Tumbuhkan Semangat Berwirausaha Sejak Muda

MUHAMMADIYAH.ID, BOGOR --  Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah IPB (PK IMM IPB)  mengadakan acara buka bersama pada Senin (13/5) di Ruang Kuliah Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB, Dramaga, Bogor.

Kegiatan tersebut diisi dengan tausyiah menjelang buka puasa yang diisi oleh Khafidzin yang juga merupakan alumni PK IMM IPB. 

Dalam tausyiahya, Khafidzin mengajak para generasi muda untuk berwirausaha. Ia mencontohkan sosok Rasulullah SAW yang sudah mulai berdagang sejak umur 12 tahun. 

“Akan tetapi, paradigma yang berkembang di masyarakat mengatakan bahwa ketika seseorang masih dalam tahap pendidikan atau kuliah tidak sepatutnya bekerja terlebih dahulu. Padahal mereka sudah jauh melampaui batas akil baligh dan sudah diwajibkan mandiri,” imbuhnya.

Menurutnya, kuncinya bukan pada berhasil melakukan suatu usaha tetapi terus mencoba agar kaya pengalaman. Teknologi yang semakin canggih dan memberikan kemudahan bagi kita untuk bertransasksi harusnya dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai peluang. (nisa)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16525-detail-tumbuhkan-semangat-berwirausaha-sejak-muda.html

Siswa Musawerna Antusias Ikuti Pelatihan Daur Ulang Sampah

TEGAL, Suara Muhammadiyah – Sampah sampai saat ini menjadi persoalan seluruh bangsa yang ada di dunia. Penggunaan bungkus makanan dan minuman yang berasal dari bahan dasar plastik telah menyumbang polusi tanah terbesar. Maka perlu diadakan sebuah terobosan atau strategi untuk menanggulangi atau paling tidak mengurangi dampak negatif dari sampah plastik.

Seperti yang baru saja di lakukan oleh SMP Muhammadiyah 1 Adiwerna (Musawerna). Yaitu Pelatihan Daur Ulang sampah bagi siswa, Rabu 15 Mei 2019.

Nara sumber yang didatangkan untuk melatih para siswa cara mendaur Ulang sampah agar menjadi barang yang lebih bernilai adalah team dari RUTELA atau Runtah Tegal Laka – laka. “Kami sangat senang diundang oleh MUSAWERNA untuk melatih para siswa untuk mendaur ulang sampah agar menjadi barang yang lebih bernilai, ” kata Ibu Nur selaku ketua Team RUTELA yang beralamat di desa Randu gunting kabupaten Tegal.

Sebelum Pelatihan di Mulai, team dari Rutela menjelaskan kepada seluruh siswa dari kelas VII dan VIII MUSAWERNA tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan bagi manusia. Para siswa nampak begitu antusias. Apalagi ketika Team dari RUTELA memperlihatkan contoh hasil dari pengolahan Limbah plastik bungkus makanan dan minuman menjadi produk yang menarik dan unik. Hampir semua siswa seperti sudah tidak sabaran ingin langsung praktek membuat kerajinan tersebut.

“Alhamdulillah ini saya memnbuat gantungan kunci dari bungkus kopiluwak,” kata hanum kelas VIII A dengan senangnya.

“Memanfaatkan limbah keluarga seperti bungkus makanan dan minuman menjadi sebuah karya yang unik dan bernilai jual tinggi adalah bagian dari edukasi peduli lingkungan,” kata Bu Nur Azizah Selaku Waka Kurikulum Musawerna.

“Insya Allah ini akan kita tindak lanjuti, agar tidak berhenti pada satu pelatihan saja. Harapannya adalah para siswa memiliki skill mengolah limbah sampah plastik dan hati yang peduli pada lingkungan sekitar,” kata Kepala Sekolah Musawerna Turrachman. (Riz)


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/05/16/siswa-musawerna-antusias-ikuti-pelatihan-daur-ulang-sampah/

Rumah Ramadan, Wujud PC IMM Bogor Refleksikan Spirit Al-Maun

MUHAMMADIYAH.ID, BOGOR -- Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Bogor  menyelenggarakan kegiatan amal yaitu "Rumah Ramadan" dengan mengusung tema “Refeleksi nilai-nilai surat Al-maun dalam spirit berbagi dan menginspirasi” pada Rabu (15/5). 

Arfiano, Ketua Umum PC IMM Bogor menjelaskan, rangkaian kegiatan Rumah Ramadan itu terdiri dari program tarawaih keliling (tarling), pemberian donasi berupa perlengkapan ibadah dari masjid ke masjid, pembagian takjil dan pemberian santunan kepada anak yatim. 

"Paket perlengkapan ibadah yang didonasikan berupa kebutuhan masjid seperti mushaf Al-quran, mukena, sarung, sajadah, dan sandal wudhu. Adapun program tarawih keliling dilaksanakan di Masjid Thohiriyah, Kampung Lebak Kaum, Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Sampai saat ini, sudah ada 10 masjid yang dikunjungi dari 40 masjid yang ditargetkan dalam program tarling ini," katanya. 

Ia menambahkan, kegiatan ini juga merupakan  sebuah inisiatif untuk memanfaatkan momen bulan suci dengan mengajak seluruh kader IMM se- bogor supaya berpartisipasi aktif untuk berdonasi bagi mereka yang membutuhkan. (nisa)

"Kegiatan ini adalah wujud refleksi spirit Al-Maun sebagaimana diajarkan KH Dahlan dulu," tutupnya. (nisa)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16529-detail-rumah-ramadan-wujud-pc-imm-bogor-refleksikan-spirit-almaun-.html

Rekontekstualisasi Spirit Al-Ma’un Kekinian

BANTUL, Suara Muhammadiyah – Misi utama dari Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) adalah rekontekstualisasi spirit Al-Maun dengan konteks-konteks kekinian. Sama halnya ketika dulu KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yang merupakan hasil dari pembacaan nalar kritis dari pembacaan normatif Al-Quran (teks) dengan realitas sosial.

Itulah yang disampaikan Ketua MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr M Nurul Yamin, MSi dalam Pengajian PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu 11 Mei 2019.

Menurut Yamin surat Al-Maun menjadi landasan bagi gerakan sosial Muhammadiyah yang memberikan inspirasi untuk melahirkan sebuah kesadaran kolektif. Kesadaran atas realitas sosial yang timpang khususnya dalam distribusi pangan yang berkeadilan.

Yamin mengungkapkan terkait keadilan pangan dalam ayat surat Al-Maun wa laa yahudhu alaa thoaamil miskiin berbicara tentang memberi makan orang miskin. “Kalau kita coba kaitkan dengan konteks sekarang ada prediksi tahun 2025 Indonesia akan mengalami krisi pangan,” tandasnya.

“Jadi surat Al-Maun bukan hanya bicara penyantunan terhadap anak yatim dan orang miskin tetapi berbicara tentang distribusi pangan,” imbuh Yamin.

Oleh karena itu yang coba dikembangkan oleh MPM yaitu menyusun langkah blueprint bagaimana budaya petani yang lemah ke petani yang kuat. “Ada dua strategi disitu, pada tahap pertama adalah penguatan kapasitas, dan tahap kedua adalah akses pasar,” tuturnya.

Selain itu, yang dilakukan MPM adalah pemberdayaan dengan membangun budaya inklusi difabel, pendampingan komunitas pemulung, dakwah pemberdayaan di daerah 3T (terdepan, terpencil, terluar) seperti Suku Kokoda di Papua, Suku Dayak Baturajang Berau di Kalimantan, Desa Tliu Amanuban Timur di NTT, serta pemberdayaan Buruh dan Nelayan.

“Best practice yang dilakukan oleh MPM intinya bukan sekedar aktivitasnya, tetap ada nilai perubahan yang terkandung dalam aktivitas yang dilakukannya,” pungkasnya. (Riz)


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/05/12/rekontekstualisasi-spirit-al-maun-kekinian/

Busyro Muqoddas: Riset untuk Mencari Solusi Problem Kebangsaan

BANTUL, Suara Muhammadiyah – Indonesia kini memiliki berbagai problem kebangsaan yang terjadi akibat proses kencang masyarakat kehilangan pegangan dan arah . Selain itu dikhawatirkan demokrasi tanpa moral menggerogoti bangsa yang menjadikan demokrasi liar, liberal dan transaksional.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr M Busyro Muqoddas dalam Pengajian Ramadhan 1440 H di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jum’at (10/5). Dampak dari demokrasi yang transaksional menyebabkan maraknya korupsi, tandus akal budi dan daya nalar politik kerakyatan.

Oleh karena itu menurut Busyro perlu Aktualisasi Risalah Pencerahan dalam Kehidupan Kebangsaan. Langkahnya, Busyro menyampaikan agar semua unit pimpinan Muhammadiyah dan Amal Usaha menjalin komunikasi dengan semua elemen bangsa melalui agenda silaturahim kebangsaan.

“Indonesia memiliki nilai-nilai dasar yang kalau kita telaah konstruksinya sama dengan MKCH, Khittah dan tradisi Muhammadiyah,” katanya. Nilai-nilai tersebut seperti berbasis pada modalitas, komitmen, nilai-nilai kejujuran atau transparansi hingga nilai-nilai yang berorientasi pada ideologi kerakyatan dan keadilan.

Selain itu, Busyro menyarankan agar Muhammadiyah juga turut telakukan agenda riset problem daerah, kajian hasil riset dan tawaran kerja sama perumusan konsep arah pembangunan, penyusunan APBD berbasis daulat rakyat dan transparansi publik termasuk pendidikan politik transformatif.

“Riset ini perlu diarahkan dalam konteks problem-problem kebangsaan dan sekaligus mencari solusinya,” pungkasnya. (Riz)


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/05/11/busyro-muqoddas-riset-untuk-mencari-solusi-problem-kebangsaan/

Pandangan Azyumardi Azra tentang Islam Indonesia, Demokrasi, dan Peran Muhammadiyah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Cendekiawan Muslim Prof Azyumardi Azra memiliki pandangan tersendiri tentang Islam Indonesia dan peranan Muhammadiyah di dalamnya. Bangsa Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi terbesar dianggap memiliki posisi strategis untuk mewakili wajah dunia Islam yang disebut the smiling and colorful Islam. Muhammadiyah sebagai salah satu kekuatan organisasi massa Islam terbesar di dunia memikul tanggung jawab untuk membuktikan bahwa Islam sebagai risalah pencerahan, mampu menjadi agama yang mendorong pada kemajuan.

Menurutnya, salah satu kelemahan umat Islam selama ini adalah sering terbelenggu oleh sejarah masa silam. “Dari sudut orientasi, kembali ke belakang: al-ruju ila al-Quran wa al-sunnah (yang biasanya diiringi dengan pemahaman salaf al-shalih)” tuturnya. Namun, Azra melihat hal berbeda pada manhaj Muhammadiyah. Pemahaman al-ruju ila al-Quran wa al-Sunnah dipahami dengan seperangkat manhaj tarjih. “Kembali kepada Qur’an dan Sunnah dengan membangkitkan imajinasi kreatif,” ujarnya dalam Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah di UMY, pada 10 Mei 2019.

Menurut mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini, pandangan maju Muhammadiyah dalam hal ini telah menghasilkan buah karya kelembagaan modern dalam berbagai bidang: pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi. Al-ruju ila al-Qur’an wa al-Sunnah oleh Muhammadiyah justru menghasilkan kemajuan. Hal ini perlu dipahami oleh segenap warga Muhammadiyah di masa sekarang.

Saat ini, orang secara mandiri bisa belajar tentang apa pun di internet, tidak mau peduli pada kepakaran ataupun tradisi organisasi. “Praksis Muhammadiyah pada tahun 1980-an, tidaklah berat seperti sekarang. Dulu, risalah pencerahan tidak terlalu menghadapi tantangan. Sekarang, ada tantangan post truth. Fenomena post truth menyebabkan disrupsi yang membuat banyak anak-anak muda Muhammadiyah tidak paham lagi ideologi dan paham Muhammadiyah,” tuturnya. Oleh karena itu, kata Azra, Muhammadiyah perlu melakukan konsolidasi alam pemikiran dalam menghadapi tantangan internal dan eksternal yang memengaruhi dinamika umat Islam.

Terkait dengan kondisi kebangsaan, Azyumardi Azra melihat bahwa sistem demokrasi yang diterapkan dalam tata penyelenggaraan negara di Indonesia sudah lumayan baik. “Demokrasi punya limit, tidak sempurna, namun paling sedikit mudharatnya dibandingkan sistem lainnya,” ujarnya yang pernah menjadi dewan penasehat di beberapa lembaga demokrasi dunia.

“Kita berhak mengeluh, tapi jangan lupa bersyukur. Kalau kita terus mengeluh dan komplain, yang terlihat hanya sisi gelap,” ulas Azra. Meskipun sistem demokrasi Indonesia masih ada kekurangan, namun kondisi Indonesia masih lebih baik dibanding banyak negara lainnya. Pemilu Indonesia relatif aman, sementara banyak negara harus berdarah-darah dalam penyelenggaraan pemilu. “Pascapilpres, mari kita kembali kepada nalar dan akal sehat,” katanya.

Azra juga mengajak umat Islam untuk mengevaluasi diri dan tidak selalu menyalahkan orang lain. “Masalah di Timur Tengah terjadi karena mereka tidak bisa menyelesaikan masalah internalnya, tidak selalu karena konspirasi. Jangan terlalu banyak dikuasai pikiran konspiratif,” tukasnya. Pemikiran untuk selalu menuding bahwa orang lain selalu ingin mengalahkan kita justru membuat umat Islam memiliki mentalitas negatif dan mudah curiga.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia harus banyak bersyukur. Banyak negara Muslim lainnya tidak aman dan tidak damai. Umat Islam harus bahu-membahu membangun bangsa. Kalau Indonesia maju, kata Azra, maka kita (umat Islam) yang akan menerima manfaat paling banyak. Sebaliknya, kalau Indonesia tidak maju, maka kita juga yang paling banyak menerima mudharat. “Tanggung jawab terbesar terhadap moral di Indonesia itu tanggung jawab umat Islam sebagai suatu kekuatan terbesar,” ujarnya.

Muhammadiyah dengan etos yang dimilikinya, diharapkan bisa menjadi kekuatan yang menyebarluaskan nilai-nilai positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Tugas Muhammadiyah sebagai salah satu dari dua ormas terbesar di dunia ini untuk menjaga kedamaian,” katanya. Dalam rangka menjalankan tugas itu, maka Muhammadiyah harus mengambil posisi yang tepat, tidak menjadi kekuatan politik partisan. Posisi dan upaya Muhammadiyah saat ini yang mampu menjaga diri dari tarikan kepentingan politik dianggap sudah tepat.

“Muhammadiyah harus mencari cara baru untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan politik Muhammadiyah, mungkin tidak cukup lagi melalui partai, DPD, DPR atau melalui jalur-jalur politik formal. Melainkan, melalui jalur informal,” ulasnya. Azra memandang Muhammadiyah harus bersikap bijak dan elegan dalam relasi dan peran politik. “Dengan sikap netral, Muhammadiyah lebih bisa menjalankan peran risalah pencerahan,” ungkapnya. Muhammadiyah dengan lembaga pendidikannya, harus menanamkan nilai-nilai integritas bangsa.

Lebih dari itu, Muhammadiyah diharapkan mampu menunjukkan etos risalah pencerahan Islam yang berkemajuan. “Eropa dan Amerika maju karena etos Protestan. Singapura, Jepang, Korea, Cina maju karena etos Confusius (selain etos Budhisme Zen dan Makoto). Belum ada negara Muslim maju karena etos Islam. Inilah peluang dan tantangan Muhammadiyah untuk membuktikan etos Islam yang dipahaminya,” tutur Azra. Muhammadiyah sudah memiliki etos berkemajuan atau islamic ethic and progress, tetapi perlu diperkuat kembali.

Muhammadiyah memiliki amal usaha yang berkualitas dan berdaya saing. Kita harus bersyukur, Muhammadiyah memiliki Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah yang besar dan membanggakan, bahkan mengungguli Perguruan Tinggi Negeri. “Dulu, terutama tahun 70-an, kalau ada perguruan tinggi yang baik, itu pasti bukan milik orang Islam, pasti itu Katolik, pasti itu Protestan atau Kristen. Sekarang kita sudah hapuskan mitos itu,” ungkap Azra. Di sinilah pentingnya peran pencerahan Muhammadiyah dengan orientasi pandangan Islamnya yang berkemajuan.

Hal yang juga sangat patut disyukuri adalah terkait dengan kedudukan dan posisi perempuan Muslim di Indonesia. “Di Indonesia perempuan benar-benar dihargai, ini perlu disyukuri,” katanya. Di banyak negara Muslim, perempuan justru mengalami diskriminasi dan peminggiran dari ruang publik. Muhammadiyah sejak awal berdirinya telah mempelopori kebangkitan kaum perempuan. “Aisyiyah yang sudah memiliki Universitas Aisyiyah bisa menjadi lokomotif kemajuan perempuan Muslim untuk disebarluaskan ke seluruh dunia,” tukas Azyumardi Azra. Banyak negara berharap pada Indonesia. (ribas)


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/05/11/pandangan-azyumardi-azra-tentang-islam-indonesia-demokrasi-dan-peran-muhammadiyah/

Menkominfo Ajak Gunakan Smartphone Secara Cerdas

BUKITINGGI, Suara Muhammadiyah – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, mengajak masyarakat untuk menggunakan Smartphone yang dimiliki secara cerdas.

Menurutnya, hampir setiap masyarakat memiliki smartpone, namun kemudian, berapa banyak, yang menjadikan smartphone yang dimiliki untuk menghasilkan nilai tambah dalam ekonomi. Alih-alih bicara nilai tambah, justru kebanyakan yang terjadi, menjadikan smartphone untuk hal-hal yang bersifat konsumtif, dan lebih parah lagi, digunakan untuk menebar kebencian, fitnah, ghibah dan bahkan animah.

Hal ini disampaikan oleh Rudiantara saat menyampaikan materi dalam Dialog Narasi & Media Sosial, yang diadakan oleh Suara Muhammadiyah, bekerjasama dengan Kemenkominfo RI, di Hotel Grand Royal Denai, Bukittinggi, Sumatera Barat, Rabu(24/4).

“Sangat sedikit diantara kita, yang mampu menjadikan media smartphone yang kita miliki untuk meningkatkan nilai tambah, khususnya secara ekonomi. Justru yang terjadi, menjadikan smartphone kita untuk menebar kebencian, fitnah, animah dan lainnya”, tuturnya.

Padahal, dengan konsep media digital hari ini, baik orang yang mengirimkan pesan gambar atau video, maupun bagi mereka yang menerima, sama-sama dikenai biaya saat mereka download.

Maka sangat disayangkan sekali, kalau smartphone yang kita gunakan, hanya sekedar shar gambar atau video, yang kadang belum tentu kebenaran, sebab setiap kita membuka gambar di HP nya, juga akan kena biaya. ” jadi kita akan mengalami kerugian 2 kali. Selain rugi karena menyebar atau menerima informasi hoax, dan juga rugi karena kena biaya”, tambahnya

Oleh karena itu, Rudiantara mengajak masyarakat, untuk mengubah pola yang lebih positif dalam menggunakan smartphone.

Sebab, tebaran berita hoax, semakin kesini, justru bukan semakin mengecil, namun justru semakin meluas. Bahkan menurut data yang dirilis Kemkominfo, melihat peningkatan tebaran berita Hoax pasca pemilu.

“Jadi kondisi ini perlu kita hentikan, sebab jika hoax ini mengarah pada bentuk animah, adu domba atara masyarakat, justru ini akan merusak tatanan bangsa kita ke depan”, tambahnya.

Kegiatan yang berlasung di kota kelahiran Bung Hatta ini, dihadiri juga oleh Ahmah Syafii Maarif, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Deni Asyari, Direktur Suara Muhammadiyah, Hamim Ilyas, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah serta Muktio Widodo wakil Rektor UNS. (red)


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/04/25/menkominfo-ajak-gunakan-smartphone-secara-cerdas/

Terima Kunjungan dari Taiwan, Haedar: Taiwan Merupakan Negara yang Terbuka untuk Kerjasama dalam Bidang Pendidikan dan Kemanusiaan

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerima kunjungan dari Taipe Economic and Trade Office in Indonesia, Director Education Division, Shu Fen, Grace, Ou, President Shin Chien University, Michael J. K. Chen, dan President Asia University Taiwan, Jffrey J.P Tsai pada Rabu (24/4) di kantor PP Muhammadiyah Jl. Cik Ditiro No 23 Yogyakarta.

Rombongan diterima langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir. Haedar menjelaskan, kunjungan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kerjasama dibidang pendidikan.

“Kerjasama ini sangat luar biasa,karena Taiwan menjadi sangat friendly dengan kita (Muhammadiyah) dan sudah sangat erat, bukan hanya hubungannya tapi juga kerjasamasanya,” jelas Haedar.

Hal ini bagi Haedar telah menunjukan bahwa Taiwan merupakan negara yang terbuka untuk kerjasama pendidikan dan kemanusiaan.

“Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah tentu memiliki ruang untuk menjalin hubungan dengan berbagai pihak,sebagai wujud Islam rahmatan lil alamin, karena itu kita juga manfaatin hubungan baik ini dengan mencoba untuk meningkatkan studi S2 dan S3 dan sekaligus program-program pengembangan pendidikan bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah,” imbuh Haedar.

Kerjasama yang akan dilakukan juga dalam bentuk pemberian beasiswa bagi pelajar Muhammadiyah untuk menempuh pendidikan di Taiwan. Selain itu, Muhammadiyah melalui madrasa Mu’allimin dan Mu’allimaat akan mengirimkan santrinya ke Taiwan, dan menginap di asrama kampus di Taiwan melalui program mubaligh hijrah selama bulan Ramadhan.

Dalam pertemuan tersebut turut dihadiri Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, Yordan Gunawan, Kepala Kantor Bidang Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan Staff Kantor PP Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan.


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16368-detail-terima-kunjungan-dari-taiwan-haedar-taiwan-merupakan-negara-yang-terbuka-untuk-kerjasama-dalam-bidang-pendidikan-dan-kemanusiaan.html

UMM Pelopori Penggunaan Energi Terbarukan Melalui PLTMH

MUHAMMADIYAH.ID, MALANG — Bahan bakar tenaga fosil banyak merugikan dan merusak lingkungan, Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pelopori penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) berpadu dengan Eco Wisata Andeman.

Ketua Tim Teknis PLTMH UMM, Suwignyo menerangkan PLTMH di lingkungan Eco Wisata Andeman – Boon Pring ini berbasis masyarakat untuk mendukung konservasi sumber air Andeman dan pengembangan ekowisata terpadu.

“Upaya ini didasarkan pada Sumberdaya Mata Air Andeman dan keinginan masyarakat serta Pemerintah Desa Sanakerto yang potensial untuk dikembangkan,” ungkapnya seperti dalam kerterangan pers yang diterima pada (23/4).

Selain sebagai upaya penyelamatan lingkungan, dibangunnya PLTMH oleh UMM pada kawasan  Desa Sanankerto, Kecamatan Turen Kabupaten Malang, Jawa Timur ini merupakan jenjang langkah yang dilakukan UMM untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi, pengembangan lapangan kerja dan peningkatan produktifitas pendukung pariwisata serta pengembangan lingkungan sosial berkelanjutan.

Peletakan batu pertama pembangunan PLTMH Sabtu (20/4), PLTMH sendiri mengandalkan potensi mata air Andeman, yang terintegrasi dengan kawasan agrowisata serta bisa digunakan sebagai taman wisata sains-teknologi energi terbarukan.

Menyambut program yang dilakukan UMM terhadap kampungnya, Subur, Kepala Desa Sanankerto bersyukur karena dengan adanya PLTMH di wilayahnya bisa menambah perekonomian masyarakat, serta memunculkan inovasi baru oleh warganya karena tempatnya menjadi tujuan wisata.

“Selain akan menambah produktivitas pengerajin bambu, kedepannya Sanankerto akan dijadikan pusat pembelajaran Agrowisata,” katanya.

Pembangunan PLTMH merupakan hasil kerjasama dengan Bank Nasional Indonesia (BNI), Jawa Pos Radar Malang, Bumdes Kerto Taharjo serta didukung pemerintah Kabupaten Malang. Dimana pembangunannya menghabiskan dana skitar Rp. 348.000.000 menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) BNI. 


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16363-detail-umm-pelopori-penggunaan-energi-terbarukan-melalui-pltmh.html

Menyongsong Indonesia Emas 2045, Dibutuhkan Upaya Kolektif Seluruh Elemen Bangsa

MUHAMAMDIYAH.ID, MALANG — Cicit Pendiri Nahdlatul ‘Ulama (NU), Alissa Qotrunnada yang karib disapa Alissa Wahid yang juga puteri dari Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berbicara tentang integritas dan menjaga kesatuan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Putri ketiga Gus Dur menganggap, Pekerjaan Rumah Indonesia untuk menyongsong Indonesia emas 2045 tidak mudah namun juga bukan suatu hal yang tidak mungkin.

“Kuncinya adalah di bangunan kenegaraan yang baik, yang berkeadilan melalui sistem yang berintegritas, dan bagaimana kita semua mampu menjaga persatuan dan kesatuan,” ungkapnya pada Selasa (9/4) saat ditunjuk menjadi panelis pada Dialog Kebangsaan di Aula IV UMM.

Alissa menekankan, menyongsong Indonesia emas 2045 dibutuhkan upaya kolektif yang dibangun oleh seluruh element bangsa. Tidak boleh terpecah hanya memikirkan kepentingan sepihak dan kelompoknya, namun mencurahkan segenap tenaga dan pikiran untuk kemajuan bersama. Langkah kolektif tersebut didukung dengan kemandirian masyarakat dalam menopang kebutuhan hidupnya.

Sebagai kesatuan element bangsa, generasi milenial tidak bisa dinegasikan dari upaya keberlanjutan mempertahankan dan memajukan Indonesia. Karena, bangsa dan negara ini adalah titipan generasi yang akan datang. Pelibatan generasi milenial menjadi suatu yang penting, karena 2045 menjadi masa Indonesia dilimpahi bonus demografi yang melimpah.

“Kita butuh para generasi milenial ini untuk men-tasyarufkan atau membagikan ruang dirinya untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita butuh generasi yang tidak apatis terhadap politik, kita butuh generasi yang jangan diam terhadap apa yang terjadi di sekitar kita,” paparnya.

Generasi milenial, generasi yang melek teknologi didukung dengan kuatnya jiwa filantropi menjadi modal besar dalam membangun manusia Indonesia di masa yang akan datang. Karena dalam menghadapi dunia yang bergerak diatas rel ‘kecerdasan buatan’, manusia Indonesia perlu menghidupkan nilai-nilai humanis karena mutlak dibutuhkan dalam penanganan persoalan krisis kemanusiaan yang masa yang akan datang.

Mengutip salah satu konsep ahli Psikologi Keluarga Alisa menyebut, pemimpin milenial harus memiliki karakteristik yang terangkum di lima keterampilan berfikir. Kalau tidak, dia akan menjadi orang yang digilas roda zaman. “Yakni menguasai ilmu, mampu berinovasi, berpikir kritis dan kreatif, menghormati orang lain, serta terakhir yakni mampu membedakan mana benar-mana salah,” pungkasnya.


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16309-detail-menyongsong-indonesia-emas-2045-dibutuhkan-upaya-kolektif-seluruh-elemen-bangsa.html