputasi Internasional,” ujar Mukhaer Pakkanna, Rektor ITB-AD. 
 
Sementara Amrizal,  Warek I Bidang Akademik mengatakan bahwa perubahan bentuk menjadi ITB-AD dengan berbasis lebih kepada teknologi dan bisnis menjadi dasar dipilihnya Rajamangala University of Technology Trunghtep, Bangkok dalam program sit ini kali ini.
 
“Pengembangan harus terus dilakukan, apalagi kami saat ini sudah berubah bentuk menjadi ITB-AD, maka mendatangi kampus-kampus yang berbasis teknologi dan ikut belajar menjadi sangat diperlukan untuk mahasiswa kita agar dapat pengalaman baru khususnya dalam hal kegiatan belajar-mengajar yang diterapkan, dan tentu, harapannya ke depan bisa kami terapkan untuk pengembangan akademik kampus,” paparnya.
 
Selain mendapatkan pengalaman baru mengenai kegiatan belajar dan mengajar, mahasiswa juga diharapkan dapat belajar dan berbagi informasi mengenai organisasi kemahasiswaan. Seperti dikatakan Sutia Budi selaku Warek III Bidang Kemahasiswaan.
 
 “Kesempatan ini harus dimaksimalkan betul oleh mahasiswa yang berangkat. Semoga selain bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar, mereka juga mendapatkan informasi mengenai jalannya roda organisasi kemahasiswaan yang ada di sana, dan sepulang darisana mereka bisa berbagi pengalaman dengan rekan-rekan aktifis mahasiswa yang ada disini”. (nisa)
 
Sumber: Media ITB-AD

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15988-detail-institut-teknologi-dan-bisnis-ahmad-dahlan-wujudkan-kampus-reputasi-internasional.html

Mendikbud: Indonesia Punya Modal Menjadi Negara Adidaya

BENGKULU, Suara Muhammadiyah- Indonesia merupakan negara besar dengan semangat kesatuan dan persatuan yang besar. Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy pada seminar nasional pra Tanwir di Gedung KHA Dahlan kampus 4 Universitas Muhammadiyah Bengkulu ( UMB), Kamis (14/2/19).

Modal semangat persatuan dan kesatuan itu, kata Muhadjir, tidak dimiliki oleh negara besar lain. Lihat saja Uni Soviet dan beberapa negara di Timur Tengah. Hari ini mereka pecah menjadi negara-negara bagian, bahkan beberapa negara di Timur Tengah hancur. “Iraq hancur karena perang saudara dengan Iran, Syiria hancur karena ISIS,” terangnya.

Indonesia, lanjut Muhadjir, tidak hanya memiliki modal persatuan dan toleransi yang baik, tapi juga modal agama yang juga berbeda dengan negara lain. “Sekarang China sedang proses menuju negara adidaya, tapi bisa juga tidak jadi karena mereka tidak memiliki modal agama, sebab menganut paham komunis,” ulasnya.

“Bisa jadi justru Indonesia yang akan menjadi negara kuat berikutnya, sebab negara ini adalah negara besar dan punya modal agama yang baik,” imbuh Muhadjir.

Nah sekarang, Mendikbud mengatakan, bagaimana kemudian negara yang besar ini bisa maju. Jadi harus ada upaya nyata untuk memajujan bangsa ini. Indonesia harus berkemajuan.

Sebagaimana UMB, Mugadjir mencontohkan, untuk maju maka langkah pertama adalah pembangunan. “UMB belum lama berdiri tapi mengalami perkembangan yang cukup pesat. Itu karena pembangunan. Jadi pembangunan adalah pra syarat untuk menuju berkemajuan,” tuturnya.

Seminar nasional bertajuk Agama dan Pendidijan yang Mencerahkan ini menghadirkan dua narasumber. Yaitu Sakroni Rektor UMB dan Sutrisno Guru Besar UIN Suka Yogyakarta. Sedang peserta terdiri dari guru dan kepala sekolah Mugammadiyah se-Bengkulu. (gsh).


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/02/14/mendikbud-indonesia-punya-modal-menjadi-negara-adidaya/

Haedar Nashir Resmikan Beberapa AUM Di Bengkulu

BENGKULU, Suara Muhammadiyah- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, meresmikan beberapa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di Bengkulu, Kamis (14/2/19). Di antaranya meresmikan Masjid At-Tanwir dan Gedung Hasan Din di komplek kampus 4 Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB), Masjid Oey Tjin Hein, Gedung Pertemuan Muhammadiyah, dan Mobil Listrik karta SMK Muhammadiyah Bengkulu.

Turut hadir pada peresmian tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bengkulu, Syaifullah, dan beberapa Ketua PP Muhammadiyah lainnya.

Pada peresmian pagi ini, Haedar Nashir beserta rombongan dari PP Muhammadiyah dengan ditemani Ketua PWM Bengkulu dan Ketua Panitia Tanwir Bengkulu juga berkeliling langsung melihat beberapa AUM yang diresmikan tersebut. Termasuk berkeliling sebentar menggunakan mobil listrik karya siswa SMK Muhammadiyah.

Saat meninjau langsung Masjid At-Tanwir Haedar menyampaikan, bahwa masjid ini harus menjadi pelopor pencerahan. “Khutbah dan pesan-pesan penceramah harus mencerahkan bukan menggelapkan,” ucapnya.

Ketua PWM mengatakan, bahwa peresmian masjid tersebut adalah juga sebagai prasati bahwa tahun 2019 terselenggara Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu.

Usai peresmian yang dilakukan dengan penandatanganan prasasti juga peninjauan AUM, Ketua Umum PP Muhammadiyah ditemani Sekretaris Umum PP Muhamnadiyah melanjutkan meninjau Bazzar Tanwir dan Panggung Kesenian di arena tanwir, UMB.

Peresmian lain yang juga disaksikan Haedar Nashir adalah peresmian ATM Beras milik Lazismu PP Muhammadiyah. Direktur Lazismu, Hilman Latief mengatakan, ATM Beras ada salah satu bentuk kominment lasismu untuk membantu masyarakat kurang mampu dalam bentuk kartu ATM untuk pengambilan beras lewat masin yang sudah di sediaan.

Mesin ATM Beras ini, Hilman melanjutkan, di beberapa daerah sudah mulai di terapkan. “Hari ini kita resmikan di Bengkulu,” tuturnya. (gsh).


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/02/14/haedar-nashir-resmikan-beberapa-aum-di-bengkulu/

Menggerakkan Ekonomi Melalui Aplikasi Bedukmutu

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Industri ritel kini jadi industri yang paling dicari oleh masyarakat. Bahkan, industri ini pun telah merambah online marketplace untuk memudahkan masyarakat dalam bertransaksi.

Melihat peluang itu, Suryo Pratolo menciptakan sebuah aplikasi yang disebut Bela Beli Produk Muhammadiyah Bermutu (Bedukmutu). Ia menciptakan aplikasi ini juga dalam rangka memeratakan perekonomian, salah satunya melalui industri ritel dalam platform digital ini.

"Kan kita punya pegawai, kita punya mahasiswa, silakan membeli. Otomatis nanti warga Muammadiyah bisa berjualan melalui aplikasi ini," kata Suryo yang juga merupakan Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini kepada Republika.co.id beberapa waktu lalu.

Aplikasi ini mulai dikembangkan sejak 2016. Hingga saat ini, sudah ribuan produk dari warga Muhammadiyah yang ditawarkan. Mulai dari berbagai macam kuliner, fashion, hingga jasa juga ditawarkan. "Kuliner saja sekitar 1.200 jenis, belum fashion yang hampir 2.000 an, belum jasa cuci motor, cuci mobil," tambahnya. 

Suryo mengatakan, transaksi yang terjadi per bulannya mencapai Rp 1,4 miliar. Anggota yang bergabung telah lebih dari 5.000 anggota. Saat ini, aplikasi Bedukmutu ini juga masih terus dikembangkan.

Awal dibentuknya aplikasi ini dimulai dengan menggalakkan gerakan membeli. Tujuannya meningkatkan dan memeratakan perekonomian masyarakat, khususnya warga Muhammadiyah. Namun, gerakan ini tidak terlalu efektif.

Untuk itu, Suryo melakukan strategi dengan berinovasi untuk menciptakan aplikasi ini yang juga memudahkan warga Muhammadiyah dalam bertransaksi. Bedukmutu dapat diakses melalui situs Bedukmutu.com.

Ia berharap, hal ini terus didukung oleh warga Muhammadiyah. Tentunya dengan terus bertransaksi melalui aplikasi tersebut. Hal ini dapat menjaga eksistensi dari gerakan membeli melalui aplikasi Bedukmutu.

"Diharapkan 10 persen dari gaji pegawai (UMY) dibelanjakan di Bedukmutu, karena kalau tidak ada yang membeli maka kita tidak akan bergerak," ujarnya.

Dalam memaksimalkan transaksi yang terjadi melalui aplikasi ini, juga dikembangkan sosialisasinya kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa UMY. Berbagai //voucher pun juga diberikan, guna meningkatkan minat warga Muhammadiyah untuk bertransaksi melalui aplikasi Bedukmutu.

"Kita juga memberikan voucher ke pegawai yang rutin membeli, sehingga bergulir ke teman-temannya sendiri. Kita kembangkan juga ke mahasiswa dan alumni serta keluarga Muhammadiyah di Yogya ini," ucapnya.

 


Link Terkait: https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/12/08/pje3dn384-menggerakkan-ekonomi-melalui-aplikasi-bedukmutu

SD Muhammadiyah Pracimantoro Tanamkan Jiwa Kewirausahaan Siswa Sejak Dini

MUHAMMADIYAH.ID, WONOGIRI – Ada pemandangan berbeda di halaman SD Muhammadiyah PK Pracimantoro Wonogiri pada Sabtu pagi (9/2). Suasana di halaman sekolah terlihat seperti suasana di pasar tiban. Ratusan siswa dan guru nampak antusias menata dan menghias lapak dagangan sesuai kelas masing-masing.

Sejumlah 404 siswa SD Muhammadiyah PK Pracimantoro mengikuti kegiatan market day yang diselenggarakan oleh sekolah. Beberapa hari sebelumnya siswa yang ingin berjualan didata oleh wali kelas masing-masing.

Kegiatan yang mengambil tema "Islamic Creativepreneur Corner Build Creativity in Islamic Enterpreneurship" tersebut berlangsung sangat meriah. Ismiyatin,  Guru SD Muhammadiyah PK Pracimantoro menyatakan bahwa tujuan utama kegiatan tersebut adalah untuk menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini.

"Melalui kegiatan ini kami berharap siswa bisa mengasah kompetensi komunikasi dan transaksi jual beli", ungkapnya. Market day ini juga merupakan bagian dari pembelajaran tematik terutama materi pengetahuan Matematika realistik, penggunaan uang, dan kebutuhan sehari-hari manusia. Melalui belajar yang dikemas dengan kgiatan jual beli ini para siswa merasa gembira,” kata dia.

Abdullah Faaiq Ramadhan, siswa kelas 1 SD Muhammadiyah PK Pracimantoro mengaku bersemangat untuk berjualan dalam kegiatan tersebut. Ia berjualan jus aneka buah seharga seribuan. "Saya tadi bangun sebelum subuh untuk membuat jus buah naga, melon, dan jambu bersama ibu.  Alhamdulillah saya menjual dua puluh kantong jus dan langsung habis dibeli teman-teman,” ungkapnya.

Salah satu siswa kelas 1, Arsya yang berjualan cilok dan es teh mendapatkan uang sejulam tiga puluh delapan ribu rupiah. "Saya senang karena dagangan habis dan uangnya nanti akan saya masukkan celengan,”ucapnya.

Kegiatan market day diakhiri dengan menghitung uang hasil penjualan dan dicocokkan dengan barang yang terjual. Hasil perolehan uang penjualan tersebut kemudian dilaporkan kepada wali kelas masing-masing untuk direkap menjadi laporan tiap kelas. (Syifa)

Sumber : Ismiyatin/muhammad arifin


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15968-detail-sd-muhammadiyah-pracimantoro-tanamkan-jiwa-kewirausahaan-siswa-sejak-dini.html

Berikut Empat Agenda Besar yang Akan Dibahas pada Sidang Tanwir Muhammadiyah Bengkulu

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA - Tiga hari menjelang digelarnya Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu 14-17 Februari pekan ini, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar konferensi pers di Aula Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Menteng Jakarta Pusat, Senin (11/3).
 
Diwakili oleh Ketua PP Muhammadiyah Harijayanto Y Thohari dan Bachtiar Effendi beserta Sekretaris Umum Abdul Mu'ti,  PP Muhammadiyah menyampaikan empat agenda besar yang akan dibahas secara spesifik dalam gelaran Tanwir.
 
"Empat agenda besar itu adalah persoalan organisasi yang akan membawa perubahan dalam Anggaran Rumah Tangga Muhamadiyah. Kedua, adalah masalah keumatan, yaitu mengenai pokok pikiran Muhammadiyah dalam kehidupan umat beragama," ungkap Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti.
 
"Ketiga adalah masalah kebangsaan. Kami mengundang Bapak Joko Widodo dan Bapak Prabowo dalam kapasitas sebagai tokoh nasional, bukan sebagai calon presiden. Dan keempat, adalah membahas mengenai progres dan dinamika Pimpinan Muhammadiyah di tingkat internasional sampai wilayah," sambung Abdul Mu'ti.
 
Sidang Tanwir dalam Muhammadiyah memiliki kedudukan tertinggi setelah Muktamar, diselenggarakan sekurang-kurangnya satu kali dan dalam periode kepengurusan 2015-2020, Tanwir Bengkulu adalah yang kedua setelah Tanwir Ambon pada 2017.
 
Tanwir Bengkulu yang akan dibuka oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla tersebut membawa tema "Beragama yang Mencerahkan". Menurut Abdul Mu'ti, tema demikian diambil guna menyampaikan pemikiran dan gagasan bagaimana mengangkat dan menempatkan agama sesuai dengan Manhaj Muhammadiyah. 
 
"Mencerahkan adalah bagaimana agama itu hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena saat ini ada gejala yang kita tengarai sedang terjadi yaitu spiritualisasi agama, komodifikasi agama dan politisasi agama. Muhammadiyah akan mengafirmasi makna dan kedudukan agama. Poinnya adalah peneguhan Pancasila sebagai dasar negara, pentingnya menegakkan kedaulatan negara, menyelesaikan kesenjangan ekonomi dan peran penting yang dimainkan Indonesia pada politik global," ujar Abdul Mu'ti.
 
Lebih jauh, Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa sidang Tanwir yang diikuti oleh peserta dari Pimpinan Muhammadiyah tingkat wilayah, peninjau amal usaha, sampai tokoh-tokoh nasional tersebut bersifat terbuka dan dapat diikuti oleh media. (Afandi)

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15973-detail-berikut-empat-agenda-besar-yang-akan-dibahas-pada-sidang-tanwir-muhammadiyah-bengkulu.html

Resmikan Klinik Pratama, Ketua Umum PP ‘Aisyiyah Terus Dorong Gerakan ‘Aisyiyah Sehat

MUHAMMADIYAH.ID, PALEMBANG – Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Siti Noordjanah Djohantini, meresmikan Klinik Pratama ‘Aisyiyah Kota Palembang di Halaman Kampus STIKes ‘Aisyiyah Palembang, pada Senin (11/2/2019). Siti Noordjanah Djohantini memberikan penghargaan tinggi atas peresmian Klinik Pratama ‘Aisyiyah kota Palembang sebagai bentuk gerakan ‘Aisyiah sehat.

“Aisyiyah harus selalu meningkatkan ikhtiar dalam memajukan klinik ini kedepan. Karena dengan bersungguh-sungguh akan ditunjukan jalan keluar oleh Allah SWT, dan selalulah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk terus bertaawun demi kemajuan Klinik Pratama Aisyiyah” tuturnya.

Ketua Umum PP ‘Aisyiyah juga menambahkan, dakwah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah melalui sektor kesehatan dengan menggaungkan gerakan Aisyiyah Sehat dan mendukung program pemerintah yaitu gerakan masyarakat sehat.

“Kami menegaskan bahwa dakwah dibidang kesehatan sudah lama dan akan terus bersinergi dengan pemerintah dalam bagian menjaga komitmen untuk pelayanan kesehatan di masyarakat” tambahnya.

Turut hadir dalam peresmian klinik tersebut, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumsel Romli SA, Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang Abid Djazuli, Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sumatera Selatan Darmi Hartati, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, dan Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dr. Pangestu Widodo.

Darmi Hartati, Ketua PW ‘Aisyiyah Sumatera Selatan, merupakan amanat Muktamar Muhammadiyah di Makassar dan bagian terpenting dari peresmian Klinik Pratama ‘Aisyiyah ini adalaah membangun gairah berorganisasi untuk terus berdakwah mencerahkan umat melalui bidang kesehatan.

Peresmian klinik ‘Aisyiyah Kota Palembang juga mendapat apresiasi lebih Romli SA, Ketua PW Muhammadiyah Sumatera Selatan, yang terus mendukung dakwah Muhammadiyah terlebih di provinsi Sumatera Selatan sudah ada 8 klinkik Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

 “Kami mendorong setiap Pimpinan Daerah Aisyiyah untuk membangun klinik, karena semakin banyak amal usaha kesehatan, akan semakin membuat masyarakat semakin sehat, karena masyarakat yang sehat akan produktif” ujarnya. (Andi)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15975-detail-resmikan-klinik-pratama-ketua-umum--pp-%E2%80%98aisyiyah-terus-dorong-gerakan-%E2%80%98aisyiyah-sehat.html

Haedar Nashir : Budayakan Merenung Untuk Hindari Tersulut Kepentingan

Dalam beberapa bulan terakhir perhatian masyarakat Indonesia benar-benar disibukkan oleh beragam isu politik. Banyak dari public yang kemudian menjadi terkotak-kotak berdasarkan kelompok mana yang mereka dukung. Kondisi tersebut kemudian menimbulkan banyak ketegangan yang timbul dalam keseharian mereka dan tidak jarang membesar menjadi konflik.

Keadaan tersebut oleh Dr. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum PP Muhammadiyah dikatakan menjadi tanda bahwa masyarakat memerlukan pencerahan agar meraka dapat ‘melihat’ dengan lebih baik. Hal tersebut disampaikan dalam Seminar Pra-Tanwir Muhammadiyah yang mengangkat tema Beragama yang Mencerahkan Dalam Perspektif Politik Kebangsaan pada hari Senin (11/2) di Ruang Sidang Gedung AR Fachruddin A Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Haedar menyampaikan bahwa sebagai sebuah agama, Islam hadir sebagai pencerahan yang dicerminkan melalui ayat pertama yang diturunkan dalam wahyu kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wassalam. “Iqra’, ayat tersebut turun ketika Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wassalam sedang risau terhadap kondisi masyarakat Arab saat itu. Keadaan masyarakat Arab saat itu dapat dideskripsikan dengan kata dzulumat yang diartikan sebagai kegelapan baik dalam kultural hingga struktural. Ayat iqra’ ini kemudian muncul sebagai tanwir, pencerah, yang memberikan cara untuk keluar dari kegelapan tersebut,” ujarnya.

Haedar menjelaskan bahwa ayat tersebut memiliki inti untuk menegakkan ilmu dan akal pikiran. “Dari pemaknaan tersebut kemudian memunculkan berbagai konsep seperti tafakkur, tadabbur dan lainnya. Pemaknaan dan penerapan dari iqra’ tersebut yang kemudian saya rasa sangat berkurang di masyarakat kita saat ini,” jelasnya.

“Bahkan sekarang ayat-ayat seringkali hanya dikutip untuk kepentingan tertentu atau bahkan digunakan untuk menyulut kemarahan, kebencian dan pertikaian. Bukan hanya pada isu sosial politik tapi juga pada aspek kehidupan kita sebagai orang beragama, kita jadi intoleran terhadap perbedaan misalnya. Padahal ketika Islam dimaknai secara kontemplatif, agama ini menuntun kita untuk menjadi pribadi yang berpikir. Ini yang ingin kita lakukan, mengembalikan Islam pada nilainya yang luhur dan fundamental,” papar Haedar.

Dalam kehidupan orang yang beragama, hal yang paling dibenci oleh tuhan adalah inkonsistensi. “Dalam surat Ash-Shaff ayat 3 Allah memperingatkan bahwa hal yang paling dibenci adalah orang yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, artinya ketika anda mengaku seorang Muslim, konsistenlah. Pahami agama anda melalui perenungan yang dalam, dan bukan hanya terbawa sumbu pendek yang mudah disulut untuk kepentingan tertentu,” jelas Haedar. (raditia)


Link Terkait: http://www.umy.ac.id/haedar-nashir-budayakan-merenung-untuk-hindari-tersulut-kepentingan.html

Wartawan Itu Adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah

Haedar Nashir, adalah sosok yang tidak asing bagi Republik ini, terutama di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. Beliau adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2020 menggantikan Prof. Din Syamsuddin yang menjabat Ketua Umum Muhammadiyah sebelumnya.

Sebelum beliau menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sosok ideolog Muhammadiyah ini, mengawali karir dan perjalanan hidupnya dengan mengambil pilihan profesi sebagai wartawan Majalah Suara Muhammadiyah.

Profesi sebagai wartawan, beliau jalani sejak menempuh pendidikan tinggi S1 dan S2 di Yogyakarta. Bahkan, walaupun kini beliau sudah berada pada puncak kepemimpinan di organisasi Muhammadiyah, profesi sebagai seorang penulis, tidak begitu saja hilang dari dalam tradisi kehidupan Haedar.

Banyak karya-karya tulis Haedar yang terus hadir dalam berbagai bentuk seperti buku, artikel, kolom dan lainnya, yang kini telah menjadi konsumsi publik. Bahkan hingga saat ini, Haedar masih menekuni dunia jurnalis dengan menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Suara Muhammadiyah.

Dua gambar ini, menunjukkan 2 aktivitas orang yang sama dalam waktu dan status yang berbeda.

Gambar pertama, merupakan bukti saat Haedar Nashir berprofesi sebagai seorang wartawan majalah Suara Muhammadiyah, ketika melakukan wawancara dengan seorang peneliti asal Jepang, Mitsuo Nakamura di Gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta.

Sementara foto Kedua adalah, saat Haedar Nashir menjadi keynote speak selaku ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat peluncuran buku Karya Mitsuo Nakamura di Gedung PP Muhammadiyah Jakarta.
Catatan:
Mari berbangga dan berlangganan majalah resmi Persyarikatan, Yaitu Majalah Suara Muhammadiyah.

*Selamat Milad 104 Th Majalah Suara Muhammadiyah ” Inspirasi Literasi Islam Berkemajuan”*

*Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2019*


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/02/10/wartawan-itu-adalah-ketua-umum-pp-muhammadiyah/

Peletakan Batu Pertama dan Penggalangan Dana Pembangunan RS PKU Muhammadiyah Sleman

SLEMAN, Suara Muhammadiyah-Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sleman menggelar Pengajian Akbar dalam rangka Peletakan Batu Pertama dan Penggalangan Dana Pembangunan RS PKU Muhammadiyah Sleman. Rumah Sakit yang mengusung motto CERDAS (Cepat, Empati, Ramah, Dedikasi, Agamis, Sehat) ini berada di Dusun Sawahan, Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman.

Ketua Panitia Pembangunan, Abdul Kadir mengatakan bahwa pembangunan RS PKU Muhammadiyah Sleman ini adalah hasil rekomendasi Musyawarah Daerah (Musyda) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sleman di Prambanan beberapa tahun lalu dan akan diwujudkan dalam periode ini. “Sekarang kita mulai pembangunan, dengan bantuan Bapak dan Ibu sekalian, semoga tahun ini bisa segera selesai,” harapnya.

Acara Peletakan Batu Pertama yang dihadiri oleh Bupati Sleman beserta wakilnya, Sri Purnomo dan Sri Muslimatun beserta Forkompimda Kabupaten Sleman, DPD RI M Afnan Hadikusumo, Camat Sleman, Kepala Desa Pandowoharjo, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kabupaten Sleman, dan beberapa undangan lainnya ini diisi juga dengan Pengajian Akbar oleh Ketua PDM Kendal, Jawa Tengah, KH Muslim Rahmadi.

Dalam pengajiannya, Ketua PDM Kendal, KH Muslim Rahmadi, menanamkan semangat dan optimisme kepada jamaah yang hadir bahwa keinginan PDM Sleman membangun RS PKU Muhammadiyah Sleman akan segera terwujud. “Ora nduwe duwek kok wani mbangun Rumah Sakit. Itu namanya nekat. Nekat fii Sabilillah,” ungkapnya.

Pengajian Akbar adalah salah satu cara efektif digunakan untuk menggalang dana dari jamaah Muhammadiyah. Di zaman Rasulullah dulu, kalau butuh dana selalu mengadakan Pengajian Akbar, dengan lantang Rasul berkata bahwa Islam butuh dana. Beberapa sahabat mengacungkan jari pertanda menyumbangkan harta yang dimilikinya. Inilah gambaran orang-orang yang ingin masuk Surga.

“Oleh karena itu, PDM Sleman menghadirkan Bapak dan Ibu semua, matur nuwun, kita harus tahu kenapa kita disini,” ujarnya.

Di akhirat nanti banyak orang yang menyesal, karena selama hidup di dunia waktu yang diberikan tidak digunakan sebaik-baiknya. Harta tidak akan dibawa mati. Bagaimana caranya agar harta kita bawa mati? “Ayo panitia kotak infaqnya bawa sini, saya pengen tahu,” lanjutnya. Ketua PDM Kendal ini lantas mengambil salah satu kontak infaq yang telah beredar di jamaah. “Ini punya siapa? Rp. 2.000,-. Punya siapa?” kelakar KH Muslim Rahmadi. “Pengumuman! Harga tiket masuk Surga seharga Rp. 2.000,- ditarik dari peredaran. Harga toilet saja Rp. 2.000,-“

Selain Pendidikan, Kabupaten Sleman dikenal sebagai Kota Kesehatan karena jumlah Rumah Sakit yang ada di Kabupaten Sleman sebanyak 28 unit, baik milik Pemerintah maupun Swasta.

“Selain masalah pendidikan, Kabupaten Sleman juga memprioritaskan masalah Kesehatan,” ujar Bupati Sleman, Sri Purnomo. Maka dengan adanya RS PKU Muhammadiyah Sleman ini, Sri Purnomo berharap dapat semakin meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Sleman.

“Semoga pembangunannya cepat selesai dan bisa segera melayani masyarakat Sleman,” ungkapnya. (AK)


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/02/10/peletakan-batu-pertama-dan-penggalangan-dana-pembangunan-rs-pku-muhammadiyah-sleman/

Harus Berani Ambil Risiko Jika Ingin Jadi Universitas Yang Miliki Konsep Kewirausahaan

BANTUL, MUHAMMADIYAH.OR.ID  Industri 4.0 menuntut setiap kalangan untuk bisa berinovasi karena kecanggihan teknologi yang tidak dapat dibendung. Terlebih di kalangan universitas yang kini mulai bermunculan perguruan tinggi yang bekerjasama dengan perusahaan atau membangun usaha sendiri untuk mendapatkan pemasukan dan juga memberi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan kewirausahaan.

Melalui itu The German Academic Exchange Service (DAAD) ingin menggalakkan universitas yang berbasis kewirausahaan. Hal tersebut dibahas dalam Forum Dekan Internasional ‘Dies International Dean’s Course South-East Asia 2018/2019. Acara itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang terlaksana sejak Rabu hingga Sabtu (6 - 9/2) di Yogyakarta dengan UGM dan UMY sebagai host-nya.

Dalam rangkaian kegiatan yang diselenggarakan di Ruang Amphiteatre Gedung Kasman Singodimedjo, Kampus Terpadu UMY, Jum'at (8/2). Prof. Dr. Peter Mayer, Profesor dari Fakultas Bisnis Managemen dan Ilmu Sosial, University of Applied Science Osnabrueck, Jerman menyampaikan bahwa untuk menjadi sebuah universitas kewirausahaan haruslah melihat peluang dan juga berani mengambil resiko. Peter Mayer menyampaikan topik 'The Entrepreneurial University-Concept and Strategies' tersebut di hadapan dekan se-Asia Tenggara yang hadir dalam acara tersebut.

“Semua orang membicarakan tentang industry 4.0, maka dari itu kita harus mempersiapkan segalanya agar tidak tertinggal dari yang lain. Khususnya untuk menjadi universitas kewirausahaan maka harus bisa melihat peluang yang orang lain melihatnya sebagai masalah. Berani mengambil resiko dan menerima kegagalan, dengan memanfaatkan kreativitas serta fleksibilitas tinggi. Tak hanya itu motivasi tinggi juga dibutuhkan,” paparnya.

Entrepreneurial University atau universitas kewirausahaan merupakan sebuah institusi yang mencoba mengidentifikasi peluang baru. Seperti halnya membuat program baru yang mengikuti perkembangan jaman, area penelitian yang semakin luas. Sehingga universitas tersebut bisa siap menerima segala resiko untuk mendapatkan hadiah berupa kesuksesan di masa depan. Namun demikian, sebuah institusi memiliki mahasiswa di dalamnya, dan Peter Mayer menambahkan bahwa universitas juga harus memperhatikan mahasiswanya untuk menciptakan kader pebisnis handal.

“Sebuah universitas kewirausahaan harus mencoba memberikan semangat berwirausaha juga kepada mahasiswanya. Hal itu bisa dilakukan melalui program entrepreneurship , pembelajaran tentang bisnis, seminar, konferens, dan pelatihan,” lanjut Peter.

Sebenarnya UMY juga sudah menuju arah universitas kewirausahaan yakni dengan adanya Amal usaha yang digagas oleh UMY sendiri bernama Bela Beli Produk Muhammadiyah Bermutu (Bedukmutu) dan Bela Beli Produk Mahasiswa (Bedukmawa). Bedukmutu dan Bedukmawa sejauh ini memiliki imbas yang positif bukan hanya untuk dosen, karyawan, dan mahasiswa, melainkan warga persyarikatan Muhammadiyah. Hal tersebut dikarenakan sistem dari kedua unit itu mendorong berbagai pihak untuk menjual barang atau jasa melalui sistem tersebut. (Habibi)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15960-detail-harus-berani-ambil-risiko-jika-ingin-jadi-universitas-yang-miliki-konsep-kewirausahaan.html

Ishaq Saleh, Tokoh Muhammadiyah Kalbar Tutup Usia

PONTIANAK, Suara Muhammadiyah – Innalilahi wainnailaihi rajiun, kabar duka datang dari keluarga besar Muhammadiyah Kalimantan Barat. Salah satu tokoh Muhammadiyah Kalbar, Ishaq Saleh meninggal dunia.

Ayahanda dari Sekjen Kemenkes RI Oscar Primadi tersebut berpulang ke Rahmatullah sekitar pukul 17.10 WIB di Rumah Sakit Soedarso, Jum’at (8/2).

Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalbar, Ahmad Zaini, mengungkapkan bahwa Almarhum merupakan kader yang selalu berkhidmat bagi persyarikatan. Beliau pernah menjadi Ketua DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kalbar dan Pemuda Muhammadiyah Kalbar.

Kemudian masih dalam lingkup persyarikatan almarhum pernah di Majelis PKU, Sekretaris PWM Kalbar, Wakil Ketua PWM Kalbar, penasehat Muhammadiyah Kalbar hingga Ketua Forum Komunikasi Alumni (Fokal) IMM Kalbar.

“Almarhum banyak meninggalkan buah karya, diantaranya perintisan dan pengembangan beberapa sekolah Muhammadiyah di Pontianak, mempelopori berdirinya Universitas Muhammadiyah Pontianak dan Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan (STIK) Muhammadiyah Pontianak,” ungkap Ahmad.

Selain itu Almarhum juga sempat menjadi anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat beberapa periode, Anggota DPR RI dari Fraksi PAN, dan Anggota DPD RI. Selamat jalan Bapak Ishaq Saleh, Allahumma ighfirlahu wa irhamhu. (riz)


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/02/09/ishaq-saleh-tokoh-muhammadiyah-kalbar-tutup-usia/

Kader Muhammadiyah Harus Produksi Konten Baik

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Perkembangan teknologi informasi hampir tidak bisa di bendung karena ia terus berkembang, terlebih dalam era Post-Truth dimana- mana informasi banyak hoax atau dis-informasi. Untuk menghindari adanya hal ini kader-kader Muhammadiyah harus gencar memproduksi konten baik di media sosial.

Hal itu disampaikan oleh Pegiat Media yang sekaligus Anggota MPM PP Muhammadiyah, Budhi Hermanto dalam Diskusi Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, pada (8/2/2019) di Aula Gedoeng Moehammdijah, Jl. KH Ahmad Dahlan Yogyakarta yang membahas materi ‘Kuasa Media era Post Truth: Modus dan Model Penindasan terhadap kamu Marginal’.

“Dalam era post truth dimana banyak masyarakat banyak yang mencari adanya pembenaran, membuat adanya disinformasi. Di sinilah kader-kader Muhammadiyah hadir dan memproduksi konten kebaikan di media,” ungkapnya.

Pola komunikasi terus mengalami perubahan dari media konvensional yang mulai terdisrupsi dengan kehadiran media digital dan didukung ragam platform media sosial sebagai kanal komunikasi baru. Hal ini harus di manfaatkan betul oleh kader Muhammadiyah.

“Misalnya, kader Muhammadiyah harus membuat platform hasil pertanian organik melalui aplikasi sebagai pemberdayaan bagi petani,” ungkapnya.

Pegiat Media yang aktif di Perkumpulan Masyarakat Peduli media itu menyarankan agar anak-anak muda khususnya kader Muhammadiyah untuk terlibat aktif dan mengkampanyekan literasi digital karena media yang saat ini ada tak cukup banyak yang mengedukasi publik.

Sesi terakhir diskusi Budhi menyarankan agar anak-anak muda kader Muhammadiyah mengimbangi media sosial yang mana dihadapkan dalam era post truth. Pertama, harus mempunyai literasi yang  baik dan kurangi bermain media sosial. Kedua, bagikan konten-konten baik di media sosial dan mengajak kebaikan.  (Andi)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15955-detail-kader-muhammadiyah-harus-produksi-konten-baik-.html

Haedar Sebutkan Tiga Hal yang Hilang Dalam Beragama

MUHAMMADIYAH. ID, JAKARTA- Umat Islam saat ini menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengalami paradoks. Sosok yang dinilai paling agamis terkadang dalam bergama tidaklah mencerahkan. 
 
"Kenapa orang beragama hatinya masih sakit? Jawabannya ada pada kolbu dan nurani masing-masing," ucap Haedar dalam pengajian bulanan PP Muhammadiyah pada Jumat (8/2) di Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng, Jakarta Pusat. 
 
Haedar juga menuturkan, orang-orang yang sempit dalam beragama salah satu faktornya yakni karena jarang iqro (membaca).
 
"Jangan-jangan kita sempit beragama karena memang tidak punya tradisi iqra (membaca) dalam bergama,"imbuh Haedar. 
 
Haedar menyebutkan, dalam beragama saat ini, ada tiga hal yang hilang di tubuh umat Islam. Yakni, sikap adil, ihsan, dan kasih sayang. 
 
Makna bersikap adil yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya, bahkan pada orang yang dibenci pun harus tetap adil, untuk sampai kesitu perlu penghayatan.
 
"Sementara ihsan ialah perbuatan yang melampaui, kalau ada yang berbuat buruk pada kita, kita diam saja, dan bahkan membalasnya dengan kebaikan, itu lah ihsan," ucap Haedar. 
 
Dan yang terakhir kasih sayang. Haedar menyebutkan sekarang ini umat Islam nyaris menjadi anak yatim ditengah budaya politik yang sedang garang.
 
"Kekecewaan yang mendalam dan hati yang terlalu mengguncang hingga melihat kebaikan orang lain menjadi ancaman. Maka ciptakan lah suasana yang jeda dan istirahat," ucap Haedar.
 
"Kemampuan kita untuk konsentrasi dalam kehidupan beragama juga perlu mencerminkan nalar," pungkas Haedar.

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15954-detail-haedar-sebutkan-tiga-hal-yang-hilang-dalam-beragama.html

Penarikan KKN Internasional UMP Dihadiri Ribuan Warga Kuala Lumpur

MALAYSIA, MUHAMMADIYAH.OR.ID  Penarikan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) dihadiri Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan ribuan warga di Kuala Lumpur.

Wakil Rektor I Bidang Akademik Dr Anjar Nugroho mengatakan penarikan KKN Internasional di Malaysia dihadiri KBRI di Malaysia Muhammad Farid Maruf (Atase Pendidikan dan kebudayaan), Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus memberi tabligh akbar di hadapan ribuan warga dan simpatisan Muhammadiyah di Kuala lumpur dan hadir pula pejabat Kedutaan Besar Republik Indonesia Agus Badrul Jamal (Minister Counsellor) dan Agung Cayaha Sumirat.

Dr Anjar mengaku sangat surprise dengan sambutan luar biasa warga Muhammadiyah di Malaysia yang tergabung dalam PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah) Malaysia. “Insya Allah periode KKN Internasional UMP mendatang akan tetap mengirim mahasiswa di PCIM Malaysia karena program KKN kali ini berjalan bagus dan sukses,” ungkapnya.

KKN Internasional UMP

Terkait KKN Internasional, Dr Anjar Nugroho mengatakan ini jadi kesempatan bagi mahasiswa UMP untuk meningkatkan pengalaman dan ilmu pengetahuan. Para mahasiwa harus berani mengeksplor segenap kemampuan yang dimiliki.

“Teman teman mahasiswa mendapat pengalaman yang luar biasa, bisa jadi kalian ini adalah dutanya UMP. Buatlah sesuatu yang menarik dan jadikan kesempatan ini sebagai pengalamanan yang berharga untuk membangun masa depan,” katanya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah Drs Hajriyanto Y. Thohari yang juga Dubes RI untuk Libanon mengatakan dengan adanya KKN Internasional, mahasiswa akan lebih punya kepercayaan diri untuk menjadi manusia yang memiliki masa depan yang cerah dan berkemajuan.

Sementara itu, KBRI di Malaysia Muhammad Farid Maruf mengungkapkan bahwa pihak kedutaan akan memfasilitasi Perguruan Tinggi di tanah air termasuk UMP yang ingin menjalin kerjasama dengan Perguruan Tinggi di Malaysia maupun masyarakat malaysia secara umum.

Ketua PCIM Malaysia Prof Dr Sonny Zulhuda berharap proses KKN bersama keluarga besar Muhammadiyah di Kuala Lumpur akan menjadi bekal yang positif bagi mahasiswa. “Jangan melupakan saudara-saudara Muhammadiyah di Malaysia. Muhhammadiyah semakin kuat dengan saling mendukung satu sama lain,” ungkapnya.

Untuk diketahui UMP kini semakin bersinar, setelah sebelumnya masuk dalam deretan 10 besar universitas terbaik di Jawa Tengah, kini UMP telah memiliki puluhan kerjasama dengan luar negeri, sedikitnya ada 47 mahasiswa asing yang sedang belajar di UMP. (tgr)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15961-detail-penarikan-kkn-internasional-ump-dihadiri-ribuan-warga-kuala-lumpur.html

Berdayakan Jamaah Masjid, Lazismu Dorong Peningkatan Ekonomi dengan Budidaya Ikan Lele

Banyumas – LAZISMU. Keberlanjutan program pemberdayaan jamaah dengan modal pertanian melalui kantor layanan Lazismu Masjid Al-Ikhlas, inovasi pemberdayaan kembali dilakukan dengan mendorong jamaah dalam program budidaya ikan Lele yang bersinergi dengan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Banyumas dan Majlis Pemberdayaan Mayarakat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas.

Masjid Al-Ikhlas yang berada di gerumbul Karang Tawang, Desa Banteran, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas tak pernah sepi dari kegiatan jamaahnya. Di sinilah pilot project gerakan filantropi hadir dari kreatifitas para jamaahnya. Selain kegiatan dakwah-sosial, baru-baru ini Lazismu fokus pada bagaimana meningkatkan ekonomi jamaah.

Kegiatan budidaya ikan Lele diawali dengan pelatihan. Teori dan praktik disampaikan langsung oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Banyumas. Dalam pelaksanaannya jamaah dibentuk menjadi beberapa kelompok. Kemudian kelompok itu diberi nama “PokDaKan Madani Al-Ikhlas”.

Materi yang diberikan mulai dari penyebaran benih, pembuatan kolam, perawatan, pakan yang benar, kondisi air, hingga cara mengetam. Beberapa hari setelah pelatihan, persiapan matang ditempuh. Pada Ahad 3 Febuari 2019, Ketua Badan Pengurus Lazismu Banyumas, Bapak Sujiman bersama Ketua PokDaKan Madani Al-Ikhlas Bapak Sutasno yang didampingi tim Lazismu bersama para jamaah menyebar benih lele.

“Dengan penyebaran benih ini, semoga budidaya ikan Lele berjalan sukses. Hasilnya dapat meningkatkan ekonomi jamaah,” kata Sujiman ketika menebar 1.500 bibit ikan Lele ke dalam kolam. Rasa optimisme menyelimuti segenap kelompok dan jamaah yang hadir untuk memulainya.

Pusat kegiatan budidaya ikan Lele berada di samping Masjid Al-Ikhlas. Jamaah bergotong-royong membuat kolam dengan ukuran 3×3 meter sewaktu pelatihan bersama dinas terkait. Jarwan selaku Ketua Lazismu Masjid Al-Ikhlas, mengatakan, pusat kegiatan budidaya ikan Lele sengaja berada di lingkungan masjid sebagai bentuk saluran media dakwah agar jamaah tetap bisa memakmurkan masjid,” ujarnya.

Jumlah benih ikan Lele yang ditebar mencapai 4.500 benih. Ditebar di kolam-kolam masing-masing anggota kelompok. Tapi pusatnya tetap berada di masjid. Jenis benih ikan Lele yang digunakan merupakan jenis ikan Lele terbaik, yakni jenis ikan Lele Masamu dengan ukuran benih 46 mm.

Dimulainya program peternakan masyarakat madani melalui budidaya ikan Lele yang didukung penuh Lazismu adalah upaya meningkatkan ekonomi jamaah. Ke depan hasilnya dapat meningkatkan daya saing ekonomi di bidang perikanan. Kekompakan, semangat, dan gerakan zakat yang tinggi dari jamaah didukung dengan kondisi air yang stabil menjadi modal utama menyukseskan program ini. Direncanakan para jamaah akan menikmati hasilnya setelah menunggu masa panen selama kurun waktu 2,5 bulan hingga 3 bulan ke depan. (hb)

0

Link Terkait: https://www.lazismu.org/berdayakan-jamaah-masjid-lazismu-dorong-peningkatan-ekonomi-dengan-budidaya-ikan-lele/

Harus Berani Ambil Resiko Jika Ingin Jadi Universitas Yang Miliki Konsep Kewirausahaan

Industri 4.0 menuntut setiap kalangan untuk bisa berinovasi karena kecanggihan teknologi yang tidak dapat dibendung. Terlebih di kalangan universitas yang kini mulai bermunculan perguruan tinggi yang bekerjasama dengan perusahaan atau membangun usaha sendiri untuk mendapatkan pemasukan dan juga memberi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan kewirausahaan.

Melalui itu The German Academic Exchange Service (DAAD) ingin menggalakkan universitas yang berbasis kewirausahaan. Hal tersebut dibahas dalam Forum Dekan Internasional ‘Dies International Dean’s Course South-East Asia 2018/2019. Acara itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang terlaksana sejak Rabu hingga Sabtu (6 – 9/2) di Yogyakarta dengan UGM dan UMY sebagai host-nya.

Dalam rangkaian kegiatan yang diselenggarakan di Ruang Amphiteatre Gedung Kasman Singodimedjo, Kampus Terpadu UMY, Jum’at (8/2). Prof. Dr. Peter Mayer, Profesor dari Fakultas Bisnis Managemen dan Ilmu Sosial, University of Applied Science Osnabrueck, Jerman menyampaikan bahwa untuk menjadi sebuah universitas kewirausahaan haruslah melihat peluang dan juga berani mengambil resiko. Peter Mayer menyampaikan topik ‘The Entrepreneurial University-Concept and Strategies’ tersebut di hadapan dekan se-Asia Tenggara yang hadir dalam acara tersebut.

“Semua orang membicarakan tentang industry 4.0, maka dari itu kita harus mempersiapkan segalanya agar tidak tertinggal dari yang lain. Khususnya untuk menjadi universitas kewirausahaan maka harus bisa melihat peluang yang orang lain melihatnya sebagai masalah. Berani mengambil resiko dan menerima kegagalan, dengan memanfaatkan kreativitas serta fleksibilitas tinggi. Tak hanya itu motivasi tinggi juga dibutuhkan,” paparnya.

Entrepreneurial University atau universitas kewirausahaan merupakan sebuah institusi yang mencoba mengidentifikasi peluang baru. Seperti halnya membuat program baru yang mengikuti perkembangan jaman, area penelitian yang semakin luas. Sehingga universitas tersebut bisa siap menerima segala resiko untuk mendapatkan hadiah berupa kesuksesan di masa depan. Namun demikian, sebuah institusi memiliki mahasiswa di dalamnya, dan Peter Mayer menambahkan bahwa universitas juga harus memperhatikan mahasiswanya untuk menciptakan kader pebisnis handal.

“Sebuah universitas kewirausahaan harus mencoba memberikan semangat berwirausaha juga kepada mahasiswanya. Hal itu bisa dilakukan melalui program entrepreneurship, pembelajaran tentang bisnis, seminar, konferens, dan pelatihan,” lanjut Peter.

Sebenarnya UMY juga sudah menuju arah universitas kewirausahaan yakni dengan adanya Amal usaha yang digagas oleh UMY sendiri bernama Bela Beli Produk Muhammadiyah Bermutu (Bedukmutu) dan Bela Beli Produk Mahasiswa (Bedukmawa). Bedukmutu dan Bedukmawa sejauh ini memiliki imbas yang positif bukan hanya untuk dosen, karyawan, dan mahasiswa, melainkan warga persyarikatan Muhammadiyah. Hal tersebut dikarenakan sistem dari kedua unit itu mendorong berbagai pihak untuk menjual barang atau jasa melalui sistem tersebut. (Habibi)


Link Terkait: http://www.umy.ac.id/harus-berani-ambil-resiko-jika-ingin-jadi-universitas-yang-miliki-konsep-kewirausahaan.html

Ketum Aisyiyah: Fatmawati, Sosok Perempuan Muslim Berkemajuan yang Berbakti untuk Bangsa

MUHAMMADIYAH. ID, JAKARTA- Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Noordjannah Djohantini menghadiri dan memberikan sambutan dalam peringatan Mengenang Hari Ulang Tahun (HUT) Ibu Negara Pertama RI, Fatmawati Soekarno yang ke-96, di Grand Ballroom the Tribrata, Jakarta, Selasa (5/2).
 
Pada acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Fatmawati tersebut, Noordjannah menyampaikan bahwa sosok ibu Fatmawati menunjukkan ketokohan seorang perempuan muslimah berkemajuan yang berbakti untuk bangsanya.
 
“Bahwa perempuan dan laki-laki setara dalam membangun bangsa dan negara dapat kita lihat salah satu contohnya adalah sosok ibu Fatmawati,” ujar Noordjannah.
 
Noordjannah juga menyampaikan untuk mengenang dan meneruskan kisah perjuangan Fatmawati, pada acara ini Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah  mempersembahkan buku berjudul Muslimah Berkemajuan (Sepenggal Riwayat Fatmawati dan ‘Aisyiyah – Muhammadiyah). Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah memberikan penghormatan dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Fatmawati, Ibu Negara Republik Indonesia yang telah banyak berjasa kepada umat Islam dan juga bagi semua golongan dengan latar belakang agama, etnis, dan budaya yang berbeda-beda.
 
 “Fatmawati adalah Ibu Negara dan Ibu Bangsa yang lahir dari keluarga Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang lekat warna keislaman dan keindonesiaannya yang berkemajuan," tuturnya. 
 
Turut hadir dalam memperingati HUT Ibu Fatmawati yang Ke-96, adalah para ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah; Presiden RI Ke-5 Megawati Soekarnoputri; Ibu Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla; Mendikbud, Muhadjir Effendy; Pimpinan/Kepala Kementerian/Lembaga Negara.
 
Sumber: (Suri)

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15946-detail-ketum-aisyiyah-fatmawati-sosok-perempuan-muslim-berkemajuan-yang-berbakti-untuk-bangsa.html

MDMC Lakukan Penyuluhan Kesehatan Lingkungan Bagi Warga di Sigi dan Donggala

MUHAMMADIYAH.ID,SIRENJA - Tim kesehatan Muhammadiyah Disaster Managemen Center (MDMC) melakukan penyuluhan kesehatan lingkungan, di pengungsian Duren Dusun 2 Desa Tanjung Padang Kecamatan Sirenja, Selasa (5/2).
 
Materi yang dibahas seputar pengelolaan sampah di sekitar lingkungan warga. 
 
Hervina selaku koordinator kesehatan masyarakat MDMC menyampaikan mdmc melakukan program ini untuk mendukung terciptanya lingkungan yang sehat.
 
 "Untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat harus dimulai dengan lingkungan yang sehat salah satu caranya adalah dengan membuang sampah pada tempatnya. Karena itu MDMC melakukan program yang mendukung terciptanya lingkungan sehat dengan memberikan tong sampah gratis kepada warga pengungsian," jelasnya. 
 
MDMC juga memberikan tong sampah kepada setiap kepala keluarga yang menghuni tenda pengungsian. Rinciannya, dari 78 tong sampah ukuran 42 liter, sebanyak 47 diantaranya telah dibagikan. Ada juga 4 tong sampah ukuran 60 liter yang diletakkan di tempat umum.
 
Sementara di Pantoloan Palu, sebanyak 75 tong sampah rumah tangga, 3 tong sampah komunal, 1 gerobak sampah, dan 1 bank sampah masih dalam tahap distribusi. 
 
Untuk di Kabupaten Sigi, MDMC menyebarkan 18 tong sampah ukuran 60 liter. Sedangkan di Bobo 20 tong sampah 42 liter dan 2 tong sampah 60 liter. Sementara di Wani, telah tersebar 10 bak sampah komunal di 5 desa. 
 
Salah satu pengungsi, Alfiyah mengaku terbantu dengan program MDMC ini. 
 
"Saya biasanya membuang sampah di halaman lalu dibakar. Dengan adanya tong sampah ini, semoga lingkungan tenda jauh dari nyamuk," harap wanita 50 tahun ini.

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15945-detail-mdmc-lakukan-penyuluhan-kesehatan-lingkungan-bagi-warga-di-sigi-dan-donggala.html

Mendikbud RI: Muhammadiyah Punya Tanggung Jawab Bentuk Karakter Bangsa

MUHAMMADIYAH.ID, MALANG — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia, Muhadjir Efendi dalam sambutannya di Sarasehan Kebangsaan pra-Tanwir, Kamis (7/2) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan, dakwah kasih sayang sebagai upaya pokok Muhammadiyah dalam menjaga kesatuan bangsa dan membawa Indonesia berkemajuan.

Dakwah yang saat ini lebih banyak menghakimi dan hanya berorientasi pada surga atau neraka, pemilihan dakwah kasih sayang yang pakai oleh Muhammadiyah sebagai alat pemersatu bangsa. Karena dakwah itu merangkul bukan ‘ndengkul’.

“Dakwah kasih sayang, dan menghilangkan sekat primordial menjadi keutamaan dakwah Muhammadiyah.” Ungkap Muhadjir

Bukan hanya sebagai pemersatu, Muhammadiyah juga memiliki tanggungjawab dalam pembentukan karakter bangsa. Melacak jejak sejarah, peletak pembentukan karakter bangsa memiliki keterkaitan dengan kader awal Muhammadiyah.

“Jika melihat Indonesia kedepan lebih maju. Maka, menjadi harus menengok kebelakang peran kader Muhammadiyah dalam meletakkan pembentukan karakter bangsa.” Urainya

Kini, tugas tersebut tidak beralih kepundak lain. Menjalin persaudaraan, persatuan, dan merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), masih menjadi Pekerjaan Rumah bagi Muhammadiyah.

“Tugas kita adalah menciptakan Indonesia berkemajuan.”Ujar mantan Rektor UMM ini.

Namun, didalam internal Muhammadiyah sendiri masih jarang yang menyadari peran Muhammadiyah dalam pembentukan karakter bangsa ini. Padahal jika melacak geneologi karakter bangsa Indonesia, peran Muhammadiyah tidak bisa dinafikan. Soekarno sebagai bapak proklamator, merupakan guru Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah di Bengkulu dan menantu dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bengkulu.

“Termasuk dalam pemersatu NKRI, integral antara teritorial laut dan tanah negara. Merupakan hasil dari dekralasi Juanda, yang lebih memilih menjadi Guru di sekolahMuhammadiyah dan menolak ditawari menjadi dosen di kampus negeri.” Urai Muhadjir.

Sekarang, tugas sebagai pelanjut estafet penerus bangsa adalah harus memerangi mental kalah di dalam tubuh internal Muhammadiyah.Serta merajut ukhuwah kebangsaan melalui dakwah kasih sayang. (aan)a


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15941-detail-mendikbud-ri-muhammadiyah-punya-tanggung-jawab-bentuk-karakter-bangsa.html

Franz Magnis Suseno: Masa Depan Indonesia Ada di Tangan Islam

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALANG — Sarasehan Kebangsaan Pra-Tanwir Muhammadiyah yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan budayawan, rohaniwan yang juga pemikir Prof. Dr. Franz Magnis Suseno. Ia hadir sebagai panelis dalam gelaran jelang Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu 15-17 Februari mendatang.

Di sesi pertama, Romo Magnis membeberkan materi dengan topik "Tantangan Fragmentasi Kebangsaan dan Revitalisasi Peran Agama sebagai Perekat Ikatan Keadaban". Di diskusi ini Romo Magnis mengemukakan bagaimana Pancasila dapat menghadirkan perdamaian di Indonesia. Pancasila yang dicetuskan Bung Karno menjadi kuncinya.

"Ketika Bung Karno mencetuskan Pancasila, ia membuat paham negara alternatif yang bisa menaungi negara sekuler dan negara agama," jelas Romo Magnis. Dilanjutkannya bahwa berkat Pancasila menjadikan Indonesia dikenal sebagai negara yang tidak perlu diragukan toleransinya. Semua agama bisa hidup dengan tenang di sini.

"Meskipun 87% masyarakat Indonesia menganut agama Islam, mereka bisa menghormati orang-orang minoritas," lanjut Romo Magnis. Ia menyatakan bahwa masyarakat beragama Islam tidak mendiskriminasi masyarakat penganut agama lainnya. Mereka bisa bekerja sama dengan baik dan tetap bisa hidup damai.

Indonesia sebagai negara penganut sistem demokrasi memiliki resiko dimanfaatkan oleh kaum radikalis, fundamentalis, dan terorisme. Masyarakat Islam sebagai mayoritas di Indonesia, memiliki tanggung jawab menjadikan negara ini tetap harmonis. Lebih jauh, kata Franz, masa depan Indonesia ada di tangan umat Islam.

Mengutip buku Yuval Noah Harari "Homo Deus", disebut Franz bahwa revolusi pengetahuan sangat penting dilakukan untuk memajukan bangsa. Muhammadiyah yang didirikan K.H Ahmad Dahlan sudah melakukan revolusi itu. "Muhammadiyah harus tetap mendidik masyarakat Islam yang membuat gembira,” tandas Romo Magnis. (*)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15942-detail-franz-magnis-suseno-masa-depan-indonesia-ada-di-tangan-islam.html

Haedar: Keberagamaan Harus Membuahkan Kebajikan Perilaku

MUHAMMADIYAH.IDMALANG — Islam sebagai agama dakwah bukan hanya mengurusi syariat, lebih dalam dari itu. Aktivitas ke-Islam harus menghujam dalam kesadaran imani yang membuahkan kebajikan perilaku. 

Ungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang didaulat sebagai keynote speaker dalam Sarasehan Kebangsaan pra-Tanwir yang digelar pada Rabu (7/2), di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

“Jika ingin Islam itu mewujud dalam tindakan nyata yang mencerahkan diri dan lingkungannya maka penting adanya proses spiritualisasi ihsan dalam beragama.” kata Haedar

Beragama dan dakwah merupakan dua aspek yang saling terkait baik antar keduanya maupun dengan agama itu sendiri. Beragama menyangkut praktik hidup pemeleuk agama yang jiwa, pikiran, sikap, dan tindakannya berlandaskan agama. Dengan beragama manusia itu beriman sekaligus berilmu dan beramal kebaikan sesuai dengan nilai-nilai dasar dari agama itu sendiri.

“Dengan demikian beragama merupakan kata kerja dari setiap orang yang memeluk agama, yang dalam terminologi Islam sepadan dengan mengamalkan agama secara totalitas atau kaffah.” Urainya.

Keislaman bukan berhenti dalam atribut pakaian serba putih yang tampak disakralkan dari luar, ritual-ritual ibadah seremonial, kefasihan berdalil kitab suci, serta sederat formalitas syariat luar. Islam justru harus dijadikan model perilaku aktual (mode for action) yang serba bajik sebagaimana rujukan Akhlaq Nabi dan para sajabat mulia yang membuktikan kata sejalan tindakan. Itulah akhlak uswah hasanah.

Dalam konteks menggelorakan “Beragama yang Mencerahkan” seganap pimpinan penting menyuarakan sekaligus mempraktikan pesan-pesan keislaman yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan.

Islam harus membentuk perangai umatnya agar lurus dan lapang hati dalam menghadapi keadaan. Perangai tersebut juga berlaku dalam konteks dakwah dan menyikapi orang lain yang berbeda keyakinan sekalipun, sungguh terhormat manakala lurus dan lembut hati. Kelembuthatian jika tetap dilandasi kekuatan prinsip atas keyakinan Islam tidak akan menjadikan diri rendah atau kalah di hadapan orang lain.

Dalam gerakan dakwah pencerahan, Muhammadiyah memaknai dan mengaktualisasikan jihad sebagai ikhtiar mengerahkan segala kemampuan (badlul-juhdi) untuk mewujudkan kehidupan seluruh umat manusia yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat. Jihad dalam pandangan Muhammadiyah bukanlah perjuangan dengan kekerasan, konflik, dan permusuhan. 

“Dakwah yang serba menghardik, memvonis, lebih-lebih yang memusuhi dan takfiri bukanlah dakwah yang mencerahkan. Berdakwahlah sebagaimana Nabi menyeru untuk menyempurnakan akhlaq manusia disertai uswah hasnah serta menjadikan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin dalam kehidupan semesta.” Pungkas Haedar. (Aan)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-15944-detail-haedar-keberagamaan-harus-membuahkan-kebajikan-perilaku.html

Unisa Adakan Workshop Menuju APT Unggul

Universitas `Aisyiyah Yogyakarta mengadakan Workshop kelembagaan menuju Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) Unggul, Kamis (7/2).

Dr. Totok Prasetyo, B.Eng., M.T selaku Direktur Pembinaan Kelembagaan Perguruan Tinggi Kemenristekdikti didapuk sebagai narasumber dalam workshop kali ini, yang diadakan di meeting room 1 kampus Unisa Yogya.

Adapun Totok menjelaskan mengenai klaster dan jenis klaster di perguruan tinggi, serta aspek- aspek yang berpengaruh pada penilaian skor dalam akreditasi beserta arah kebijakan pengembangan kedepanya yang akan dilakukan oleh perguruan tinggi.

“Kualitas SDM yang baik dan adanya prestasi yang telah diraih, serta banyaknya penelitian yang dilakukan oleh dosen akan mendongkrak peringkat perguruan tinggi,” ujar Totok.

Rektor Unisa Yogya Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat dalam sambutanya didepan para pimpinan fakultas dan ketua prodi yang diundang dalam acara workshop, mengatakan bahwa dengan turut mengundang direktur pembinaan kelembagaan kemenristekdikti sebagai narasumber bisa menjadi motivasi untuk meraih nilai akreditasi perguruan tinggi unggul.

“Kita akan banyak mendapatkan informasi mengenai kelembagaan dari pemaparan yang disampaikan nanti, harapanya segera bisa kita aplikasikan dan tambahkan apa yang masih kurang dari persiapan kita disini,” tutup Warsiti.


Link Terkait: https://www.unisayogya.ac.id/unisa-adakan-workshop-menuju-apt-unggul/

Menggaungkan Islam Berkemajuan

GARUT, Suara Muhammadiyah ?Muhammadiyah mengusung Islam berkemajuan sebagai konsep dakwahnya. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam ceramahnya pada acara Sewindu Ponpes Al-Furqon MBS Cibiuk Garut, Ahad (3/2) menjabarkan Islam berkemajuan tersebut.

Pertama, Islam adalah dienul iqra. Islam mengajari kita untuk iqra, tafakkur, tadabbur. Ia adalah dienul fikrah. Banyak sekali perintah tentang tafaqquh, nadhar, tadabbur, ulil albab. Surat dan wahyu pertama adalah iqra. Kenapa wahyu pertama bukan tentang shalat? Ini adalah rahasia yang besar. Oleh karena itu, muhammadiyah membangun madrasah. ?Muhammadiyah Boarding School seperti Al Furqon ini adalah madrasah versi modern. Klasiknya tetap dapat, tetapi modernnya tidak ketinggalan. Konsepnya, santri dibentuk untuk mengecap wawasan yang luas. Tak hanya menguasai ilmu agama, tetapi menguasai juga ilmu pengetahuan umum. Nantinya akan melahirkan kader muhammadiyah yang mampu memimpin umat dan bangsa,? paparnya.

Kiai Mas Mansur, lanjutnya, adalah empat serangkai bersama Soekarno, Hatta dan Ki Hajar Dewantara. Tokoh muhammadiyah yang ada BPUPKI adalah Prof Kahar Muzakir dan Ki Bagus Hadikusumo. Mereka adalah tokoh nasional yang lahir dari rahim pendidikan Muhammadiyah. Ada Jenderal Sudirman yang lahir dari Kepanduan Hizbul Wathan. Dengan dibentuknya ?Aisyiyah menunjukkan bahwa perempuan dapat berperan menjadi daiyah, mujaddid, pemikir dan penggerak dakwah. Sehingga pada tahun 1917 ?Aisyiyah menjadi satu-satunya organisasi Islam perempuan yang dilahirkan dari Muhammadiyah. Sekarang ?Aisyiyah menjadi satu-satunya organisasi perempuan di dunia yang mempunyai universitas.

Kedua, islam adalah dienul taghyir. Agama perubahan. Karena hanya kita yang bisa mengubah nasib kita sendiri. Soekarno terpikat oleh pemikiran-pemikiran Ahmad Dahlan ketika ia nge-kost di rumah Cokroaminoto pada usia 18 tahun. Di sana ia mengikuti pengajian Kyai Dahlan yang sebulan sekali ke Surabaya untuk mengisi pengajian. Hingga pada tahun 1933 dia resmi menjadi anggota Muhammadiyah. Pada tahun 1934-1935 ia di buang ke Ende dan di sana ia mengaku sebagai warga Muhammadiyah. Dalam suratnya kepada A Hasan, tokoh Persis, ia mengaku memilih Muhammadiyah karena pemikiran Muhammadiyah cocok dengan pemikirannya, yaitu Islam yang progresif, berkemajuan, dan pembaharu. Kemudian saat dia dibuang ke Bengkulu, ia menjadi menantu konsul Muhammadiyah Bengkulu, dengan menikahi Fatmawati, sang ibu negara penjahit bendera pertama. Fatmawati adalah kader Nasyiatul ?Aisyiyah. Hingga terlontar dari bibirnya, ?Makin lama saya makin cinta Muhammadiyah.?

Tak mungkin seorang yang haus pemikiran seperti Soekarno sampai tertarik pada pemikiran islam kalau tidak ada sesuatu yang berbeda. Muhammadiyah berpikiran maju, membawa ide-ide progresif, pembaharuan. Pertanyaannya, kenapa kita harus maju? Karena kita dijajah. ?Sekarang sesungguhnya kolonialisme itu masih ada. Negara-negara adidaya di dunia ini tentu tak ingin lahir kekuatan besar dari negara-negara Islam. Selanjutnya, karena kita tak mungkin menyaingi minoritas yang kuat jika kita tidak maju di berbagai hal yang terkait dengan hidup kita.

?Islam harus baik akhlaknya. Bahkan Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak menjadi pondasi membangun kemajuan. Kita tidak boleh zuhud yang berlebihan, jauh dan terasing. Kita harus menjadi syuhada al annas. Saya yakin, Al Furqon, Darul Arqam, Baitur Rahmah, At Tajdid, akan menjadi saksi kemajuan. Kita didik mereka dengan baik. Diajari akhlak dan kemajuan. Ke depan insya Allah mereka akan menjadi khairun nas anfauhum linnas,? paparnya.

Ketiga, Islam adalah dienul hadharah, agama yang mengusung kemajuan. Muhammadiyah hadir membawa Islam yang damai. Tidak mengedepankan kekerasan. Dewasa dan beradab. Islam pasca nabi menjadi agama dunia. Menyebar ke seluruh alam. Hingga muncul para ilmuwan islam seperti Al Khawarizmi, Ibnu Rusdi, Ibnu Khaldun, dan lainnya. Jauh sebelum Barat punya ilmuwan, Islam sudah terlebih daluhu punya, karena Islam adalah dienul hadharah.

?Nilai-nilai kemajuan peradaban itu harus hadir, tumbuh dan mekar. Jika masih ada generasi mubaligh atau pimpinan yang takut untuk maju, pikirannya cupet, pendek, heureut, berarti ia belum memahami Muhammadiyah sepenuhnya. Ia harus belajar kembali tentang nilai-nilai ke-Muhammadiyah-an,? tegasnya.

Muhammadiyah tidak reaksioner atas kemajuan orang lain. Anak-anak harus kita ajari berpikir seperti itu. Membaca berbagai kitab. Tak hanya kitab kuning, tetapi juga kitab putih. Jangan takut. Karena ini adalah langkah kita untuk maju. Siapa tahu nanti mereka melahirkan kitab hijau atau biru. Itulah jiwa Muhammadiyah. Jiwa ijtihad. Tajdid.

Keempat, Islam adalah dienul amal, agama perbuatan. Semua pemikiran tadi harus diaplikasikan dalam perbuatan. Oleh karena itu, Muhammadiyah membuat sekolah dan rumah sakit, yang bagus dan terus ditingkatkan kualitasnya. Hidup bersih sehat dan kesadaran lingkungan yang baik. Jangan sampai kaburo maktan indallahi takuulu maala taf?alun. Jangan sampai kita bicara tetapi kita sendiri tidak menjalankan apa yang kita bicarakan itu. (hidayahnu)


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/02/07/menggaungkan-islam-berkemajuan/

Ta’awun

Assalaamu’alaikum Wr Wb

إِنَّ اْلحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِناَ. مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضَلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَا دِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. الَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ نَبِيِّناَ مُحَمَّد وَ عَلىَ اٰلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ فَياَعِبَادَ اللهِ. أُصِيْكُمْ وَإَيّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ

 

Hadirin Yang Berbahagia

Allah SwT berfirman:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٢

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (Al-Maidah: 2).

Dalam ayat tersebut terdapat kata “al-birru” dan “at-Taqwa” yang memiliki hubungan yang sangat erat. Karena masing-masing menjadi bagian dari yang lainnya. Secara sederhana, makna dari kata al-Birru adalah kebaikan. Maksud dari kebaikan dalam hal ini adalah kebaikan yang menyeluruh, mencakup segala macam dan ragam.

Imam Ibnu al-Qayyim mendefinisikan bahwa al-Birru adalah satu kata bagi seluruh jenis kebaikan dan kesempurnaan yang dituntut dari seorang hamba. Lawan katanya ialah al-istmu (dosa) yang mempunyai makna satu ungkapan yang mencakup segala bentuk kejelekan dan aib yang menjadi sebab seorang hamba sangat dicela apabila melakukannya. (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim)

Tidak jauh berbeda, syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa al-Birru adalah sebuah nama yang mencakup segala yang Allah Subḥanahu wa Ta’ala cintai dan ridhai, berupa perbuatan-perbuatan yang dhahir maupun batin, yang berhubungan dengan hak Allah Subḥanahu wa Ta’ala atau hak sesama manusia

Tolong menolong dalam bahasa Arabnya adalah Ta’awun. Sedangkan menurut istilah, pengertian Ta’awun adalah sifat tolong menolong diantara sesama manusia dalam hal kebaikan dan takwa. Dalam ajaran Islam, tolong menolong merupakan kewajiban setiap muslim. Sudah semestinya konsep tolong menolong ini dikemas sesuai dengan syariat Islam, dalam artian tolong menolong hanya diperbolehkan dalam kebaikan dan takwa, dan tidak diperbolehkan tolong menolong dalam hal dosa atau permusuhan.

Dari kesimpulan ayat diatas bahwasanya manusia adalah makhluk lemah tak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa bantuan pihak lain. Agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya manusia perlu mengadakan kerjasama, tolong-menolong, dan bantu-membantu dalam berbagai hal. Dapat kita ketahui bahwa Islam sangat menjunjung tinggi tolong menolong. Tolong menolong telah menjadi sebuah keharusan, karena apapun yang kita kerjakan tentu membutuhkan pertolongan dari orang lain.

Maka dalam suatu hadis telah disebutkan, bahwa antara mukmin yang satu dengan yang lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling memperkuat antara sebagian dengan yang lainnya. Tidak setiap bentuk tolong –menolong itu baik, melainkan ada juga yang tidak baik. Tolong menolong yang baik apabila mengarah pada kebaikan sesuai petunjuk agama.

Adapun tolong-menolong yang menyangkut masalah dosa dan permusuhan termasuk perkara yang dilarang agama. Pun begitu juga dengan ta’awun,tolong menolong adalah suatu sistem yang benar-benar memperindah Islam. Manusia satu dengan yang lainnya pastilah saling membutuhkan. tidak ada seorang manusia pun di muka bumi ini yang tidak membutuhkan pertolongan dari yang lain.

Hadirin Yang Berbahagia

Sangat penting jika kita mepenerpkan sifat ta’awun dalam dimensi kehidupan sehari-hari seperti sekarang ini. Karena seperti realitanya sangat sedikit sekali orang yang enggan menerapkan sifat ta’awun dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sebagai umat yang beragama Islam, seyogianya kita wajib menerapkan sifat ta’awun ini dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini khatib akan paparkan beberapa diantaranya;

Pertama, mengajak dalam ketaqwaan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’ālā. Ta’awun (tolong menolong) yang dianjurkan adalah ta’awun (tolong menolong) dalam mengajak saudara sesama muslim untuk bertaqwa kepada Allah Swt, mengajak bersama-sama menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Kedua, loyal terhadap sesama kaum muslimin. Loyalitas dalam pemikiran berarti selalu ber-husnudzan atau berprasangka baik kepada sesama muslim. Tidak mengira atau menuduh seorang muslim lain dengansangkaan buruk. Loyal terhadap perkataan, memiliki arti saling menasihati dalam kebaikan. Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman:

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ٧١

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah: 71)

Loyal secara perbuatan terhadap sesama muslim adalah melakukan tindakan amar ma’ruf nahi munkar dan mengajak saudara sesama muslim untuk melakukannya.

Ketiga, saling melindungi dan bersatu diantara kaum muslimin. Kokohnya agama Islam layaknya sebuah bangunan, yang di dalamnya semua umat muslim harus bersatu dalam menegakkan kebenaran dan ketaqwaan. Jika umat muslim yang memang mengaku sebagai Islam tidak mampu menjaga kekokohan agamanya, maka hancurlah agama tersebut. Maka dari itu, saling melindungi diantara sesama umat muslim sangat dianjurkan sebagai bentuk ta’awun. Demikian. Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang selalu melakukan hal tersebut. Amin-amin ya rabbal ‘alamiin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فىِ اْلقُرأنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الاٰيَاتِ وَالذِّكْرَ اْلحَكِيْمِ، وَ تَقَبَّلَ مِنيِّ وَ مِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الَسمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

KHUTBAH II

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ . ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَ ﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ . ﻭَﺍﻟﺼَّﻼَﺓُ ﻭَﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ . ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : } ﻭَﺗَﺰَﻭَّﺩُﻭﺍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟﺰَّﺍﺩِ ﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ {

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ، ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ .

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻛَﻤَﺎ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴْﺪٌ ﻣَﺠِﻴْﺪٌ . ﻭَﺑَﺎﺭِﻙْ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻛَﻤَﺎ ﺑَﺎﺭَﻛْﺖَ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴْﻢَ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺣَﻤِﻴْﺪٌ ﻣَﺠِﻴْﺪٌ .

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْﻟَﻨَﺎ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻨَﺎ ﻭَ ﺫُﻧُﻮْﺏَ ﻭَﺍﻟِﺪَﻳْﻨَﺎ ﻭَﺍﺭْﺣَﻤْﻬُﻤَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺭَﺑَّﻴَﺎﻧَﺎ ﺻِﻐَﺎﺭًﺍ

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻠْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤَﺎﺕِ، ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴْﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺍْﻷَﺣْﻴَﺎﺀِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍْﻷَﻣْﻮَﺍﺕِ، ﺇِﻧَّﻚَ ﺳَﻤِﻴْﻊٌ ﻗَﺮِﻳْﺐٌ ﻣُﺠِﻴْﺐُ ﺍﻟﺪّﻋَﻮَﺍﺕِ .

ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﻟِﺈِﺧْﻮَﺍﻧِﻨَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺳَﺒَﻘُﻮﻧَﺎ ﺑِﺎﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥِ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺠْﻌَﻞْ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮﺑِﻨَﺎ ﻏِﻠّﺎً ﻟِّﻠَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺇِﻧَّﻚَ ﺭَﺅُﻭﻑٌ ﺭَّﺣِﻴﻢٌ

ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻇَﻠَﻤْﻨَﺎ ﺃَﻧﻔُﺴَﻨَﺎ ﻭَﺇِﻥ ﻟَّﻢْ ﺗَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﺗَﺮْﺣَﻤْﻨَﺎ ﻟَﻨَﻜُﻮﻧَﻦَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮِﻳﻦَ

ﺭَﺑَﻨَﺎ ﺀَﺍﺗِﻨَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪّﻧْﻴَﺎ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻓِﻲ ﺍْﻷَﺧِﺮَﺓِ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﻭَﻗِﻨَﺎ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻨّﺎﺭِ . ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ .

ﻭَﺻَﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳَﻠﻢ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﺤَﻤﺪ ﺗﺴﻠﻴﻤًﺎ ﻛَﺜﻴْﺮًﺍ ﻭﺁﺧﺮ ﺩَﻋْﻮَﺍﻧَﺎ ﻟﻠﻪ


Arya Bimantara R


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/02/07/taawun/

Noordjannah : Fatmawati, Sosok Perempuan Muslim Berkemajuan yang Berbakti untuk Bangsa

Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Noordjannah Djohantini menghadiri dan memberikan sambutan dalam peringatan Mengenang Hari Ulang Tahun (HUT) Ibu Negara Pertama RI, Fatmawati Soekarno yang ke-96, di Grand Ballroom the Tribrata, Jakarta, Selasa (5/2).
 
Pada acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Fatmawati tersebut, Noordjannah menyampaikan bahwa sosok ibu Fatmawati menunjukan ketokohan seorang perempuan muslimah berkemajuan yang berbakti untuk bangsanya. “Bahwa perempuan dan laki-laki setara dalam membangun bangsa dan negara dapat kita lihat salah satu contohnya adalah sosok ibu Fatmawati,” ujar Noordjannah.
 
  
 
 
Noordjannah juga menyampaikan untuk mengenang dan meneruskan kisah perjuangan Fatmawati, pada acara ini Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah  mempersembahkan buku berjudul Muslimah Berkemajuan (Sepenggal Riwayat Fatmawati dan ‘Aisyiyah – Muhammadiyah). Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah memberikan penghormatan dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Fatmawati, Ibu Negara Republik Indonesia yang telah banyak berjasa kepada umat Islam dan juga bagi semua golongan dengan latar belakang agama, etnis, dan budaya yang berbeda-beda. “Fatmawati adalah Ibu Negara dan Ibu Bangsa yang lahir dari keluarga Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang lekat warna keislaman dan keindonesiaannya yang berkemajuan.”
 
Sosok Fatmawati yang lahir di Bengkulu pada 5 Februari 1923 dan meninggal pada 14 Mei 1980 ini, juga dikenal sebagai aktivis 'Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah. Kecintaannya pada organisasi perempuan muslim berkemajuan ini bahkan ditunjukan saat menjahit dua kain katun halus yang menjadi bendera Pusaka Indonesia yang dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pada saat itu Fatmawati menjahit sambil menyanyi kumandang Nasyiah.
 
 
 
Turut hadir dalam memperingati HUT Ibu Fatmawati yang Ke-96, adalah para ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah; Presiden RI Ke-5 Megawati Soekarnoputri; Ibu Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla; Mendikbud, Muhadjir Effendy; Pimpinan/Kepala Kementerian/Lembaga Negara. (Suri)

Link Terkait: http://www.aisyiyah.or.id/id/berita/noordjannah-fatmawati-sosok-perempuan-muslim-berkemajuan-yang-berbakti-untuk-bangsa.html

Lazismu Ajak Kaum Muslimin Berdayakan Komunitas Mualaf Lembang

Parepare – LAZISMU. Puluhan orang yang memeluk Islam yang ramai diperbincangkan di Parepare beberapa waktu lalu kini berstatus Mualaf. Mereka menyita perhatian publik, karena itu, Lazismu Parepare mengutus amil Lazismu Parepare untuk mengkonfirmasi lansung berita tersebut.

Pada Ahad, 3 Februari kemarin, Lazismu Parepare yang dikoordinir oleh Saiful Amir selaku Sekretaris Lazismu, didampingi Erwin dan Kasman relawan Lazismu yang dipandu oleh Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Patinjo, Muh Yusuf mendatangi lokasi yang berjarak kurang lebih 60 km dari Parepare dengan waktu jarak tempuh 3 jam, karena kondisi jalan yang licin dan rusak parah.

Rombongan Lazismu tiba di lokasi sekitar pukul 16.30 WITA, disambut oleh tokoh masyarakat sekaligus Ketua mualaf Muin. Sambutan hangat itu menandai pertemuan Lazismu yang pertama kali di musala kecil untuk berbincang-bincang lebih lanjut.

Hadir belasan anak-anak juga para bapak-bapak dan ibu-ibu menyambut kedatangan Lazismu. Para mualaf bercerita banyak tentang harapan dan cita-cita yang mereka inginkan. Muin menuturkan, jumlah warga yang sudah masuk Islam ada 30 KK yang tersebar di tiga lokasi berbeda. “Ada 21 KK yang mengikuti pembinaan dan hijrah ke kampung dengan 7 KK sudah mendirikan rumahnya,” ungkapnya.

Dulu kami hidup berdampingan dengan saudara non-muslim lainnya, tapi karena untuk menjaga kebaikan, kami rela hijrah dan membuat komunitas baru yang diberi nama Kampung Baru.

Muin mengatakan, awal mulanya kami dan kawan-kawan ini berasal dari agama Katolik dan Alutodolo (agama kepercayaan), berkat bimbingan dari petugas KAU yang datang dari kecamatan memberikan pencerahan sekali dalam sebulan, akhirnya kami tertarik satu persatu bersyahadat dan masuk Islam, paparnya.

Muin selalu mengenang cerita ini. Usianya yang relatif muda, terus berusaha belajar dari nol untuk mengenal Islam. Komunitas Mualaf Kampung Baru membutuhkan sarana ibadah seperti masjid, tempat TKA/TPA yang sangat penting untuk membina anak-anak.

Mualaf lainnya Guntur memberikan cerita lain bahwa dirinya dan mualaf lainnya butuh bimbingan dan pendampingan di bidang ekonomi. Mayoritas bekerja sebagai petani. “Agar kami bisa bertahan hidup mandiri tidak tergantung dengan orang lain maka kami perlu arahan sehingga kemandirian ekonomi bisa berdampak pada pendidikan anak-anak untuk tetap sekolah ke jenjang yang lebih tinggi,” tuturnya. Pemberdayaan petani sangat kami nanti agar ekonomi bisa maju.

Hal senada disampaikan Novy, mualaf perempuan yang berharap ada pembimbing yang datang untuk mengajarkan cara mengaji dan belajar Islam di majelis taklim. Meskipun usia tidak muda lagi, tapi kami rindu akan hidayah Islam yang sekian lama tidak mengenalnya. “Ajari kami untuk bisa mengamalkan dan bisa istikomah, harap Novy.

Dalam kesempatan itu, Saiful Amir mengungkapkan rasa syukurnya. Mari kita rawat hidayah ini jangan sampai lepas. Semua berangkat dari dasar dulu, yang ringan serta mudah tapi menggembirakan. “Tidak perlu belajar dari hal yang sulit dan berat nanti cepat bosan,” tandasnya.

Lazismu mengajak semua saudara muslim yang ada di luar sana mari kita bekerja sama, saling mendukung untuk menguatkan saudara-saudara mualaf ini, jangan kita hanya heboh sesaat lalu pergi.

Ini pekerjaan mulia namun berat. Saatnya nanti akan menjadi mudah dan ringan jika saling berbagi, apapun latar belakang ke-Islaman kita. “Mari duduk bareng, saling berkoordinasi apa yang bisa dikontribusikan kepada para mualaf ini,” ajaknya. Diakhir sesi ramah-ramah itu, Saiful Amir menyerahkan cendera mata sebagai bukti cinta kepada mualaf. (sa)


Link Terkait: https://www.lazismu.org/lazismu-ajak-kaum-muslimin-berdayakan-komunitas-mualaf-lembang/

Raih ISO 9001, UMY Bongkar Tradisi Lama Manajemen Perguruan Tinggi

Penerapan catur dharma yang dilakukan oleh perguruan tinggi harus memiliki kualitas agar selalu kompeten dan bermanfat baik bagi pelaksana dan penerimanya. Untuk itu perlu dilakukan penjagaan dan peningkatan terhadap pengelolaan kerja organisasi agar kinerjanya selalu baik. Sebagai sebuah perguruan tinggi yang unggul Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berusaha memenuhi kebutuhan tersebut, salah satunya adalah dengan meraih sertifikasi ISO 9001: 2015. Melalui sertifikasi tersebut, UMY dapat memastikan manajemen yang dimiliki sudah dapat menghasilkan penerapan catur dharma yang sesuai dengan visi misi UMY.

Sertifikasi yang didapatkan oleh UMY diberikan oleh PT TUV Rheinland Indonesia (TRID), dan diterima oleh Rektor UMY, Dr.Ir. Gunawan Budiyanto, M.P. didampingi Wakil Ketua Badan Pembina Harian UMY Dr. H. Agung Danarto, M.Ag. pada hari Senin (4/2) di lobi Rektor gedung AR Fachruddin A.

Dalam sambutannya Gunawan menyampaikan bahwa sertifikasi tersebut akan berguna untuk memastikan UMY berada dalam jalur yang benar dalam pelaksanaan kegiatannya. “Kita ingin right on track dalam bekerja, artinya kita benar melakukan yang dilaporkan dan melaporkan yang dilakukan. Dengan sistem manajemen yang dimiliki UMY kini rencana kerja yang dirumuskan bukan hanya sekedar daftar keinginan dari perorangan, tapi merupakan hasil dari pengkajian kebutuhan dan target UMY sebagai perguruan tinggi. Karena yang kita butuhkan adalah kualitas dan bukan sekedar banyak kegiatan yang dilaksanakan,” ujarnya.

Gunawan menyebutkan melalui sistem manajemen yang kini sudah tersertifikasi UMY sudah berhasil merombak kultur kerja yang sudah menjadi tradisi. “Pada beberapa perguruan tinggi, rektor merupakan penguasa umum atas seluruh dana yang dimiliki oleh perguruan tersebut. Padahal hal ini bisa menjadi celah untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang tidak ada manfaatnya untuk pengembangan kampus. Melalui manajemen yang kita miliki saat ini, yang menentukan alokasi dana adalah sistem itu sendiri sehingga kita bisa memastikan bahwa seluruh uang yang kita berikan untuk suatu kegiatan membawa manfaat bagi pemenuhan target yang dibutuhkan UMY,” jelasnya.

Sapto Hariyono, selaku perwakilan dari TRID menyampaikan bahwa usaha UMY dalam merumuskan sistem manajemen sesuai dengan standar sertifikasi yang diberikan. “Manajemen ini sangat penting bagi organisasi, karena sistem manajemen yang baik adalah ibarat darah yang menjadi motor penggeraknya. Melalui sertifikasi ini harapan saya adalah UMY mampu memberikan pendidikan dan menyiapkan serta menghasilkan lulusan yang dapat membangun Indonesia. Terlebih dengan globalisasi yang membuka pintu bagi pekerja asing untuk masuk ke negara ini, saya berharap agar generasi muda kitalah yang akan banyak menjadi penggeraknya,” paparnya. (raditia)


Link Terkait: http://www.umy.ac.id/raih-iso-9001-umy-bongkar-tradisi-lama-manajemen-perguruan-tinggi.html

Penguatan Keluarga sebagai Fondasi Agenda Strategis 'Aisyiyah

Dalam pokok pikiran ‘Aisyiyah abad kedua disebutkan bahwa memasuki abad kedua, ‘Aisyjyah meniscayakan dirinya untuk melakukan langkah-langkah gerakan dalam bentuk agenda-agenda strategis untuk mewujudkan visi Islam yang berkemajuan. Gerakan pencerahan, dan perempuan berkemajuan sebagai bagian penting dari aktualisasi misi dakwah dan tajdid menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya membawa rahmat bagi semesta alam .

Salah satu agenda strategis 'Aisyiyah memasuki abad kedua adalah penguatan keluarga. Penguatan keluarga menjadi salah satu fondasi dalam membuat berbagai program dalam berbagai bidang dan majelis. Tak terkecuali MKS (Majelis Kesejahteraan Sosial), Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK), dan Majelis Kesehatan.

Dalam MEK Latifah Iskandar menyebutkan bahwa urgensi bidang ekonomi diangkat menjadi fokus yang digarap ‘Aisyiyah adalah karena pada dasarnya prin- sip dakwah Aisyiyah adalah pemberdayaan, termasuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Hal ini penting supaya kondisi ekonomi masyarakat Indonesia tidak tertinggal, jauh dari kemiskinan, dan tidak ketergantungan pada produk import.

 Untuk menanggulanginya, pemberdayaan ekonomi pun dilakukan dengan basis penguatan keluarga. Pemberdayaan ekonomi berbasis keluarga dilakukan melalui kelompok BUEKA (Bina Usaha Ekonomi Keluarga Aisyiyah) yang terdiri dari kelompok BUEKA produksi, distribusi, dan pra koperasi. Latifah menjelaskan untuk menguatkan BUEKA, Majelis  Ekonomí dan Ketenagakerjaan membuat Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah (SWA) dan mendidik para kader untuk menjadi pengusaha handal. Selain keberadaan SWA, tersedia pula KUKA (Klinik Konsultasi Usaha Aisyiyah) yang menjadi konsultan dan pendamping jika pengusaha. “KUKA menjadi konsultan bagi para pengusaha jika mengalami kendala dalam bisnisnya. Apabila dalam menjalankan usaha mengalami kendala perlu pendampingan dan konsultasi akan  difasilitasi oleh KUKA yang datang kepada para anggota,” ujar Latifah.

 

Selain program berbasis penguatan keluarga, program lain yang digarap oleh 'Aisyiyah adalah penguatan koperasi  supaya menjadi tempat kerja yang profesional. Selain itu di bidang ketahanan, Latifah menambahkan akan memulainya dengan meminta para anggota dan kader untuk memanfaat lahan dan kampanye mengkonsumsi makanan-makanan non import. "Semua program di Majelis Ekonomi tentunya menyasar anggota-anggota Aisyiyah, diprioritaskan anggota yang masih muda dan menjadi pelaku usaha."

Latifah menambahkan bahwa dalam pelaksanaan program-program tersebut terkendala dua masalah utama yakni sumber daya manusia dan ketersediaan dana. la men- jelaskan sudah semestinya program-program itu memerlukan pendamping yang memiliki kapasitas, perlu dilatih, dan diberi fasilitas yang memudahkan untuk bisa mobile di lapangan.

Latifah membenarkan bahwa memang pemerintah juga memiliki andil dengan menggaji para pendamping ini. Sayangnya jumlah dana yang dikucurkan oleh pemerintah sendiri jauh dari kata cukup. Untuk menanggulanginya MEK bekerja sama dengan LAZIS dan beberapa CSR perusahaan untuk tetap mengembangkan potensi-potensi para pendamping untuk melakukan usaha maksimal di lapangan.

Bidang Kesejahteraan sosial

Salah satu bidang yang menjadi fokus 'Aisyiyah adalah bidang kesejahteraan sosial yang diampu oleh Majelis Kesejahteraan Sosial. Dituturkan oleh Shoimah Kastolani, tugas utama yang sedang digalakkan oleh MKS adalah pemahaman sosial protection pada para pengurus .Terutama perlindungan sosial terhadap anak yatim. Shoimah menjelaskan bahwa banyak pengurus ‘Aisyiyah sendiri yang memaknai anak yatim secara sempit hanya sebagai anak yang kehilangan orang tuannya. “Padahal yatim itu kan munfarid yang bermakna sendiri, yang terpinggirkan,”ujarnya.

Shoimah menjelaskan, memulai abad kedua 'Aisyiyalh, penguatan keluarga merupakan strategi atas visi perempuan berkemajuan. Imbauan-imbauan seperti program family time yang menjadi kegiatan sangat strategis. Bukan kuantitas jambertemu melainkan waktu yang berkualitas untuk berkumpul. Shoimah menambahkan bahwa zaman sekarang,segala persoalan keluara tidak diputuskan begitu saja. Bahkan anak pun harus dilibatkan untuk bermusyawarah,bukan didoktrin begitu saja. “Quality time itu ya bisa kapan saja. fleksibel. Bisa subuh atau saat makan malam. Ada satu hari makan Bersama sekali saja sudah hebat sekali. Atau bekerja sama misalnya bebersih rumah atau kebun”, ungkapnya. Program-program MKS di abad kedua juga menyasar tiga target utama. Pertama adalah anak-anak. Shoimah menjelaskan bahwa banyak kekerasan, terutama kekerasan seksual, yang menimpa anak-anak menjadi salah satu faktor pemicu perhatian 'Aisyiyah pada problem  ini.

Shoimah menjelaskan, jika dirunut ke belakang maka problematika yang dihadapi oleh anak perempuan saat ini adalah ancaman nikah muda demi alasan meringankan ekonomi keluarga. Shoimah menyebutkan Indonesia sendiri masih masuk dalam peringkat ke-dua se-Asia Tengara dalam urusan pernikahan anak. "Di Indonesia sendiri ada Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah. Yang tertinggi itu Kalimantan Selatan," ujar Shoimah. Persoalan ekonomi bukan menjadi satu-satunya alasan mengapa perkawinan anak terjadi. Faktor lain adalah adanya budaya, misalnya budaya kawin lari yang ada di Suku Sasak Lombok.

Menghadapi risiko ini, salah satu agenda yang dilakukan 'Aisyiyah adalah keberadaan program GACA (Gera- kan' Aisyiyah Cinta Anak). Gerakan ini, menurut Shoimah menjadi perpanjangan tangan dalam misi peralihan perkawinan anak. "Kita harus memberikan pemahaman tentang pernikahan harus dilakukan saat sudah dewasa dengan baik, agama, dan sosial ekono- minya Aktivis 'Aisyiyah juga sudah semestinya membaur bekerja sama dengan para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemegang saham lokal agar aspirasinya mendapat dukun gan dari banyak pihak dan sepenuhnya tidak dinyanyikan pihak luar membantu terlaksananya visi tersebut.

untuk mengatasi kekerasan seksual yang terjadi pada anak-anak, ‘Asyiyah menekankan pentingnya pengawasan orang tua terhadap anak, karena tak sedikit kasus kekerasan pada anak justru dilakukan oleh orang-orang terdekat. "Ibu jangan menyerahkan anak kepada orang lain. Tetap harus mengawasi. Salah satu caranya adalah dengan menumbuhkan rasa saling menguatkan di antara keluarga,"ungkap Shoimah.

Menurut Shoimah, ketika terjadi kekerasan seksual kepada anak-anak, maka orang-orang Majelis Kesejahteraan Sosial 'Aisyiah akan siap untuk mendampingi. Apabila anak perlu mendapatkan bantuan advokasi hukum, maka ia akan dibantu oleh PUSBAKUM yang dibentuk oleh Majelis Hukum dan HAM. "Nah jika keluarga juga perlu disentuh aspek keagamaannya juga, itu tugas dari BIKSA (Biro Konsultasi Keluarga Aisyiyah”.

 

 Sasaran Makesos lain selain anak-anak adalah lansia Menurut Shoimah, lansia menurut definisi WHO adalah seseorang yang berusia di atas 85 tahun. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sendiri membiasakan tidak adanya panti jompo karena kader-kadernya ditanamkan keyakinan bahwa berbakti pada orang tua adalah salah satu upaya memperoleh surga. Untuk mengatasi ini, maka 'Aisyiyah mengembangkan program lansia daycare dan pesantren lansia. Lansia daycare sendiri tempat di mana anak bisa menitipkan orang tuanya, baik setiap hari maupun bebera hari dalam seminggu, namun tiap hari pula lansia akan pulang kembali ke rumah. Hal ini dilakukan supaya orang tua tetap merasa dibutuhkan dan tidak dibuang.

Pesantren lansia adalah tempat orang-orang lansia diberikan bekal seperti materi penguatan akidah hingga materi-materi kesehatan fisik, psikologis, dan mental. Menjadi orang tua itu kembali menjadi labil. "Sudah merupakan ketentuan dari Allah di surah Ar-Rum ayat 54 bahwa manusia dilahirkan dari lemah, kuat, dan lemah lagi. Bisa juga sikap dan pola pikiran sehingga labil seperti remaja juga. Mereka harus dikuatkan emosinya supaya merasa tetap punya harga diri dan merasa dibutuhkan,”tegasnya.

Selain Anak Dan lansia, Yang menjadi fokus perhatian ‘Aisyiyah adalah kaum difabel. Shoimah sendiri mengakui bahwa kaum difabel belum banyak mendapatkan perhatian dari Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Panti difabel Muhammadiyah sendiri hanya ada di lima wilayah yakni Jawa Timur, Jawa Barat, Riau, Sumatera Utara, dan Bengkulu.

Salah satu hal yang dirasa berat oleh banyak pengurus 'Aisyiyah adalah perlunya pendamping khusus untuk  difabel. Shoimah menambahkan, Makesos sendiri men- gakalinya dengan membuat sebuah terobosan baru yakni membuat panti difabel di mana dalam panti tersebut menerima misalnya 40 orang yang normal dan 5 orang difabel. Anak-anak yang biasa justru Menjadi pendamping Anak-anak difabel.

 

Selain anak dan lansia, yang menjadi fokus perhatian ‘Aisyiyah adalah kaum difabel.

 

Bidang Kesehatan

Dalam majelis kesehatan, isu kesehatan reproduksi sendiri menjadi fokus yang digarap ‘Aisyiyah di abad kedua ini.  Menurut Tri Hastuti, beberapa faktor pemicu antara lain tingginya angka kematian ibu,akses perempuan terhadap informasi dan layanan kesehatan reproduksi yang sangat minim. “Selain itu biasanya sudah ada kebijakan tetapi pelaksanannya belum,” ujar Tri.

Tri menambahkan bahwa setidaknya agenda strategis dibagí menjadi dua agenda yakni edukasi dan agenda avokasi. Edukasi mengenai kesehatan reproduksi biasanya dilakukan kepada komunitas karena tak Sedikit akses informasi yang diterima oleh komunitas. Cara kerjanya salah satunya dengan  merepresentasikan ulang ayat-ayat dalam al -Qur'an dan kaitannya dengan isu reproduksi dan kesejahteraan peranperempuan dan laki-laki dalam tugas reproduksi. Misalnya ketika Perempuan sedang melakukan peran reproduksi seperti hamil, maka suami perlu mengambil peran dengan menafkahi istri sepenuhnya. Sedangkan ketika ibu sedang menjalankan peran menyusui, maka suami bisa membantu dengan memberikan gizi yang baik pada Ibu dan anaknya atau melakukan pijat oksitosin. Supaya tidak terjadi beban ganda pada perempuan yang sudah mendapat tugas reproduksi.

Agenda advokasi, menurut Tri Hastuti, dilakukan dengan cara menggagarkan dana desa hingga hingga APBD untuk memperbaiki layanan kesehatan ini harusnya ada diadakan mulai dari tingkat fasilitas di tingkat pertama. Fasilitas kesehatan ini bisa berupa konseling kehamilan, senam hamil, konseling menyusui, konseling gizi.

 

Dalam melakukan edukasi dan advokasi kesehatan reproduksi, setidaknya ada dua tantangan yang dihadapi oleh ‘Aisyiyah Tri Hastuti menyebutkan bahwa tantangan pertama adalah isu kesehatan reproduksi yang masih menjadi isu pinggiran baik di tingkat desa hingga nasional. Isu ini dianggap tidak penting baik oleh masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pemerintah. Tantangan kedua adalah sulitnya membangun wacana kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam kesehatan reproduksi. Selama ini karena perempuan yang memiliki rahim maka dianggap peran reproduksi mutlak diemban oleh perempuan. "Oleh karena itu laki-laki dianggap tidak ada memiliki kewajiban. Dan mengubah wacana ini sulit karena sudah menjadi budaya yang mengakar”, pungkas Tri hastuti.(d)


Link Terkait: http://suaraaisyiyah.aisyiyah.or.id/id/berita/penguatan-keluarga-sebagai-fondasi-agenda-strategis-aisyiyah.html

Pendidikan 'Aisyiyah Abad Kedua

Satu abad berlalu, Aisyjyah telah menjelma menjadi raksasa bidang pendidikan. Dalam rentang seratus tahun tersebut, ‘Aisyiyah mengelola 15.918 Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Usia Dini (TK/PAUD), 1.607 satuan PAUD sejenis, 72 Taman Asuh Anak (TAA). 1.579 Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ), 23 SD/MI, 12 SMP/Mts, 13 SMA/SMK/MA, 229 Madrasah Diniyah Awaliyah Putri, 3 Pesantren, dan 8 Perguruan Tinggi. Belum termasuk pendidikan non-formal yang berjumlah 4.280 lembaga dalam bentuk lembaga keaksaraan fungsional, taman baca masyarakat, pusat kegiatan masyarakat, sekolah berkebutuhan khusus, sekolah kesetaraan, dan sekolah ketrampilan.

Pada abad kedua, ribuan amal usaha pendidikan tersebut akan menghadapi tantangan serius. Dalam Tanfidz Keputusan Muktamar Aisyiyah 47 Satu Abad Aisyiyah dijabarkan beberapa tantangan tersebut. Pada sektor PAUD, yang selama ini menjadi trademark Aisyiyah, terdapat 6,5 juta anak usia 3-6 tahun belum terlayani pendidikan anak usia dini.

Selain tantangan kualitas dan aksesibilitas PAUD nasional, 'Aisyiyah juga dihadapkan pada kekerasan terhadap anak di sekolah, kesenjangan mengakses pendidikan antara perempuan dan laki-laki di mana perempuan memiliki angka yang lebih rendah, keterjangkauan biaya pendidikan, serta tantangan yang lebih mendasar yaitu kurangnya keterkaitan antara sistem pendidikan dengan pembentukan karakter.

Seratus tahun kedua juga menjadi babak baru bagi perkembangan pendidikan tinggi di 'Aisyiyah. Konversi Sekolah Tinggi Kesehatan (STIKes) 'Aisyiyah Yogyakarta menjadi universitas, menjadi batu pertama bagi pembangunan perguruan tinggi Aisyiyah lainya di Indonesia. Tantangan yang telah dicandra oleh Aisyiyah sektor pendidikan tinggi adalah rendahnya kesiapan perguruan tinggi Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Visi Pendidikan Abad Kedua
Pokok Pikiran Aisyiyah Abad Kedua melahirkan tiga visi kondisi yang harus diwujudkan di abad kedua. Ketiganya adalah (1) berkembangnya paham Islam Berkemajuan, (2) berkembangnya gerakan pencerahan, dan (3) berkembangnya perempuan berkemajuan. Dari ketiga visi tersebut, Ketua PP Aisyiyah Masyitoh Chusnan menerjemahkannya ke dalam sektor pendidikan menjadi unggulnya kualitas pendidikan 'Aisyiyah. Setelah fokus pada pertumbuhan ribuan amal usaha pendidikan di abad pertama, ia mengatakarn saatnya di abad kedua fokus pada peningkatan kualitas seperti unsur manajemen. "Manajemen kelembagaan, pembelajaran, sumber daya manusia, dan sebagainya," tutur Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) ketika dihubungi Suara Aisyiyah.

Meskipun demikian, fokus pada pembenahan kualitas tidak menutup kemungkinan meningkatkan kuantitas. Apalagi jika penambahan itu merupakan permintaan masyarakat, maka harus dilakukan sebagai bagian dari pelayanan kepada masyarakat. "Misalnya menambah di daerah 3T (terdepan, terluar, dan ter- tinggal)," ujar Masyitoh menambahkan.

Visi pendidikan 'Aisyiyah tersebut sejalan dengan tujuan program nasional Aisyiyah 2015-2020 di bidang pendidikan. Program di bidang pendidikan bertujuan meningkatkan kualitas keunggulan pendidikan 'Aisyiyah sebagai strategi pembentukan manusia yang utuh, berilmu, dan berkarakter sesuai dengan tujuan pendidikan.

Visi menuju keunggulan kualitas mendapatkan satu tantangan lagi yang belum eksplisit dijabarkan 'Aisyiyah yakni perkembangan tekonologi informasi dan komunikasi (TIK). Meski demikian Masyitoh menyikapinya dengan tenang dan tidak menganggapnya sebagai ancaman. Justru ia melihatnya sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas amal usaha pendidikan Aisyiyah. "Sama dengan Muhamadiyah, kita fasilitasi amal usaha dengan teknologi." kata Masyitoh Chusnan.

Mantan rektor UMJ juga mengklaim Sudah ada beberapa TK/PAUD yang mulai memperkenalkan penggunaan TIK. Ia memandang, kemampuan menggunakan teknologi harus diperkenalkan sejak dini, asalkan sebelumnya telah didasari oleh penanaman nilai yang sangat kuat. "Kita tetap mengutamakan penguatan karakter. Ini menjadí ciri khas pendidikan di Aisyiyah kan penguatan karakter,” tegas Masyitoh.

Adanya penanaman nilai dan karakter, Masyitoh ingin menepis kekhawatiran akan efek negatif dari teknologi. la juga berpendapat bahwa kekhawatiran dapat semakin ditekan apabila orangtua dilibatkan dalam pengawasan di rumah.

Selain tantangan yang bersifat umum, terdapat tantangan yang lebih khusus dan kasusistik. Di level TK/PAUD, kehadiran sejumlah lembaga pendidikan anak usia dini yang mengusung brand Islam terpadu merupakan fenomena tersendiri yang perlu disikapi Aisyiyah. Sementara itu Masyitolh menyarankan tidak perlu disikapi dengan konfrontasi kehadiran lembaga sejenis. Menurutnya pendidikan anak usia dini Aisyiyah sejak awal sudah terpadu antara nilai keislaman, kebangsaan, dan kemuhammadiyahan. Dari sekian nilai karakter yang didefinisikan pemerintah, yang paling pokok dalam pendidikan karakter di 'Aisyiyal adalah nilai iman, ilmu, dan amal. "Itulah salah satu hasil rembuk nasional kemarin," terangnya.

Pada rembuk nasional yang digelar di Yogyakarta dibahas pengembangan karakter PAUD yang berbasis pada nilai agama, budaya, dan nilai universal, dalam merespon tantangan pendidikan karakter. Dibahas juga pada acara tersebut pengembangan PAUD yang aman dan berkeadilan.

Untuk Perguruan Tinggi Aisyiyah (PTA), spirit yang dibangun adalah bersama-sama Muhammadiyah melayani kebutuhan masyarakat akan pendidikan tinggi. Secara resmi memang tidak ada brand khusus yang dimiliki PTA, meski di sisi lain Masyitoh mengakui sejauh ini PTA fokus di ranah pendidikan tenaga kesehatan. Namun seiring konversi menjadi universitas, seperti Unisa Yogyakarta, program studi di luar kesehatan yang dibutuhkan masyarakat ikut dibuka. "Ya prinsipnya kita fastabiqul khoirot," ujarnya.

Pendidikan sebagai gerakan keilmuan
Salah satu agenda strategis yang digagas pada Pokok Pikiran 'Aisylyah Abad Kedua adalah pengembangan gerakan keilmuan. Selain memiliki landasan kuat pada ajaran Islam dan budaya Muhammadiyah, 'Aisyiyah memandang tradisi keilnuan masih kurang meluas dalam kehidupan umat dan masyarakat luas, termasuk di keluarga. Dalam dokumen tersebut juga dísjelaskan alasan 'Aisyiyah konsisten mengambil jalur pen- didikan. Pendidikan penting dan srateg melahirkan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia sebagai fondasi peradaban. (fikry)


Link Terkait: http://suaraaisyiyah.aisyiyah.or.id/id/berita/pendidikan-aisyiyah-abad-kedua.html

Muhammadiyah Kembangkan Industri Ritel

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Industri ritel merupakan salah satu industri yang paling dibutuhkan oleh masyarakat. Hal ini dibuktikam dengan makin menjamurnya toko modern berjejaring di berbagai wilayah. Tak hanya itu, industri ritel pun kini telah merambah pada sektor online marketplace yang makin memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam bertransaksi.

Melihat hal itu, Majelis Ekonomi dan Kewirausaan (MEK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY pun melakukan berbagai strategi untuk terjun langsung dalam bisnis ritel. Sekretaris MEK PWM DIY, Jumarudin mengatakan, MEK sejak tahun lalu telah mulai mengembangan industri ritel, baik dalam platform digital maupun konvensional.

"Untuk online marketplace, kami mengembangkan bela beli produk Muhammadiyah bermutu (Bedukmutu). Sedangkan untuk toko ritel konvensional kami mengembangkan satu ranting satu TokoMU (Saran Satoko)," ujar Jumarudin di di Aula PWM DIY pada Selasa (26/6).

Menurut dia, program ini merupakan wujud penerapan visi MEK dalam menjadi sarana inkubasi dan pengembangkan bisnis ritel. Selain itu, hal ini merupakan wujud dukungan terhadap sektor ekonomi kreatif di kalangan warga Muhammadiyah.

Bedukmutu sendiri merupakan web jual beli online yang dapat diakses melalui situs bedukmutu.com. Ia mengatakan, seluruh produk yang dipasarkan merupakan produk dari warga Muhammadiyah yang memiliki usaha baik produk dan jasa.

Online marketplace ini telah dikembangkan sejak April 2017. Hingga saat ini, bedukmutu masih dikembangkan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Demi melancarkan pilot project ini, seluruh dosen dan pegawai di UMY pun diwajibkan untuk malakukan transaksi di situs tersebut.

"Saat ini, telah terdapat 19 kategori produk. Total, terdapat 3.145 jenis produk yang telah dipasarkan. Meski dikembangkan di kalangan UMY, namun bedukmutu juga dapat diakses oleh masyarakat umum yang ingin bertransaksi di bedukmutu," ucapnya.

Beberapa kategori produk yang terdapat dalam bedukmutu di antaranya adalah fashion, kerajinan, kuliner, sembako, kebutuhan rumah tangga, furniture, barang bekas, otomotif, properti dan produk kesehatan. Menurut dia, kategori yang paling banyak diminati adalah kategori kuliner, fashion dan sembako.

Hingga saat ini, dalam sebulan, bedukmutu telah mampu mencatatkan nilai transkasi hingga Rp 1 miliar. Ia pun meyakini, hal ini sekaligus mencerminkan bahwa bedukmutu telah berhasil menjadi online marketplace yang dapat memenuhi kebutuhan warga Muhammadiyah dan masyarakat umum.


Link Terkait: https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/sang-pencerah/18/06/27/pazc5t384-muhammadiyah-kembangkan-industri-ritel

RS UAD Raih Akreditasi Utama Bintang Empat

Rumah Sakit (RS) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) berhasil meraih akreditasi utama bintang empat. Perolehan ini tentu menggembirakan, sebab RS ini terbilang masih sangat muda, baru berdiri Agustus 2017.

Direktur RS UAD, Prof. Dr. dr. Rusdi Lamsudin, Sp.S.,M.Med.,Sc. mengatakan, hasil ini diperoleh berkat kerja keras seluruh elemen yang ada di RS UAD dan dukungan penuh dari pihak UAD. “Setelah perolehan ini, kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan menambah kerja sama dengan berbagai pihak,” jelasnya.

Sementara dr. Tandik Eko Susilo yang menjabat sebagai wakil direktur pelayanan medis menerangkan, moto RS UAD menolong dengan ramah. Berkat moto dan juga akreditasi yang diperoleh, semakin banyak masyarakat yang memercayai RS UAD sebagai tempat berobat.

Kami berkomitmen untuk memberi pelayanan maksimal kepada pasien. Saat ini alat-alat medis di RS UAD juga sudah didukung dengan teknologi yang canggih. Sejak September hingga akhir Januari ini, kami menghitung ada lonjakan pasien 100 persen. September hanya 400-an pasien, Januari ini sudah 800-an,” terangnya kepada wartawan di RS UAD, Rabu (30-1-2019).

Ke depan, RS UAD akan berusaha meningkatkan akreditasi menjadi paripurna atau bintang lima. Hal ini untuk menunjukkan keseriusan RS UAD dalam melayani masyarakat di bidang kesehatan.

Di sisi lasin, Dr. Kasiyarno, M.Hum. Rektor UAD mengaku bangga dengan pencapaian ini. Hasil akreditasi yang diperoleh melebihi ekspektasi. “Siapa pun pasien yang datang ke RS UAD harus dilayani dengan cekatan. Sebagai lembaga kesehatan harus membangun kepercayaan masyarakat dengan cara memberi pelayanan yang baik dan maksimal.”

Kasiyarno berharap, rumah sakit yang merupakan salah satu badan usaha UAD ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Apalagi di tengah maraknya pemutusan hubungan kerja beberapa rumah sakit dengan BPJS. Saat ini RS UAD masih melayani pasien peserta BPJS.

Sementara Drs. M. Safar Nashir, M.Si. selaku komisaris sekaligus Wakil Rektor II UAD menjelaskan, ada banyak rumah sakit yang dikelola perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) yang meminta saran dan tips supaya memeroleh akreditasi bintang empat. Rumah sakit-rumah sakit ini bercermin pada kesuksesan RS UAD.

Bintang empat tentu sangat membanggakan. Ke depan, untuk mencukupi kebutuhan pasien, kami akan menambah dokter spesialis, tenaga kesehatan, dan alat-alat medis,” ungkapnya.

Selain jumpa pers, pada kesempatan ini RS UAD juga mendapat bantuan kendaraan operasional dari Bank Syariah Mandiri dan BPD Syariah Yogyakarta. Bantuan ini tentu dapat meningkatkan pelayanan bagi masyarakat dan untuk mendukung program home care yang digagas RS UAD.


Link Terkait: https://uad.ac.id/id/berita/rs-uad-raih-akreditasi-utama-bintang-empat