Menyongsong Indonesia Emas 2045, Dibutuhkan Upaya Kolektif Seluruh Elemen Bangsa

MUHAMAMDIYAH.ID, MALANG — Cicit Pendiri Nahdlatul ‘Ulama (NU), Alissa Qotrunnada yang karib disapa Alissa Wahid yang juga puteri dari Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berbicara tentang integritas dan menjaga kesatuan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Putri ketiga Gus Dur menganggap, Pekerjaan Rumah Indonesia untuk menyongsong Indonesia emas 2045 tidak mudah namun juga bukan suatu hal yang tidak mungkin.

“Kuncinya adalah di bangunan kenegaraan yang baik, yang berkeadilan melalui sistem yang berintegritas, dan bagaimana kita semua mampu menjaga persatuan dan kesatuan,” ungkapnya pada Selasa (9/4) saat ditunjuk menjadi panelis pada Dialog Kebangsaan di Aula IV UMM.

Alissa menekankan, menyongsong Indonesia emas 2045 dibutuhkan upaya kolektif yang dibangun oleh seluruh element bangsa. Tidak boleh terpecah hanya memikirkan kepentingan sepihak dan kelompoknya, namun mencurahkan segenap tenaga dan pikiran untuk kemajuan bersama. Langkah kolektif tersebut didukung dengan kemandirian masyarakat dalam menopang kebutuhan hidupnya.

Sebagai kesatuan element bangsa, generasi milenial tidak bisa dinegasikan dari upaya keberlanjutan mempertahankan dan memajukan Indonesia. Karena, bangsa dan negara ini adalah titipan generasi yang akan datang. Pelibatan generasi milenial menjadi suatu yang penting, karena 2045 menjadi masa Indonesia dilimpahi bonus demografi yang melimpah.

“Kita butuh para generasi milenial ini untuk men-tasyarufkan atau membagikan ruang dirinya untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita butuh generasi yang tidak apatis terhadap politik, kita butuh generasi yang jangan diam terhadap apa yang terjadi di sekitar kita,” paparnya.

Generasi milenial, generasi yang melek teknologi didukung dengan kuatnya jiwa filantropi menjadi modal besar dalam membangun manusia Indonesia di masa yang akan datang. Karena dalam menghadapi dunia yang bergerak diatas rel ‘kecerdasan buatan’, manusia Indonesia perlu menghidupkan nilai-nilai humanis karena mutlak dibutuhkan dalam penanganan persoalan krisis kemanusiaan yang masa yang akan datang.

Mengutip salah satu konsep ahli Psikologi Keluarga Alisa menyebut, pemimpin milenial harus memiliki karakteristik yang terangkum di lima keterampilan berfikir. Kalau tidak, dia akan menjadi orang yang digilas roda zaman. “Yakni menguasai ilmu, mampu berinovasi, berpikir kritis dan kreatif, menghormati orang lain, serta terakhir yakni mampu membedakan mana benar-mana salah,” pungkasnya.


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16309-detail-menyongsong-indonesia-emas-2045-dibutuhkan-upaya-kolektif-seluruh-elemen-bangsa.html

Siswa SD Muhammadiyah Kottabarat Raih Silver Award di Thailand

MUHAMMADIYAH.ID, THAILAND – Danendra, Siswa kelas IV SD Muhammadiyah PK Kottabarat  Solo sukses meraih Silver Award dalam Final Round Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2019 yang digelar di Phuket, Thailand, (Jumat-Senin, 5-8 April 2019).

Siswa tersebut lolos ke babak final di Thailand setelah meraih silver award saat final heat round Indonesia pada 13 Oktober 2018 yang lalu. Materi yang dilombakan meliputi berpikir logis , aritmatika / aljabar, teori angka, geometri, dan combinatorics. Tiap jenis materi tersebut terdiri dari enam soal.

Final round Thailand Internasional Mathematical Olympiad (TIMO) diikuti oleh ratusan peserta yang berasal dari empat belas negara, yaitu Hong Kong, Cina, Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Ukraina, Filipina, Kirgistan, Iran, Taiwan, Vietnam, Myanmar, dan Kamboja. Peserta lomba terdiri dari Primary 1 hingga senior secondary.

Kegiatan Final Round dibagi menjadi tiga kegiatan utama.  Hari pertama diisi dengan uji coba lomba yang diselenggarakan di Duangchanok Hall. Kegiatan hari ke dua, yaitu lomba utama yang diselenggarakan di Headstart International School.  Sedangkan hari ke tiga, prize award ceremony, yaitu penyerahan hadiah yang bertempat di gedung Siam Niramit. 

Danendra mengaku menyukai pelajaran Matematika sejak kelas I SD. Ia selalu merasa tertantang setiap kali menghadapi soal-soal Matematika. Untuk persiapan menghadapi olimpiade internasional, ia setiap hari belajar latihan soal selama satu jam. "Saya belajar soal-soal didampingi papa karena beliau juga senang berhitung dan logika," ungkap putra pasangan Sakti Sulistiyarso Kusumo dan Aryani Sri Sunarti ini.

Kedua orang tua Danendra ikut mendampingi final di Thailand. Mereka sangat terharu dengan prestasi anaknya. "Kami selalu memotivasi Dane supaya fokus pada apa yang menjadi minatnya, dan alhamdulillah bisa berprestasi di tingkat internasional", ungkap Aryani Sri Sunarti.

Muhamad Arifin, selaku Wakasek Bidang Kesiswaan dan Humas berharap bahwa prestasi ini bisa menjadi motivasi keluarga besar SD Muhammadiyah PK Kottabarat untuk terus bekerja  keras. "Kesuksesan hari ini di level internasional semoga lebih memotivasi siswa yang lain untuk bisa berprestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik", imbuhnya. (nisa)

Sumber: Muhamad Arifin / Humas SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo

 


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16306-detail-siswa-sd-muhammadiyah-kottabarat-raih-silver-award-di-thailand.html

Suara Muhammadiyah Akan Resmikan SM Corner Kuala Lumpur

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Toko Suara Muhammadiyah sesuai dengan agenda yang telah ditetapkan, rencana akan membuka dan meresmikan SM Corner di Kuala Lumpur, Malaysia. Rencana peresmian ini akan dilaksanakan pada Ahad, 14 April 2019.

Menurut Deni Asyari, Direktur Suara Muhammadiyah, pembukaan SM Corner Kuala Lumpur ini, merupakan pembukaan cabang outlet pertama di luar negeri.

“InsyaAllah SM Corner di Kuala Lumpur yang akan diresmikan tanggal 14 April ini, merupakan SM Corner pertama di luar negeri,” tutur Deni.

Sesuai dengan konsep pengembangan toko jejaring yang kini sedang dikembangkan oleh Suara Muhammadiyah, selain sudah berdiri 30 an outlet SM Corner di Indonesia, juga akan dikembangkan SM Corner cabang luar negeri. Apalagi menurut Deni, potensi pasar untuk masyarakar Muslim dan kalangan akademis, relatif besar di luar negeri.

“Belakangan ini, banyak sekali teman-teman di luar negeri, mencari produk-produk Suara Muhammadiyah, terutama sekali buku-buku bacaan. Maka dengan dibukanya outlet SM Corner cabang luar negeri, dapat mempermudah akses masyarakat internasional terhadap produk Suara Muhammadiyah,” tambahnya.

Selain itu, keberadaan SM Corner di luar negeri, juga mempercepat dakwah Muhammadiyah di dunia Internasional, sebagaimana yang saat ini menjadi program Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Terkait peresmian SM Corner di Kuala Lumpur ini, akan diresmikan oleh Prof Dr Yunahar Ilyas, Lc, MA Ketua PP Muhammadiyah dan didampingi tim Suara Muhammadiyah. Kegiatan peresmian akan dimeriahkan dengan pengajian akbar Muhammadiyah di Kuala Lumpur bersama Buya Yunahar Ilyas.

Adapun lokasi SM Corner ini rencananya, beralamat di Pesiaran Keliling, Bangi Gateway, Seksyen 15, 43650, Bandar Baru, Bangi, Malaysia. (red)


Link Terkait: http://www.suaramuhammadiyah.id/2019/04/11/suara-muhammadiyah-akan-resmikan-sm-corner-kuala-lumpur/

MPM PP Muhammadiyah Dorong TPSP Piyungan Menjadi Destinasi Wisata Sosial

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Peliknya permasalahan sampah di DIY, khususunya di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan Bantul mendapat perhatian serius oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Lewat diskusi rutin pemberdayaan masyarakat, pada (5/4) di Gedoeng Moehammadiyah, MPM PP Muhammadiyah berkomitmen mendorong TPST Piyungan sebagai destinasi wisata sosial.

“MPM PP Muhammadiyah sudah mengindentifikasi permasalahan ini agar tidak menjadi boom waktu. MPM sudah hadir mendampingingi para pemulung TPST Piyungan sejak April 2016 dengan mendeklarasikan Komuniatas Mardiko yang anggotanya mencapai 500 lebih,” sebut Muh. Nurul Yamin, Ketua MPM PP Muhammadiyah.

Nurul Yamin menyebutkan, persoalan sampah di D.I. Yogyakarta sudah sangat kompeks dari hilir ke hulunya penuh dengan problem, baik menyangkut menyangkut apek sosiologis terkait edukasi masyarakat, menyangkut teknologi tata kelola sampah, dan menyangkut tentang kebijakan tata kelola sampah.

“Hal ini menjadi perhatian kita, tetapi yang tidak boleh di lupakan juga adalah para pemulung di TPST Piyungan yang sekitar 500-600 orang mengandalkan kehidupannya dari sampah,” sebutnya.

Menutut Nurul Yamin, solusi terbaik adalah dengan menempatkan temen-temen yang ada di Piyungan itu sebagai subjek penyelesai masalah bukan sekedar objek penyelesaian masalah. Dengan demikian,  partisipasi dalam konteks penyelesaian persoalan sampah ini bisa di lakukan secara holistik, sinergis dan intergratif.

“Karena persoalan sampah di TPST Piyungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama sebagai mayarakat yang mencintai Yogyakarta. Sehingga nantinya bisa didapatkan solusi terbaik atas permasalahan sampah di TPST,” katanya.

Menurut Dosen Pasca Sarjana UMY ini, TPST Piyungan punya dua sisi yang menarik, satu sisi adalah lokasi yang penuh dengan sampah. Tetapi di sisi lain menjadi objek spot foto atau selfi yang menarik bagi pengunjung.

Atas dasar itulah MPM PP Muhammadiyah mendorong TPST Piyungan menjadi destinasi wisata sosial bagi masyarakat.

 “TPST di sisi lain menyimpan potensi sebagai wisata. Hal inilah yang sedang kita design dan diskusikan kedepannya. Selain kami juga terus konsen mendampingi Mardiko,” kata Nurul Yamin.

Selain mendorong TPST Piyungan menjadi destinasi wisata sosial, MPM PP Muhammadiyah juga terus mendorong agar masyarakat di sekitar TPST Piyungan berorientasi pada tumbuhnya sektor ekonomi khusunya non pemulung sehingga nantinya apabila ada teknologi pengelolaan sampah mereka tetap menjadi subjek penyelesai masalah. 

Dalam diskusi yang membahas tema “Sampah Serapah: Akar Masalah dan Solusi TPST Piyungan” itu, MPM PP Muhammadiyah menghadirkan Kuncoro Hadipurnomo (Kepala Balai Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY), Maryono (Ketua Komunitas Pemulung Mardiko TPST Piyungan), dan Yuningtyas (Sosiolog UNS). (Andi)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16295-detail-mpm-pp-muhammadiyah-dorong-tpsp-piyungan-menjadi-destinasi-wisata-sosial.html

Tingkatkan Internasionalisasi, MIP UMY Luncurkan Program Double Degree

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL - Hubungan internasional suatu negara menjadi hal yang penting, agar dapat bertahan dan memperoleh kesejahteraan. Begitu pula dengan Indonesia, yang juga dirasa masih perlu memperkuat hubungan internasionalnya, salah satunya melalui sektor penelitian dan pendidikan.

Hal tersebut disampaikan Purwanto Subroto, Kasubdit Kerjasama Perguruan Tinggi Direktorat Pembinaan Kelembagaan Perguruan Tinggi DITJEN Kelembagaan IPTEK DIKTI, dalam acara Workshop International Curriculums, International Accreditation & Launching Double Degree Programs, Magister Ilmu Pemerintahan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Gedung KH Ibrahim E6 lantai 5 Kampus Terpadu UMY, pada Jum'at (5/4).

"Pendidikan memiliki kekuatan yang besar untuk memperkuat hubungan internasional Indonesia contohnya dengan melakukan kerjasama antar universitas seperti, student exchange, summer school, international seminar, beasiswa internasional, joint degree, double degree dan lainya. Ini juga merupakan aspek penting dalam meningkatkan reputasi Indonesia di mata dunia," jelas Purwanto.

Atas hal tersebut Purwanto mengapresiasi Universitas Muhammadiyah Yogyakata (UMY) yang baru saja me-launching program Double Degree Magister Ilmu Pemerintahan (MIP) pada (5/4) di gedung KH Ibrahim UMY.

Menanggapi hal tersebut Achmad Nurmandi, Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Internasional UMY, mengatakan bahwa sebagai universitas muda dan mendunia, UMY akan terus meningkatkan kualitas mahasiswa maupun pengajarnya untuk ikut berkontribusi bagi Indonesia dalam dunia internasional.

"Kami akan terus membuktikan UMY sebagai kampus muda dan mendunia itu adalah fakta. Dengan selalu meningkatkan program internasionalnya untuk menjadi yang terbaik," jelasnya.

Program MIP Double Degree UMY ini akan memberikan pengalaman internasional bagi mahasiswa dengan kurikulum yang akan menempatkan mahasiswa di luar negeri selama 1 tahun yaitu semester 2 dan semester 3. MIP Double Degree UMY telah terakreditasi oleh Ristekdikti dan didukung oleh Asia Pasifik Society for Public Affair (APSPA) juga bekerjasama dengan Academics Thammasat University Thailand , Universitas Utara Malaysia, Universitas Putra Malaysia, Asia University Taiwan, Khon Kaen Unversity Thailand, dan lainya. (BHP UMY/Pras)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16291-detail-tingkatkan-internasionalisasi-mip-umy-luncurkan-program-double-degree.html

Aksi Profetis Kiai Dahlan Hasilkan Banyak Kebaikan

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL -- Muhammadiyah lahir bersama spirit penyadaran perubahan nasib, hak sehat, hak cerdas, dan hak memperoleh pendidikan. Sehingga sedari awal usianya, Muhammadiyah menjalin kolaborasi atau taawun dengan berbagai pihak, termasuk dengan kelompok yang berlatarbelakang agama berbeda, Belanda misalnya.

Hal tersebut dipaparkan oleh Abdul Munir Mulkhan, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta pada acara "Seminar Kebangsaan dan Kemuhammadiyahan" pada Kamis (4/4) di Ruang Rapat Pascasarjana UMY.

Menurutnya, semua gerakan sosial yang dilakukan Muhammadiyah bukan untuk mengislamkan semua orang atau memuhammadiyahkan semua muslimin.

"Semua kegiatan dilakukan semata demi pemuliaan martabat manusia, untuk kepentingan kemanusiaan," katanya.

Munir menambahkan, semua hal tersebut adalah buah dari penanaman modal dasar yakni inti teologi Al-Ma'un yang selalu mengajarkan untuk memperjuangkan kepentingan kemanusiaan.

"Semua karena aksi profetis Kiai Dahlan ketika mendirikan Muhammadiyah, sehingga banyak lahir kebaikan. Sekarang, setelah melewati satu abad, semoga organisasi kita tidak kehilangan jangkar pemihakan rakyat kecil, sibuk pada aura kekuasaan atau fasilitas amal usahanya," harap Munir. (nisa)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16286-detail-aksi-profetis-kiai-dahlan-hasilkan-banyak-kebaikan.html

KH. Sudja, Pelopor Spirit Kerja Kemanusiaan

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL --Tokoh-tokoh yang menjadi pejuang Muhammadiyah generasi awal yakni lahir dari trah KH. Hasyim, yakni H. Zaini, Ki Bagus Hadikusumo, KH Fakhruddin dan KH. Sudja. Ke-empat tokoh tersebut menjadi generasi pertama yang ikut berjuang bersama KH. Ahmad Dahlan.

"KH Dahlan, dengan ajaran teologi Al-Ma'un yang diajarkan kepada para muridnya, mampu melahirkan sosok pemikir dan pemimpi yang melampaui batas, salah satunya KH. Sudja", kata Mukti Fajar, cicit dari KH. Sudja dalam acara seminar  "KH. Sudja dan Pemihakan Kaum Mustadh'afin"  pada Kamis (4/4) di Ruang Seminar Pascasarjana UMY.

Mukti menceritakan bahwa KH. Sudja memang bukan sosok orator yang suka tampil di muka umum, namun KH. Sudja lebih suka bergulat di belakang layar menjadi pemikir dan konseptor. KH. Sudja adalah seorang sosok yang memiliki mimpi yang sangat tinggi. Impian tentang mendirikan rumah sakit berawal dari ajaran KH. Dahlan tentang teologi Al-Ma'un.

"Inti sari dari pembelajaran tentang surat Al-Ma'un mendorong KH. Sudja memiliki  impian yang sangat besar yakni ingin mendirikan hospital (rumah sakit), armenhuis (rumah miskin) dan wesshuis (rumah yatim). Walaupun mimpinya tersebut ditertawakan oleh banyak orang karena dianggap tidak masuk akal, namun pada 1938, ia berhasil menginisiasi pendirian PKU hingga sekarang Muhammadiyah memiliki 105 rumah sakit," paparnya.

Malik menambahkan, kerasnya KH. Dahlan mendorong para murid untuk mampu mengamalkan apa yang sudah diajarkan, sangat berpengaruh dalam melahirkan pemikir dan sosok pejuang Muhammadiyah.

"Sikap dan pikiran KH. Dahlan sangat luar biasa melahirkan banyak buah pikiran kemanusiaan, bagaimana menegakkan kebaikan di atas alasan kemanusiaan, tidak terhalang perbedaan agama atau apapun. Semoga kita bisa meniru spirit kerja kemanusiaan yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita," ujarnya. (nisa)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16285-detail-kh-sudja-pelopor-spirit-kerja-kemanusiaan.html

UMY Diharap Menjadi Lokomotif Pergerakan Islam yang Menuju Kemajuan

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL – Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto mengatakan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta  (UMY) diusianya ke -38 sudah menjadi the rising star, unversitas yang membanggakan. 
 
“Ketika UMY meraih akreditasi institusi A maka UMY laris untuk menjadi konsultan bagi UM yang lain. Salah satunya UM Sumatra Utara yang mendapat akreditasi A, sehingga saat ini Muhammadiyah sudah ada 6 PTM yang akreditasinya A,” ungkap Agung ketika memberikan sambutan dalam acara Rapat Senat Terbuka Laporan Tahunan Rektor dan Pidato Milad UMY ke-38  bertempat di Gedung AR Fachruddin B UMY, Kamis (28/3).  
 
Menurutnya, kinerja yang dilakukan Rektor didukung oleh Civitas Akademika UMY, belakangan ini semakin menunjukkan hasil yang baik. 
 
“Mudah-mudahan akan semakin banyak professor yang dihasilkan UMY ini dan potensi UMY untuk berkembang juga memiliki landasan yang begitu kuat,” kata dia.
 
Agung melanjutkan, UMY saat ini memang sudah dalam tahapan untuk berkembang bukan lagi mencari mahasiswa karena jumlah pendaftarnya setiap tahunnya meningkat. Dari sekitar 35000 pendaftar, yang diterima hanya 5000 calon mahasiswa.
 
“Apalagi para alumni juga mulai muncul dipermukaan, salah satunya Bapak Lalu Muhammad Iqbal yang menjadi Duta Besar di Turki. Mudah-mudahan banyak alumni yang kedepannya memberikan pengabdiannya untuk bangsa dan negara kita,” lanjut Agung.  
 
Agung berharap momentum milad UMY yang ke-38 ini bisa semakin maju, berkembang, dan menjadi lokomotif bagi pergerakan Islam yang ada di Indonesia menuju kepada kemajuan. (Syifa)

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16236-detail-umy-diharap-menjadi-lokomotif-pergerakan-islam-yang-menuju-kemajuan.html

Dubes Indonesia untuk Turki Paparkan Keteladanan KH Ahmad Dahlan

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL -- Sedari lahir, Muhammadiyah telah terbiasa memperjuangkan yang terbaik dan melakukan upaya-upaya pencerahan. Melalui KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah hadir menjadi organisasi tajdid yang berkemajuan.
 
Hal tersebut disampaikan oleh Lalu Muhammad Iqbal, Dubes RI untuk Turki yang juga merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Iqbal mengatakan, banyak sekali contoh yang bisa diteladani dari sosok KH. Ahmad Dahlan. Baik meneladaninya dari kacamata pemimpin, ulama, maupun sebagai pelajar.
 
"KH. Ahmad Dahlan tidak hanya muslim yang alim, tapi juga saleh. Dan luar biasanya beliau mampu mentransformasi kesalehan individu ke dalam kesalehan sosial, yakni melalui Muhammadiyah dengan mewujudkan berbagai macam AUM yang berguna untuk masyarakat," kata Iqbal saat menyampaikan pidato milad ke-38 UMY pada Kamis (28/3) di Ruang Sidang AR Fachrudin B.
 
Ia melanjutkan, selain itu, sisi teladan lain yakni saat KH. Dahlan masih seorang pelajar. 
 
"Kita tahu bagaimana saat masih menjadi pelajar, beliau dua kali pergi ke timur tengah untuk menuntut ilmu, lalu dengan pantang menyerah mencoba untuk melahirkan sesuatu yang baru, yakni Muhammadiyah. Itu bukan perjuangan yang mudah, tapi KH Ahmad Dahlan berhasil membawa kita pada pemikiran baru yakni Muhammadiyah, yang kita jaga hingga sekarang," ungkapnya.
 
Iqbal menyampaikan bahwa, betapa KH Ahmad Dahlan telah berhasil menunjukkan kepada kita semua tentang keberhasilan seorang pelajar.
 
"Tanda orang pernah belajar adalah bukan ijazah, tapi tanda hakiki bahwa seseorang pernah belajar adalah merasa tercerahkan. Hal ini sangat tercermin dari pribadi KH Ahmad Dahlan, beliau belajar lalu berusaha untuk mencerahkan yang lain, kita semua.  Semoga kita bisa menjadi pembelajar yang baik sepanjang hayat," ucapnya. (nisa)

Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16237-detail-dubes-indonesia-untuk-turki-paparkan-keteladanan-kh-ahmad-dahlan.html

Syamsuhadi Irsyad, Rektor UM Purwokerto Tutup Usia

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Sosok karismatik dan sederhana, serta pengabdi di dunia pendidikan Muhammadiyah telah tutup usia. Jasanya membentang tidak akan lekang dalam ingatan. Syamsuhadi Irsyad yang akrab di sapa Pak Syamsu, Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) tersebut tutup usia dalam umur 80 tahun di Ruang ICU RS Margono Soekarjo, Puwokerto pada Kamis (28/3) sekitar pukul 08.30 WIB.

Pria kelahiran Sleman, 21 Januari 1940 ini dikenal sebagai sosok pengayom bagi orang disekitarnya, terlebih civitas akademika UMP, banyak yang menganggap dirinya sebagai bapak, lantaran pribadinya yang penuh inspirasi dan bijaksana. Ditangannya, UMP disulap menjadi Universitas unggulan yang mampu bersaing dengan universitas-universitas besar disekelilingnya.

Selain kiprahnya di Muhammadiyah, Pak Syamsu sang abdi pendidikan Muhammadiyah ini juga aktif di Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Selain itu, beliau juga sempat menjabat sebagai Wakil Ketua Mahkamah Agung RI Bidang Non-Yudisial, Ketua Muda Mahkamah Agung RI Urusan Lingkungan Peradilan Agama, Hakim Agung pada Mahkamah Agung RI, Direktur Pembinaan Badan Peradilan Agama Departemen Agama RI, Ketua Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Jawa Barat di Bandung, dan Ketua PTA DKI Jakarta.

Dalam bidang pendidikan, Pak Syamsu menempuh studi Strata Satu Syariah Jurusan Hadis di Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, tahun 1973, kemudian melanjutkannya pada studi S-1 Hukum Jurusan Keperdataan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), 1989-1992.

Selanjutnya, Program master Ilmu hukum berhasil diraihnya di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), 1994-1998, sedangkan program Doktoral Ilmu Hukum di Universitas Indonesia (UI). Ilmu Hukum lah yang mengantarkannya memasuki dunia birokrasi di lingkungan kerja Pengadilan Agama.

Jalan panjang yang dilalui Pak Syamsu mengantarnya terpilih sampai tiga kali untuk posisi jabatan rektor UMP. Syamuhadi Irsyad membawa kemajuan yang signifikan bagi UMP. Bapak bagi segenap civitas akademika UMP ini pada pidato pelantikan pada tahun 2015 lalu berikrar bahwa, dengan ridho Allah SWT setiap langkah yang dilakukan merupakan iktiar dan pelepasan dari kehendak keduniaan, demi cita-cita pencerahan untuk Indonesia yang berkemajuan.

Kini, jasad mu terpisah namun jasa mu tetap utuh dan menyatu dengan semua pejuang yang menyambung cita-cita besar mu. Pak Syamsu, teknokrat karismatik, ahli hukum dan sang abdi didik Muhammadiyah. (a'n)


Link Terkait: http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16234-detail-syamsuhadi-irsyad-rektor-um-purwokerto-tutup-usia.html